Showing posts with label S. Show all posts
Showing posts with label S. Show all posts

Biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo - Pahlawan Militer Asal Kebumen

Anonymous Add Comment

    Profil Sutoyo Siswomiharjo    

Biografi Mayor Jenderal Sutoyo SiswomiharjoNama Lengkap : Sutoyo Siswomiharjo

Tempat Lahir : Kebumen, Jawa Tengah

Tanggal Lahir : Rabu, 28 Agustus 1922

Zodiac : Leo

Meninggal : Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 (umur 43)

Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta

Warga Negara : Indonesia

Anak : Agus Widjojo


    Biografi Sutoyo Siswomiharjo    

Pahlawan revolusi yang satu ini adalah pahlawan asal Kebumen, Jawa Tengah yang telah gugur dalam peristiwa G30S seperti rekan-rekan yang lainnya. Pahlawan yang gagah berani dengan kemampuan dan tekadnya dalam melawan pemberontakan yang terjadi terhadap bangsa Indonesia. Untuk lebih jelas dalam mengenal sosok pahlawan ini, berikut akan diulas biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo pahlawan revolusi asal Kebumen.

Jenderal Sutoyo yang dipromosikan sebagai Anumarta TNI saat sepeninggalnya dalam peristiwa G30S ini, tertulis dalam biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, telah lahir di Kota Kebumen tanggal 28 Agustus 1922. Ia adalah pahlawan yang memiliki usia sedikit lebih tua dibandingkan dengan rekan-rekannya. Ia meninggal di peristiwa G30S tanggal 1 Oktober tahun 1965 dengan usianya mencapai 43 tahun. Ia adalah salah satu perwira yang memiliki pangkat tinggi di TNI Angkatan Darat (TNI-AD).

Dalam buku sejarah tentang biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo disebutkan bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya di sekolah sebelum para invasi Jepang datang ke Indonesia tahun 1942. Panglima Jenderal Sutoyo melakukan kegiatan belajar dengan mempelajari tentang penyelenggaraan pemerintahan yang ada di Jakarta, lalu ia melanjutkan dengan bekerja sebagai salah satu pegawai di pemerintahan Kota Purworejo. Akan tetapi tahun 1944 ia pun dengan tegas mengundurkan diri. Dalam masa penggabungannya dengan Polisi TKR setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, tahun 1946 Jenderal Sutoyo diangkat menjadi salah satu ajudan dari Kolonel yang bernama Gatot Soebroto. Beliau adalah Komandan Polisi Militer. Tahun 1954 Jenderal Sutoyo mengalami kenaikan pangkat yaitu sebagai salah satu kepala staf di Polisi Militer dengan bertugas di Markas Besar didalamnya. Selama dua tahun tugasnya dipenuhi dengan bijak dan bertanggung jawab, namun setelah itu kemudian ia pun diangkat sebagai asisten di kedutaan militer besar Indonesia yaitu di London yang bernama Atase Militer. Tahun 1959-1960 Jenderal Sutoyo melanjutkan pelatihan sebagai Komando AD dan sekolah staf di Bandung. Kemudian ia pun diangkat menjadi salah satu inspektur kehakiman dari AD dan di tahun 1961 ia resmi menjadi Jaksa Militer Utama/Inspektur kehakiman Utama. Ini adalah salah satu kerja kerasnya dalam belajar dan bekerja keras dalam mencapai cita-citanya.

Tepat di tanggal 1 bulan Oktober 1965, dalam peristiwa G30S yang telah dipimpin oleh Sersan Mayor bernama Suyono masuk mengendap-endap dengan meminta kunci secara paksa kepada salah satu pembantu dari Panglima Sutoyo. Tepat di jalan Sumenep menteng, Jakarta Pusat melalui garasi samping rumah Sutoyo pasukan G30S berbohong dengan berkata bahwa Sutoyo telah dipanggil oleh Soekarno. Lalu jenderal Sutoyo dibawa ke markas Jepang yang ada di Lubang Buaya, kemudian jenderal pun dibunuh dan jasadnya dibuang di sumur tua yang sudah tidak terpakai lagi. Dan tanggal 4 Oktober tahun 1965 jasadnya pun kemudian ditemukan dan dimakamkan di makam Taman Pahlawan di Kalibata. Sehingga dalam biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo tertulis bahwa beliau gugur sebagai salah satu pahlawan revolusi yang di promosikan sebagai Anumarta Mayor Jenderal untuk mengenang akan jasa-jasa beliau.

Baca juga : Biografi Kolonel Sugiono - Menembus Batas Pengabdian

    Pendidikan Sutoyo Siswomiharjo    

  • Balai Pendidikan Pegawai Negeri Jakarta
  • AMS
  • HIS

    Karir Sutoyo Siswomiharjo    

  • Kepala Organisasi Resimen II PT (Polisi Tentara) Purworejo, 1946
  • Kepala Staf CPMD Yogyakarta, 1948-1949
  • Komandan Batalyon I CPM, 1950
  • Danyon V CPM, 1951
  • Kepala Staf MBPM, 1954
  • Pamen diperbantukan SUAD I, 1955-1956
  • Asisten ATMIL di London, 1956
  • Berpangkat Kolonel dan menjabat sebagai IRKEHAD, 1961
  • Berpangkat Brigjen, 1964

    Penghargaan Sutoyo Siswomiharjo    

  • Pahlawan Revolusi (Keppres No. 111/KOTI/1965)
Itulah ringkasan serta ulasan tentang biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, semoga informasi dan wacana diatas dapat bermanfaat bagi yang membaca biografipahlawan.com.

Biografi Kolonel Sugiono - Menembus Batas Pengabdian

Anonymous Add Comment

    Profil Legkap Sugiono    

Biografi Kolonel Sugiono
Nama Lengkap : Sugiyono Mangunwiyoto

Tempat Lahir : Gedaren, Sumbergiri, Ponjong, Gunung Kidul

Tanggal Lahir : Kamis, 12 Agustus 1926

Meninggal : Kentungan, Yogyakarta, 1 Oktober 1965 (umur 39)

Makam : Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta

Zodiac : Leo

Warga Negara : Indonesia




    Biografi Legkap Sugiono    

Kolonel Sugiono dilahirkan dengan nama R. Sugiono Mangunwiyoto terlahir pada 12 Agustus 1926 di Gedaren, Sumbergiri, Ponjong, Gunung Kidul. Walaupun terlahir dari daerah yang dikenal dengan ketertinggalan saat itu dan minim sumber mata air, namun Sugiono muda tetap memiliki cita-cita yang tinggi. Biografi Kolonel Sugiono memberi semangat pada kita tentang pentingnya menatap masa depan lebih baik dari hari sebelumnya. Hal ini dibuktikan oleh Sugiono dengan ketekunannya dalam belajar demi meraih cita-citanya menjadi seorang Guru. Dengan tekun Ia mengikuti pendidikan Sekolah dasar, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama. Guna mewujudkan cita-citanya, kemudian Ia melanjutkan ke Sekolah Guru Pertama di Wonosari.

Suratan takdir atas R. Sugiono Mangunwiyoto berbicara lain. Sebelum Ia selesai dalam pendidikan di sekolah Guru, Tentara Jepang menduduki Tanah Air dan memberlakukan wajib militer bagi anak-anak muda. Sugiono terpaksa mengubur impiannya untuk menjadi seorang Guru dan mengikuti pendidikan sebagai tentara di Pembela Tanah air (PETA). Dalam biografi Kolonel Sugiono disebutkan, selepas menyelesaikan pendidikan di PETA, Ia diangkat sebagai Budancho (komandan Peleton) di Wonosari. Selepas masa proklamasi, Ia tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mengawali karir sebagai komandan seksi. Ia diangkat menjadi ajudan Komandan Brigade 10 di bawah Letnan Kolonel Suharto pada tahun 1947.

Pada 1 Maret 1949 terjadi serangan umum terhadap Yogyakarta pada peristiwa Agresi Militer II. Ia turut serta dalam keberhasilan pasukan menghentikan agresi militer II tersebut yang mampu merubah penilaian dunia internasional terhadap kekuatan RI. Biografi Kolonel Sugiono menceritakan tentang keikutsertaan beliau dalam Gerakan Operasi Militer (GOM) III dalam rangka memadamkan pemberontakan KNIL di wilayah Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Andi Aziz. Berpindah tempat dan berganti jabatan adalah hal yang lumrah dalam karir militer. Karirnya terus menanjak, hingga pada bulan Juni tahun 1965 berpangkat Letnan Kolonel Sugiono dan menjadi Kepala Staf komando Resort Militer (Korem) 072 Kodam VII Diponegoro di Yogyakarta yang sekarang menjadi Kodam IV/ Diponegoro dibawah pimpinan Kolonel Katamso.

Pada Biografi Kolonel Sugiono dijelaskan, bahwa situasi tahun 1965 sedang terjadi krisis yang diakibatkan oleh ulah PKI. Terjadi agitasi dan infiltrasi yang dilakukan PKI baik di tubuh TNI maupun kekuatan politik lainnya. PKI berhasil melakukan provokasi dan mobilisasi pada petani dan buruh di daerah seperti Yogyakarta yang menjadi arena percobaan mereka untuk mempersiapkan pemberontakan. PKI juga mengusulkan kepada pemerintah untuk mempersenjatai sekitar 15 juta massa buruh dan tani yang mereka sebut sebagai Angkatan ke-5. Hal ini ditentang habis-habisan oleh sejumlah Perwira TNI Angkatan Darat, karena bisa memicu perang saudara. Melihat hal ini, PKI menjadikan para perwira TNI Angkatan Darat sebagai musuh yang menghambat tujuan mereka.

PKI benar-benar mempersiapkan pemberontakan secara sistematis, hingga semua lini pemerintahan dari pusat sampai wilayah terkecil desa maupun kelurahan tak luput dari penguasaan mereka. Bahkan mereka juga melakukan penyusupan di tubuh TNI hingga puncaknya mereka melakukan aksi penculikan terhadap para perwira TNI Angkatan darat sebagai sebuah rangkaian pemberontakan. Mencuatlah peristiwa G.30 S PKI yang sangat mencekam dimana para perwira TNI di Jakarta menjadi korban penculikan, penganiayaan dan pembunuhan oleh para PKI. Termasuk juga di Yogyakarta, karena getol melakukan perlawanan terhadap PKI, maka Kolonel Sugiono bersama Komandan Korem 072 yaitu Kolonel Katamso diculik pada 1 Oktober 1965 dan dibunuh oleh PKI di daerah Keuntungan Yogyakarta. Jenazah mereka dimasukkan ke dalam lubang yang telah dipersiapkan oleh PKI. Pencarian besar-besaran dilakukan untuk mencari kedua perwira tersebut hingga Jenazah mereka ditemukan pada 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak. Pada tanggal 22 Oktober mereka berdua dimakamkan di Taman makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Dalam biografi Kolonel Sugiono disebutkan, atas jasanya kepada Negara pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel Infanteri TNI Anumerta Sugiono dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden RI No.118/KOTI/1965 tertanggal 19 Oktober 1965.

    Karir Legkap Sugiono    

  • Komandan Seksi 1 Kompi 2 Batalyon 10 Resimen 3 di Yogyakarta. Pangkat Letnan Dua.
  • Ajudan Komandan Batalyon 30 Resimen 22
  • Ajudan Komandan Brigade 10 Divisi III, Letnan Kolonel Suharto
  • Perwira Operasi Brigade C di Yogyakarta
  • Komandan Kompi 4 Batalyon 411 Brigade C di Purworejo
  • Wakil Komandan Batalyon 441 di Semarang. Saat ini pangkatnya sudah Kapten.
  • Komandan Batalyon 441/Banteng Raiders III. Pangkatnya sudah Mayor.
  • Komandan Komandi Distrik Militer (Kodim) 0718 di Pati.
  • Komandan Kodim di Yogyakarta sekaligus Pejabat Sementara Kepala Staf Korem 072. Pangkatnya sudah Letnan Kolonel.

    Penghargaan Legkap Sugiono    

  • Bintang RI II
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Sewindu ABRI
  • Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer I
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer II
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer IV
  • Satya Lencana Sapta Marga
  • Satya Lencana Satya Dharma
  • Pahlawan Revolusi
Seperti itulah pembahasan biografi Kolonel Sugiyono Pahlawan Revolusi Indonesia. Semoga dengan informasi diatas sahabat bografipahlawan.com dapat mengenal lebih jauh sosok pahlawan kita.

Biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman - Pahlawan Wonosobo Yang Berintelejen Tinggi

Anonymous Add Comment

    Profil Siswondo Parman    

Letnan Jenderal Siswondo Parman Pahlawan Revolusi
Nama Lengkap : Siswondo Parman

Profesi : -

Agama : Islam

Tempat Lahir : Wonosobo, Jawa Tengah

Tanggal Lahir : Minggu, 4 Agustus 1918

Meninggal : Jakarta, 1 Oktober 1965 (umur 47)

Zodiac : Leo

Warga Negara : Indonesia

    Biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman    

Siapa yang tidak tahu pahlawan asal daerah Wonosobo berikut ini. Seorang pahlawan dengan memiliki intelejen dan kegigihan dalam melawan penjajah ini adalah salah satu perwira serta letnan dari 7 letnan yang telah gugur di medan perang saat melawan pasukan PKI dalam peristiwa G30S untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Untuk lebih mengenal sosok pahlawan Wonosobo ini, akan diulas kembali tentang sejarah dan biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman.

Dalam biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman, ia adalah salah satu jenderal yang lahir di Wonosobo tanggal 4 Agustus tahun 1918. Pahlawan Siswono adalah salah satu pahlawan revolusi yang dikenal sangat cerdas dalam intelejennya. Pahlawan yang biasa dikenal dengan namanya S.Parman ini adalah Pahlawan yang gugur dalam peristiwa G30S dan ia pun meninggal diusianya yang ke 47 dalam peristiwa tersebut. Jenderal S.Parman adalah salah satu jenderal yang mengetahui akan banyaknya kegiatan serta taktik dari Pasukan PKI. Ia juga menolak akan terbentuknya kaum dari buruh dan petani yang disebut dengan Angkatan Kelima.

Dalam peristiwa G30S banyak terjadi penculikan yang dilakukan oleh salah satu perwira PKI bernama Resimen Tjakrabirawa termasuk rencana untuk menculik Jenderal Intelejen tersebut. Dan diduga bahwa kakak kandung dari Parman lah yaitu Ir.Sakirman yang menjadi pemimpin Politbiro CC PKI dari peristiwa tersebut. Dalam biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman disebutkan bahwa ia juga pernah singgah dan menempuh pendidikan di SD, SMP, dan sekolah tinggi di bagian kedokteran akan tetapi sebelum lulus Negara Jepang sudah menjajah dan menduduki Negara Indonesia, sehingga ia pun tidak bisa memperoleh gelar dokter tersebut. Kemudian ia pun melanjutkan untuk bekerja di Jawatan Kempeitai. Di tempat tersebut, Jenderal sempat di curigai oleh Jepang dan kemudian di masukan di penjara akan tetapi terbebas juga. Setelah terbebas, ia malah mendapat pendidikan baru di Kenpei Kasya Butai Jepang, dan setelah selesai ia pun kembali ketanah air dan bekerja kembali ke Jawatan Kempeitai.

Kemudian di awal kariernya, Jenderal Parman mengikuti kegiatan kemiliteran dengan masuk dan ikut dalam kegiatan TKR yang dibentuk setelah kemerdekaan dari Indonesia. Desember 1945, jenderal diangkat menjadi salah satu staf di Markas Besar di Yogyakarta sebagai Kepala Staf Polisi Tentara. Kemudian jenderal melakukan perang geriliya dalam melawan penjajah pada Agresi Militer II untuk melawan Belanda. Kemudian di bulan Desember 1949 ia pun dipindah tugaskan di Jakarta Raya untuk menjabat bagian kepala staf Gubernur kemiliteran. Dan salah satu pencapaian yang ia raih adalah pembongkar rahasia dari gerakan Angkatan Perang yang bernama Ratu Adil (APRA). Kegiatan pembongkaran tersebut dipimpin oleh Westerling di Jakarta. Maret 1950, jenderal Parman kemudian diangkat sebagai Kepala Statf G, lalu dikirim ke Negara AS untuk mengikuti adanya pendidikan baru yang bernama Military Police School. Dalam biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman, ia lalu ditugaskan di bagian Kementrian Pertahanan setelah kembali dari AS. Ia diangkat menjadi atasan militer Negara RI di London, dan tahun 1959 di Inggris. Tahun 1964 ia lalu ditugaskan sebagai Asisten I dari panglima atau menteri bagian AD (angkatan darat) dengan memperoleh Pangkat Mayor Jenderal.

Dengan pangkatnya tersebut, ia juga sangat dekat dengan presiden Soekarno dan ia merupakan intelejen yang mengetahui akan rencana PKI dalam membentuk angkatan kelima. Ia lalu dimusuhi oleh para perwira PKI yang mana pada saat itu pengaruh dari pasukan PKI sangat marak untuk para petani dan buruh dari Indonesia. Akhirnya, jenderal pun bersama dengan pasukan AD bersepakat akan menolak dari pembentukan angkatan kelima tersebut. Jenderal Parman pun kemudian disengiti oleh para pasukan PKI dan menjadi sasaran penculikan serta pembunuhannya. Tanggal 1 Oktober 1965 ia pun telah dibunuh dan jasadnya di buang di sumur tua daerah Lubang Buaya. Kemudian ia pun dimakamkan di taman makam pahlawan daerah Kalibata dan gugur sebagai pahlawan revolusi dengan pangkat Letnan Jenderal. Itulah sekilas tentang biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman, semoga informasi serta wacana diatas dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

   PENDIDIKAN   

  • HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Wonosobo
  • MULO (Meer Uitgebried Lager Onderwijs) di Yogyakarta
  • AMS (Algemeene Middelbare School)
  • Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA) di Jakarta
  • Sekolah Tinggi Hukum

   KARIR   

  • Awal karier militer S. Parman dimulai dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Lalu pada akhir bulan Desember 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi (PT) di Yogyakarta.
  • Di bulan Desember 1949 setelah Agresi Militer II Belanda, ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya.
  • Sebelum dikirim di Amerika untuk mengikuti pendidikan di Military Police School, ia diangkat menjadi Kepala Staf G.
  • Setelah ia kembali dari AS, ia ditugaskan di Kementrian Pertahanan untuk kemudian diangkat menjadi Atase Militer RI di London, Inggris tahun 1959. Lima tahun kemudian yaitu pada tahun 1964, ia diserahi tugas sebagai Asisten I Menteri / Panglima Angkatan Darat (Men / Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal

   PENGHARGAAN   

  • Siswondo Parman alias S. Parman mendapatkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Revolusi
Seperti itulah pembahasan mengenai Letnan Jendral Siswondo Parman Pahlawan Revolusi. Semoga dengan informasi diatas sahabat biografipahlawan.com dapat mengenal lebih baik sosok pahlawan indonesia.

Biografi Sukarni yang Pemberani - Pahlawan Nasional

Anonymous Add Comment

   Profil Sukarni   

Biografi Sukarni yang Pemberani - Pahlawan Nasional
Nama : Soekarni Kartodiwirjo
Tempat Lahir : Blitar, Jawa Timur
Lahir : 14 Juli 1916
Meninggal : Jakarta, 7 Mei 1971 (umur 54)
Makam : Taman Makam Pahlawan Kalibata
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia



   Biografi Sukarni   

Ada seorang pemuda yang bernama sukarni kertowirdjo yang merupakan tokoh pemuda atau golongan muda yang sangat berani terhadap kemerdekaan Indonesia melalui aksi aksinya sebagai anak muda. Ia mengawali kisahnya di biografi sukarni dengan bersekolah di mardisiswa yaitu sejenis taman siswa yang didirikan oleh Mohammad Anwar di Semarang. Ia banyak memperoleh pembelajaran tentang pergerakan bangsa dan negara melalui taman siswa tersebut. Ia termasuk anak yang sangat nakal dan suka sekali berbuat onar di asa kecilnya. Ia sering berkelahi dan tawuran. Bahkan ia sering menantang berkelahi anak-anak keturunan Belanda di kota tersebut.

Biografi sukarni berlanjut dengan ia pernah di masa kecilnya mengajak puluhan temanya untuk mengirim surat tantangan untuk berkelahi bagi anak nak muda Belanda waktu itu. Tantangan itu diterima oleh anak anak Belanda dan akhirnya terjadilah tawuran besar di sebuah kebun raya waktu itu. Akhirnya tawuran dimenangkan oleh kelompok sukarni. Sukarni pun dikeluarkan dari sekolah dan dia tidak menyerah untuk belajar. Ia melanjutkan sekolah di Yogyakarta dan ia juga lalu pindah ke Jakarta untuk bersekolah. Hal ini berkat kak Bung Karno yang lalu memasukkan sukarni ke Sekolah jurnalistik di Bandung.

Biografi kisah sukarni terus berlanjut dengan kisah menarik sukarni lainnya. Salah satu jasa sukarni yang terkenal adalah ketika terjadi peristiwa rengasdengklok. Peristiwa rengasdengklok adalah peristiwa yang terjadi akibat kurangnya pemahaman antara kaum muda dan tua pada waktu itu. Akhirnya sukarni dan kawan-kawannya mencoba mendesak Soekarno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia namun mereka menolak. Akhirnya kaum muda pun menculik keduanya ke rengasdengklok dengan tuan agar menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang.

Selanjutnya biografi sukarni juga membuat banyak kisah heroik sukarni yang sangat gigih dalam melawan pergerakan Belanda melalui aksi-aksinya di kancah politik pemerintah saat ia lalu menjabat sebagai seorang politisi di partai murba yang didirikannya dan diketuai olehnya. Partai ini merupakan partai nasionalis yang membawa perubahan Indonesia lebih baik terutama dalam hal mempertahankan kemerdekaannya. Sukarni bahkan sering dipenjara karena perjuangannya.

Bahkan ketika Soekarni mencoba menasehati Bung Karno tentang gerakan PKI di istana Bogor ia malah ditangkap dan selanjutnya partai ini dibekukan oleh pemerintah. Namun akhirnya setelah sukarni bebas, pembekuan partai ini sudah berakhir lalu partai ini kembali aktif. Jasa sukarni ini lalu dianggap begitu penting hingga akhirnya presiden Joko Widodo memberikan ia gelar bintang mahaputra kelas empat yang ditujukan pada perwakilan keluarganya. 

   Karir Sukarni   

  • Ketua Partai Murba
  • Duta Besar Indonesia di Peking
  • Anggota Badan pekerja KNI Pusat
  • Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA, 1967)

   Penghargaan Sukarni   

  • Bintang Mahaputra kelas empat
  • Pahlawan Nasional
Demikian Biografi Sukarni yang sempat biografipahlawan.com sajikan kepada pembaca. Ia adalah sosok pemuda yang berjuang hingga akhir hayatnya. semoga dapat bermanfaat dan menjadi tauladan atas kegigihannya.

Biografi Sayuti Melik: Wartawan Sekaligus Politikus Bangsa

Anonymous 2 Comments

   Profil Sayuti Melik   

Biografi Sayuti Melik: Wartawan Sekaligus Politikus Bangsa
Nama : Mohammad Ibnu Sayuti
Tempat Lahir : Sleman, Yogyakarta
Lahir : 22 November 1908
Meninggal : Jakarta, 27 Februari 1989 pada umur 80 tahun
Makam : TMP Kalibata
Agama : Islam
Pekerjaan : Wartawan Politisi
Warga Negara : Indonesia

   Biografi Sayuti Melik   

Bung Karno dan Bung Hatta memang merupakan actor dalam kemerdekaan Indonesia. namun saat menandatangani naskah proklamasi, Bung Karno dan Bung Hatta menuliskan atas nama bangsa Indonesia. dari situlah dapat diketahui jika perjuangan kemerdekaan Indonesia dilakukan oleh berbagai pihak dan kalangan terutama oleh rakyat Indonesia sendiri. Salah satu pejuang pendukung kemerdekaan adalah sayuti Melik. Kebanyakan orang mengenal Sayuti Melik karena jasa beliau dalam mengetik naskah proklamasi. Berdasarkan Biografi Sayuti Melik, beliau tidak hanya berjasa sebagai pengetik naskah proklamasi. Masih banyak jasa beliau bagi bangsa.

Nama asli beliau adalah Mohammad Ibnu Sayuti. Beliau dilahirkan di Sleman 22 November 1908. Orang tuanya bernama Abdul Mu'in alias Partoprawito dan Sumilah. Istri beliau bernama Soerastri Karma. Istri Sayuti Melik merupakan seorang aktivis perempuan sekaligus wartawan. Dalam Biografi Sayuti Melik disebutkan pendidikan beliau di mulai dari Sekolah Ongko Loro (SD) di Srowolan Solo hanya sampai kelas 4 dan kemudian dilanjutkan di Yogyakarta. Sejak masih muda beliau merupakan penulis yang mampu membuat belanda merasa terganggu, kisah hidup Sayuti melik juga diwarnai dengan penahanan berkali-kali oleh Belanda. Beliau juga pernah di buang di Boven Digul (1927-1933) karena dianggap terlibat dengan PKI oleh Belanda. Selama satu tahun beliau juga pernah ditawan dan dipenjara di Singapore, pada tahun 1937 beliau [ulang ke Jakarta namun dimasukkan ke sel di Gang tengah hingga 1938.

Beliau juga mendirikan koran Pesat di semarang yang segala bagian redaksi hingga percetakan dan penjualan beliau kerjakan sendiri bersama istrinya. Namun mereka tetap tidak terlepas dari pengasingan. Selama menerbitkan koran tersebut, Sayuti Melik atau istrinya bergantian keluar masuk penjara dan pengasingan. Hal itu dikarenakan tulisan mereka yang tajam dan kritis. Pada kependudukan Jepang tepatnya Putera didirikan, atas bantuan Bung Karno Sayuti Melik dan istrinya dapat bersatu kembali. Selain aktif dalam dunia jurnalis, biografi Sayuti melik juga menyebutkan bahwa dirinya juga menjadi anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia)

Sayuti melik merupakan pemuda ataupun golongan tua yang sangat mendukung segera diproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 16 Agustus 1945, Seokarno dan Hatta di culik dan dibawa ke Rengasdengklok. Penculikan tersebut bertujuan untuk menyakinkan Bung Karno dan Bung Hatta segera menyatakan kemerdekaan Indonesia, ketika Jepang sedang kalah dari sekutu. proklamasi. Setelah terjadi kesepakatan akhirnya naskah proklamasi dirumuskan oleh Bung Karno dan Bung Hatta di rumah Laksmana Muda Maeda. Biografi Sayuti melik menyatakan bahwa dirinya dan sukarni menjadi sanksi dan membantu mereka dalam merumuskan proklamasi. Atas usul Sayuti melik juga proklamasi ditanda tangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Karier politik Sayuti Melik semakin berkembang. Beliau pernah menjabat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sedangkan pada masa orde baru karier politik Sayuti Melik berkembang menjadi DPR pada tahun 1971 hingga 1977. Beliau meninggal pada 27 Februari 1989. Penghargaan yang beliau dapat adalah Bintang Mahaputra (1961) dan BIntang mahaputra Adiprana pada tahun 1973. 

   Karir Sayuti Melik   

  • Anggota DPR/MPR, mewakili Golkar hasil Pemilu 1971 dan Pemilu 1977.

   Penghargaan Sayuti Melik   

  • Menerima Bintang Mahaputra Tingkat V (1961) dari Presiden Soekarno dan Bintang Mahaputra Adipradana (II) dari Presiden Soeharto (1973)
Demikian Biografi Sayuti Melik yang sempat biografipahlawan.com sajikan kepada pembaca, semoga dapat bermanfaat dan menjadi tauladan atas kegigihannya.