Showing posts with label S. Show all posts
Showing posts with label S. Show all posts

Biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo - Pahlawan Militer Asal Kebumen

Anonymous Add Comment

    Profil Sutoyo Siswomiharjo    

Biografi Mayor Jenderal Sutoyo SiswomiharjoNama Lengkap : Sutoyo Siswomiharjo

Tempat Lahir : Kebumen, Jawa Tengah

Tanggal Lahir : Rabu, 28 Agustus 1922

Zodiac : Leo

Meninggal : Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 (umur 43)

Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta

Warga Negara : Indonesia

Anak : Agus Widjojo


    Biografi Sutoyo Siswomiharjo    

Pahlawan revolusi yang satu ini adalah pahlawan asal Kebumen, Jawa Tengah yang telah gugur dalam peristiwa G30S seperti rekan-rekan yang lainnya. Pahlawan yang gagah berani dengan kemampuan dan tekadnya dalam melawan pemberontakan yang terjadi terhadap bangsa Indonesia. Untuk lebih jelas dalam mengenal sosok pahlawan ini, berikut akan diulas biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo pahlawan revolusi asal Kebumen.

Jenderal Sutoyo yang dipromosikan sebagai Anumarta TNI saat sepeninggalnya dalam peristiwa G30S ini, tertulis dalam biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, telah lahir di Kota Kebumen tanggal 28 Agustus 1922. Ia adalah pahlawan yang memiliki usia sedikit lebih tua dibandingkan dengan rekan-rekannya. Ia meninggal di peristiwa G30S tanggal 1 Oktober tahun 1965 dengan usianya mencapai 43 tahun. Ia adalah salah satu perwira yang memiliki pangkat tinggi di TNI Angkatan Darat (TNI-AD).

Dalam buku sejarah tentang biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo disebutkan bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya di sekolah sebelum para invasi Jepang datang ke Indonesia tahun 1942. Panglima Jenderal Sutoyo melakukan kegiatan belajar dengan mempelajari tentang penyelenggaraan pemerintahan yang ada di Jakarta, lalu ia melanjutkan dengan bekerja sebagai salah satu pegawai di pemerintahan Kota Purworejo. Akan tetapi tahun 1944 ia pun dengan tegas mengundurkan diri. Dalam masa penggabungannya dengan Polisi TKR setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, tahun 1946 Jenderal Sutoyo diangkat menjadi salah satu ajudan dari Kolonel yang bernama Gatot Soebroto. Beliau adalah Komandan Polisi Militer. Tahun 1954 Jenderal Sutoyo mengalami kenaikan pangkat yaitu sebagai salah satu kepala staf di Polisi Militer dengan bertugas di Markas Besar didalamnya. Selama dua tahun tugasnya dipenuhi dengan bijak dan bertanggung jawab, namun setelah itu kemudian ia pun diangkat sebagai asisten di kedutaan militer besar Indonesia yaitu di London yang bernama Atase Militer. Tahun 1959-1960 Jenderal Sutoyo melanjutkan pelatihan sebagai Komando AD dan sekolah staf di Bandung. Kemudian ia pun diangkat menjadi salah satu inspektur kehakiman dari AD dan di tahun 1961 ia resmi menjadi Jaksa Militer Utama/Inspektur kehakiman Utama. Ini adalah salah satu kerja kerasnya dalam belajar dan bekerja keras dalam mencapai cita-citanya.

Tepat di tanggal 1 bulan Oktober 1965, dalam peristiwa G30S yang telah dipimpin oleh Sersan Mayor bernama Suyono masuk mengendap-endap dengan meminta kunci secara paksa kepada salah satu pembantu dari Panglima Sutoyo. Tepat di jalan Sumenep menteng, Jakarta Pusat melalui garasi samping rumah Sutoyo pasukan G30S berbohong dengan berkata bahwa Sutoyo telah dipanggil oleh Soekarno. Lalu jenderal Sutoyo dibawa ke markas Jepang yang ada di Lubang Buaya, kemudian jenderal pun dibunuh dan jasadnya dibuang di sumur tua yang sudah tidak terpakai lagi. Dan tanggal 4 Oktober tahun 1965 jasadnya pun kemudian ditemukan dan dimakamkan di makam Taman Pahlawan di Kalibata. Sehingga dalam biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo tertulis bahwa beliau gugur sebagai salah satu pahlawan revolusi yang di promosikan sebagai Anumarta Mayor Jenderal untuk mengenang akan jasa-jasa beliau.

Baca juga : Biografi Kolonel Sugiono - Menembus Batas Pengabdian

    Pendidikan Sutoyo Siswomiharjo    

  • Balai Pendidikan Pegawai Negeri Jakarta
  • AMS
  • HIS

    Karir Sutoyo Siswomiharjo    

  • Kepala Organisasi Resimen II PT (Polisi Tentara) Purworejo, 1946
  • Kepala Staf CPMD Yogyakarta, 1948-1949
  • Komandan Batalyon I CPM, 1950
  • Danyon V CPM, 1951
  • Kepala Staf MBPM, 1954
  • Pamen diperbantukan SUAD I, 1955-1956
  • Asisten ATMIL di London, 1956
  • Berpangkat Kolonel dan menjabat sebagai IRKEHAD, 1961
  • Berpangkat Brigjen, 1964

    Penghargaan Sutoyo Siswomiharjo    

  • Pahlawan Revolusi (Keppres No. 111/KOTI/1965)
Itulah ringkasan serta ulasan tentang biografi Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, semoga informasi dan wacana diatas dapat bermanfaat bagi yang membaca biografipahlawan.com.

Biografi Kolonel Sugiono - Menembus Batas Pengabdian

Anonymous Add Comment

    Profil Legkap Sugiono    

Biografi Kolonel Sugiono
Nama Lengkap : Sugiyono Mangunwiyoto

Tempat Lahir : Gedaren, Sumbergiri, Ponjong, Gunung Kidul

Tanggal Lahir : Kamis, 12 Agustus 1926

Meninggal : Kentungan, Yogyakarta, 1 Oktober 1965 (umur 39)

Makam : Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta

Zodiac : Leo

Warga Negara : Indonesia




    Biografi Legkap Sugiono    

Kolonel Sugiono dilahirkan dengan nama R. Sugiono Mangunwiyoto terlahir pada 12 Agustus 1926 di Gedaren, Sumbergiri, Ponjong, Gunung Kidul. Walaupun terlahir dari daerah yang dikenal dengan ketertinggalan saat itu dan minim sumber mata air, namun Sugiono muda tetap memiliki cita-cita yang tinggi. Biografi Kolonel Sugiono memberi semangat pada kita tentang pentingnya menatap masa depan lebih baik dari hari sebelumnya. Hal ini dibuktikan oleh Sugiono dengan ketekunannya dalam belajar demi meraih cita-citanya menjadi seorang Guru. Dengan tekun Ia mengikuti pendidikan Sekolah dasar, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama. Guna mewujudkan cita-citanya, kemudian Ia melanjutkan ke Sekolah Guru Pertama di Wonosari.

Suratan takdir atas R. Sugiono Mangunwiyoto berbicara lain. Sebelum Ia selesai dalam pendidikan di sekolah Guru, Tentara Jepang menduduki Tanah Air dan memberlakukan wajib militer bagi anak-anak muda. Sugiono terpaksa mengubur impiannya untuk menjadi seorang Guru dan mengikuti pendidikan sebagai tentara di Pembela Tanah air (PETA). Dalam biografi Kolonel Sugiono disebutkan, selepas menyelesaikan pendidikan di PETA, Ia diangkat sebagai Budancho (komandan Peleton) di Wonosari. Selepas masa proklamasi, Ia tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mengawali karir sebagai komandan seksi. Ia diangkat menjadi ajudan Komandan Brigade 10 di bawah Letnan Kolonel Suharto pada tahun 1947.

Pada 1 Maret 1949 terjadi serangan umum terhadap Yogyakarta pada peristiwa Agresi Militer II. Ia turut serta dalam keberhasilan pasukan menghentikan agresi militer II tersebut yang mampu merubah penilaian dunia internasional terhadap kekuatan RI. Biografi Kolonel Sugiono menceritakan tentang keikutsertaan beliau dalam Gerakan Operasi Militer (GOM) III dalam rangka memadamkan pemberontakan KNIL di wilayah Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Andi Aziz. Berpindah tempat dan berganti jabatan adalah hal yang lumrah dalam karir militer. Karirnya terus menanjak, hingga pada bulan Juni tahun 1965 berpangkat Letnan Kolonel Sugiono dan menjadi Kepala Staf komando Resort Militer (Korem) 072 Kodam VII Diponegoro di Yogyakarta yang sekarang menjadi Kodam IV/ Diponegoro dibawah pimpinan Kolonel Katamso.

Pada Biografi Kolonel Sugiono dijelaskan, bahwa situasi tahun 1965 sedang terjadi krisis yang diakibatkan oleh ulah PKI. Terjadi agitasi dan infiltrasi yang dilakukan PKI baik di tubuh TNI maupun kekuatan politik lainnya. PKI berhasil melakukan provokasi dan mobilisasi pada petani dan buruh di daerah seperti Yogyakarta yang menjadi arena percobaan mereka untuk mempersiapkan pemberontakan. PKI juga mengusulkan kepada pemerintah untuk mempersenjatai sekitar 15 juta massa buruh dan tani yang mereka sebut sebagai Angkatan ke-5. Hal ini ditentang habis-habisan oleh sejumlah Perwira TNI Angkatan Darat, karena bisa memicu perang saudara. Melihat hal ini, PKI menjadikan para perwira TNI Angkatan Darat sebagai musuh yang menghambat tujuan mereka.

PKI benar-benar mempersiapkan pemberontakan secara sistematis, hingga semua lini pemerintahan dari pusat sampai wilayah terkecil desa maupun kelurahan tak luput dari penguasaan mereka. Bahkan mereka juga melakukan penyusupan di tubuh TNI hingga puncaknya mereka melakukan aksi penculikan terhadap para perwira TNI Angkatan darat sebagai sebuah rangkaian pemberontakan. Mencuatlah peristiwa G.30 S PKI yang sangat mencekam dimana para perwira TNI di Jakarta menjadi korban penculikan, penganiayaan dan pembunuhan oleh para PKI. Termasuk juga di Yogyakarta, karena getol melakukan perlawanan terhadap PKI, maka Kolonel Sugiono bersama Komandan Korem 072 yaitu Kolonel Katamso diculik pada 1 Oktober 1965 dan dibunuh oleh PKI di daerah Keuntungan Yogyakarta. Jenazah mereka dimasukkan ke dalam lubang yang telah dipersiapkan oleh PKI. Pencarian besar-besaran dilakukan untuk mencari kedua perwira tersebut hingga Jenazah mereka ditemukan pada 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak. Pada tanggal 22 Oktober mereka berdua dimakamkan di Taman makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Dalam biografi Kolonel Sugiono disebutkan, atas jasanya kepada Negara pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel Infanteri TNI Anumerta Sugiono dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden RI No.118/KOTI/1965 tertanggal 19 Oktober 1965.

    Karir Legkap Sugiono    

  • Komandan Seksi 1 Kompi 2 Batalyon 10 Resimen 3 di Yogyakarta. Pangkat Letnan Dua.
  • Ajudan Komandan Batalyon 30 Resimen 22
  • Ajudan Komandan Brigade 10 Divisi III, Letnan Kolonel Suharto
  • Perwira Operasi Brigade C di Yogyakarta
  • Komandan Kompi 4 Batalyon 411 Brigade C di Purworejo
  • Wakil Komandan Batalyon 441 di Semarang. Saat ini pangkatnya sudah Kapten.
  • Komandan Batalyon 441/Banteng Raiders III. Pangkatnya sudah Mayor.
  • Komandan Komandi Distrik Militer (Kodim) 0718 di Pati.
  • Komandan Kodim di Yogyakarta sekaligus Pejabat Sementara Kepala Staf Korem 072. Pangkatnya sudah Letnan Kolonel.

    Penghargaan Legkap Sugiono    

  • Bintang RI II
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Sewindu ABRI
  • Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer I
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer II
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer IV
  • Satya Lencana Sapta Marga
  • Satya Lencana Satya Dharma
  • Pahlawan Revolusi
Seperti itulah pembahasan biografi Kolonel Sugiyono Pahlawan Revolusi Indonesia. Semoga dengan informasi diatas sahabat bografipahlawan.com dapat mengenal lebih jauh sosok pahlawan kita.

Biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman - Pahlawan Wonosobo Yang Berintelejen Tinggi

Anonymous Add Comment

    Profil Siswondo Parman    

Letnan Jenderal Siswondo Parman Pahlawan Revolusi
Nama Lengkap : Siswondo Parman

Profesi : -

Agama : Islam

Tempat Lahir : Wonosobo, Jawa Tengah

Tanggal Lahir : Minggu, 4 Agustus 1918

Meninggal : Jakarta, 1 Oktober 1965 (umur 47)

Zodiac : Leo

Warga Negara : Indonesia

    Biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman    

Siapa yang tidak tahu pahlawan asal daerah Wonosobo berikut ini. Seorang pahlawan dengan memiliki intelejen dan kegigihan dalam melawan penjajah ini adalah salah satu perwira serta letnan dari 7 letnan yang telah gugur di medan perang saat melawan pasukan PKI dalam peristiwa G30S untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Untuk lebih mengenal sosok pahlawan Wonosobo ini, akan diulas kembali tentang sejarah dan biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman.

Dalam biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman, ia adalah salah satu jenderal yang lahir di Wonosobo tanggal 4 Agustus tahun 1918. Pahlawan Siswono adalah salah satu pahlawan revolusi yang dikenal sangat cerdas dalam intelejennya. Pahlawan yang biasa dikenal dengan namanya S.Parman ini adalah Pahlawan yang gugur dalam peristiwa G30S dan ia pun meninggal diusianya yang ke 47 dalam peristiwa tersebut. Jenderal S.Parman adalah salah satu jenderal yang mengetahui akan banyaknya kegiatan serta taktik dari Pasukan PKI. Ia juga menolak akan terbentuknya kaum dari buruh dan petani yang disebut dengan Angkatan Kelima.

Dalam peristiwa G30S banyak terjadi penculikan yang dilakukan oleh salah satu perwira PKI bernama Resimen Tjakrabirawa termasuk rencana untuk menculik Jenderal Intelejen tersebut. Dan diduga bahwa kakak kandung dari Parman lah yaitu Ir.Sakirman yang menjadi pemimpin Politbiro CC PKI dari peristiwa tersebut. Dalam biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman disebutkan bahwa ia juga pernah singgah dan menempuh pendidikan di SD, SMP, dan sekolah tinggi di bagian kedokteran akan tetapi sebelum lulus Negara Jepang sudah menjajah dan menduduki Negara Indonesia, sehingga ia pun tidak bisa memperoleh gelar dokter tersebut. Kemudian ia pun melanjutkan untuk bekerja di Jawatan Kempeitai. Di tempat tersebut, Jenderal sempat di curigai oleh Jepang dan kemudian di masukan di penjara akan tetapi terbebas juga. Setelah terbebas, ia malah mendapat pendidikan baru di Kenpei Kasya Butai Jepang, dan setelah selesai ia pun kembali ketanah air dan bekerja kembali ke Jawatan Kempeitai.

Kemudian di awal kariernya, Jenderal Parman mengikuti kegiatan kemiliteran dengan masuk dan ikut dalam kegiatan TKR yang dibentuk setelah kemerdekaan dari Indonesia. Desember 1945, jenderal diangkat menjadi salah satu staf di Markas Besar di Yogyakarta sebagai Kepala Staf Polisi Tentara. Kemudian jenderal melakukan perang geriliya dalam melawan penjajah pada Agresi Militer II untuk melawan Belanda. Kemudian di bulan Desember 1949 ia pun dipindah tugaskan di Jakarta Raya untuk menjabat bagian kepala staf Gubernur kemiliteran. Dan salah satu pencapaian yang ia raih adalah pembongkar rahasia dari gerakan Angkatan Perang yang bernama Ratu Adil (APRA). Kegiatan pembongkaran tersebut dipimpin oleh Westerling di Jakarta. Maret 1950, jenderal Parman kemudian diangkat sebagai Kepala Statf G, lalu dikirim ke Negara AS untuk mengikuti adanya pendidikan baru yang bernama Military Police School. Dalam biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman, ia lalu ditugaskan di bagian Kementrian Pertahanan setelah kembali dari AS. Ia diangkat menjadi atasan militer Negara RI di London, dan tahun 1959 di Inggris. Tahun 1964 ia lalu ditugaskan sebagai Asisten I dari panglima atau menteri bagian AD (angkatan darat) dengan memperoleh Pangkat Mayor Jenderal.

Dengan pangkatnya tersebut, ia juga sangat dekat dengan presiden Soekarno dan ia merupakan intelejen yang mengetahui akan rencana PKI dalam membentuk angkatan kelima. Ia lalu dimusuhi oleh para perwira PKI yang mana pada saat itu pengaruh dari pasukan PKI sangat marak untuk para petani dan buruh dari Indonesia. Akhirnya, jenderal pun bersama dengan pasukan AD bersepakat akan menolak dari pembentukan angkatan kelima tersebut. Jenderal Parman pun kemudian disengiti oleh para pasukan PKI dan menjadi sasaran penculikan serta pembunuhannya. Tanggal 1 Oktober 1965 ia pun telah dibunuh dan jasadnya di buang di sumur tua daerah Lubang Buaya. Kemudian ia pun dimakamkan di taman makam pahlawan daerah Kalibata dan gugur sebagai pahlawan revolusi dengan pangkat Letnan Jenderal. Itulah sekilas tentang biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman, semoga informasi serta wacana diatas dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

   PENDIDIKAN   

  • HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Wonosobo
  • MULO (Meer Uitgebried Lager Onderwijs) di Yogyakarta
  • AMS (Algemeene Middelbare School)
  • Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA) di Jakarta
  • Sekolah Tinggi Hukum

   KARIR   

  • Awal karier militer S. Parman dimulai dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Lalu pada akhir bulan Desember 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi (PT) di Yogyakarta.
  • Di bulan Desember 1949 setelah Agresi Militer II Belanda, ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya.
  • Sebelum dikirim di Amerika untuk mengikuti pendidikan di Military Police School, ia diangkat menjadi Kepala Staf G.
  • Setelah ia kembali dari AS, ia ditugaskan di Kementrian Pertahanan untuk kemudian diangkat menjadi Atase Militer RI di London, Inggris tahun 1959. Lima tahun kemudian yaitu pada tahun 1964, ia diserahi tugas sebagai Asisten I Menteri / Panglima Angkatan Darat (Men / Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal

   PENGHARGAAN   

  • Siswondo Parman alias S. Parman mendapatkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Revolusi
Seperti itulah pembahasan mengenai Letnan Jendral Siswondo Parman Pahlawan Revolusi. Semoga dengan informasi diatas sahabat biografipahlawan.com dapat mengenal lebih baik sosok pahlawan indonesia.

Biografi Sukarni yang Pemberani - Pahlawan Nasional

Anonymous Add Comment

   Profil Sukarni   

Biografi Sukarni yang Pemberani - Pahlawan Nasional
Nama : Soekarni Kartodiwirjo
Tempat Lahir : Blitar, Jawa Timur
Lahir : 14 Juli 1916
Meninggal : Jakarta, 7 Mei 1971 (umur 54)
Makam : Taman Makam Pahlawan Kalibata
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia



   Biografi Sukarni   

Ada seorang pemuda yang bernama sukarni kertowirdjo yang merupakan tokoh pemuda atau golongan muda yang sangat berani terhadap kemerdekaan Indonesia melalui aksi aksinya sebagai anak muda. Ia mengawali kisahnya di biografi sukarni dengan bersekolah di mardisiswa yaitu sejenis taman siswa yang didirikan oleh Mohammad Anwar di Semarang. Ia banyak memperoleh pembelajaran tentang pergerakan bangsa dan negara melalui taman siswa tersebut. Ia termasuk anak yang sangat nakal dan suka sekali berbuat onar di asa kecilnya. Ia sering berkelahi dan tawuran. Bahkan ia sering menantang berkelahi anak-anak keturunan Belanda di kota tersebut.

Biografi sukarni berlanjut dengan ia pernah di masa kecilnya mengajak puluhan temanya untuk mengirim surat tantangan untuk berkelahi bagi anak nak muda Belanda waktu itu. Tantangan itu diterima oleh anak anak Belanda dan akhirnya terjadilah tawuran besar di sebuah kebun raya waktu itu. Akhirnya tawuran dimenangkan oleh kelompok sukarni. Sukarni pun dikeluarkan dari sekolah dan dia tidak menyerah untuk belajar. Ia melanjutkan sekolah di Yogyakarta dan ia juga lalu pindah ke Jakarta untuk bersekolah. Hal ini berkat kak Bung Karno yang lalu memasukkan sukarni ke Sekolah jurnalistik di Bandung.

Biografi kisah sukarni terus berlanjut dengan kisah menarik sukarni lainnya. Salah satu jasa sukarni yang terkenal adalah ketika terjadi peristiwa rengasdengklok. Peristiwa rengasdengklok adalah peristiwa yang terjadi akibat kurangnya pemahaman antara kaum muda dan tua pada waktu itu. Akhirnya sukarni dan kawan-kawannya mencoba mendesak Soekarno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia namun mereka menolak. Akhirnya kaum muda pun menculik keduanya ke rengasdengklok dengan tuan agar menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang.

Selanjutnya biografi sukarni juga membuat banyak kisah heroik sukarni yang sangat gigih dalam melawan pergerakan Belanda melalui aksi-aksinya di kancah politik pemerintah saat ia lalu menjabat sebagai seorang politisi di partai murba yang didirikannya dan diketuai olehnya. Partai ini merupakan partai nasionalis yang membawa perubahan Indonesia lebih baik terutama dalam hal mempertahankan kemerdekaannya. Sukarni bahkan sering dipenjara karena perjuangannya.

Bahkan ketika Soekarni mencoba menasehati Bung Karno tentang gerakan PKI di istana Bogor ia malah ditangkap dan selanjutnya partai ini dibekukan oleh pemerintah. Namun akhirnya setelah sukarni bebas, pembekuan partai ini sudah berakhir lalu partai ini kembali aktif. Jasa sukarni ini lalu dianggap begitu penting hingga akhirnya presiden Joko Widodo memberikan ia gelar bintang mahaputra kelas empat yang ditujukan pada perwakilan keluarganya. 

   Karir Sukarni   

  • Ketua Partai Murba
  • Duta Besar Indonesia di Peking
  • Anggota Badan pekerja KNI Pusat
  • Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA, 1967)

   Penghargaan Sukarni   

  • Bintang Mahaputra kelas empat
  • Pahlawan Nasional
Demikian Biografi Sukarni yang sempat biografipahlawan.com sajikan kepada pembaca. Ia adalah sosok pemuda yang berjuang hingga akhir hayatnya. semoga dapat bermanfaat dan menjadi tauladan atas kegigihannya.

Biografi Sayuti Melik: Wartawan Sekaligus Politikus Bangsa

Anonymous 2 Comments

   Profil Sayuti Melik   

Biografi Sayuti Melik: Wartawan Sekaligus Politikus Bangsa
Nama : Mohammad Ibnu Sayuti
Tempat Lahir : Sleman, Yogyakarta
Lahir : 22 November 1908
Meninggal : Jakarta, 27 Februari 1989 pada umur 80 tahun
Makam : TMP Kalibata
Agama : Islam
Pekerjaan : Wartawan Politisi
Warga Negara : Indonesia

   Biografi Sayuti Melik   

Bung Karno dan Bung Hatta memang merupakan actor dalam kemerdekaan Indonesia. namun saat menandatangani naskah proklamasi, Bung Karno dan Bung Hatta menuliskan atas nama bangsa Indonesia. dari situlah dapat diketahui jika perjuangan kemerdekaan Indonesia dilakukan oleh berbagai pihak dan kalangan terutama oleh rakyat Indonesia sendiri. Salah satu pejuang pendukung kemerdekaan adalah sayuti Melik. Kebanyakan orang mengenal Sayuti Melik karena jasa beliau dalam mengetik naskah proklamasi. Berdasarkan Biografi Sayuti Melik, beliau tidak hanya berjasa sebagai pengetik naskah proklamasi. Masih banyak jasa beliau bagi bangsa.

Nama asli beliau adalah Mohammad Ibnu Sayuti. Beliau dilahirkan di Sleman 22 November 1908. Orang tuanya bernama Abdul Mu'in alias Partoprawito dan Sumilah. Istri beliau bernama Soerastri Karma. Istri Sayuti Melik merupakan seorang aktivis perempuan sekaligus wartawan. Dalam Biografi Sayuti Melik disebutkan pendidikan beliau di mulai dari Sekolah Ongko Loro (SD) di Srowolan Solo hanya sampai kelas 4 dan kemudian dilanjutkan di Yogyakarta. Sejak masih muda beliau merupakan penulis yang mampu membuat belanda merasa terganggu, kisah hidup Sayuti melik juga diwarnai dengan penahanan berkali-kali oleh Belanda. Beliau juga pernah di buang di Boven Digul (1927-1933) karena dianggap terlibat dengan PKI oleh Belanda. Selama satu tahun beliau juga pernah ditawan dan dipenjara di Singapore, pada tahun 1937 beliau [ulang ke Jakarta namun dimasukkan ke sel di Gang tengah hingga 1938.

Beliau juga mendirikan koran Pesat di semarang yang segala bagian redaksi hingga percetakan dan penjualan beliau kerjakan sendiri bersama istrinya. Namun mereka tetap tidak terlepas dari pengasingan. Selama menerbitkan koran tersebut, Sayuti Melik atau istrinya bergantian keluar masuk penjara dan pengasingan. Hal itu dikarenakan tulisan mereka yang tajam dan kritis. Pada kependudukan Jepang tepatnya Putera didirikan, atas bantuan Bung Karno Sayuti Melik dan istrinya dapat bersatu kembali. Selain aktif dalam dunia jurnalis, biografi Sayuti melik juga menyebutkan bahwa dirinya juga menjadi anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia)

Sayuti melik merupakan pemuda ataupun golongan tua yang sangat mendukung segera diproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 16 Agustus 1945, Seokarno dan Hatta di culik dan dibawa ke Rengasdengklok. Penculikan tersebut bertujuan untuk menyakinkan Bung Karno dan Bung Hatta segera menyatakan kemerdekaan Indonesia, ketika Jepang sedang kalah dari sekutu. proklamasi. Setelah terjadi kesepakatan akhirnya naskah proklamasi dirumuskan oleh Bung Karno dan Bung Hatta di rumah Laksmana Muda Maeda. Biografi Sayuti melik menyatakan bahwa dirinya dan sukarni menjadi sanksi dan membantu mereka dalam merumuskan proklamasi. Atas usul Sayuti melik juga proklamasi ditanda tangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Karier politik Sayuti Melik semakin berkembang. Beliau pernah menjabat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sedangkan pada masa orde baru karier politik Sayuti Melik berkembang menjadi DPR pada tahun 1971 hingga 1977. Beliau meninggal pada 27 Februari 1989. Penghargaan yang beliau dapat adalah Bintang Mahaputra (1961) dan BIntang mahaputra Adiprana pada tahun 1973. 

   Karir Sayuti Melik   

  • Anggota DPR/MPR, mewakili Golkar hasil Pemilu 1971 dan Pemilu 1977.

   Penghargaan Sayuti Melik   

  • Menerima Bintang Mahaputra Tingkat V (1961) dari Presiden Soekarno dan Bintang Mahaputra Adipradana (II) dari Presiden Soeharto (1973)
Demikian Biografi Sayuti Melik yang sempat biografipahlawan.com sajikan kepada pembaca, semoga dapat bermanfaat dan menjadi tauladan atas kegigihannya.

Biografi Sam Ratulangi - Sang Pahlawan Nasional

Anonymous Add Comment

   Profil Sam Ratulangi   

Biografi Sam Ratulangi - Sang Pahlawan Nasional
Nama : Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi
Tempat Lahir : 5 November 1890, Tondano, Sulawesi Utara
Meninggal : 30 Juni 1949, Jakarta, Indonesia (umur 58 tahun)
Makam : Tondano
Agama : Kristen
Warga Negara : Indonesia

   Biografi Sam Ratulangi   

Dr. Gerungan Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal sebagai Sam Ratulangi adalah pahlawan ala tondano dan Manado Sulawesi utara. Ia adalah seorang akademisi yang Sangat terkenal. Ia mulai pejalan pendidikannya di sebuah seolah dasar milik Belanda hingga ke sekolah raja setara SMA. Selanjutnya ia bisa memperoleh gelar ijazah guru ilmu pasti dari University di Amsterdam Belanda. Sungguh biografi Sam Ratulangi adalah seorang akademisi ilmu pasti yang sangat cerdas.

Ia lalu melanjutkan sekolahnya di Swiss dan mengambil gelar masternya di universitas of Zurich. Di sana ia juga melanjutkan ke tingkat doktor hingga dia sekarang sudah memperoleh gelar sebagai doktor ilmu pasti dan ilmu alam. Ia sangat berjasa dalam perjuangan melawan pembodohan dan kolonialisme Belanda di Manado. Ia memperjuangkan pendidikan masyarakatnya dengan baik. Ia juga ditunjuk atau terpilih sebagai gubernur pertama Sulawesi utara yang membawa kemajuan dan perubahan di Sulawesi utara. Ia adalah pejuang pendidikan dan masyarakat yang gigih. Oleh karena itu namanya banyak diabadikan dan selain itu ia juga bergelar pahlawan nasional Indonesia. biografi Sam Ratulangi pun berlanjut.

Soekarno dan Sam Ratulangi
Soekarno dan Sam Ratulangi
Selanjutnya dam Ratulangi banyak menghabiskan waktunya selama menjadi gubernur untuk kepentingan masyarakat Sulawesi khususnya tanah kelahiran yatondano dan kota Manado. Os adalah seorang yang cerdas. Oleh karena itu dia bisa meraih gelar doktor di bidang ilmu alam dengan mudah tanpa ada halangan yang berarti. Dia juga cukup dihormati sebagai seorang akademisi hingga perjalanan sekolahnya sang dam Ratulangi cukup mulus. Biografi sam Ratulangi pun berlanjut.

Ia pun diberi gelar pahlawan nasional dan namanya diabadikan menjadi nama bandara internasional di Manado yang disebut bandara internasional sam Ratulangi. Selain itu namanya juga dikenang di jalan jalan di Sulawesi dan dan daerah daerah lainnya di Indonesia. kegigihan dam Ratulangi dalam mencari ilmu juga bisa jadi contoh bagi kita semua. Demikian biografi Sam Ratulangi.

Nah, anda sekarang lebih mengetahui tentang biografi Sam Ratulangi. Seorang tokoh pahlawan dan pendidikan serta pejuang birokrasi di masnya yang begitu mengedepankan kepentingan masyarakat di Atas kepentingan pribadinya. Ia jua merupakan contoh akademisi yang baik serta gigih yang dapat diteladani oleh anak anak agar mereka juga meniru perjuangan para pahlawannya termasuk perjuangan dam Ratulangi. Sekarang banyak sekali anak-anak dan generasi muda yang tak memperdulikan atau kurang serius ala menempuh pendidikannya. Oleh karena itu perjuangan para pahlawan. Lalu bagaimana dengan kita putra putri bangsa mas kini yang justru malah banyak membebani bangsa serta negara. Ingatlah pedoman dari sam Ratulangi. Seorang manusia belum bisa dikatakan manusia jika belum dapat memanusiakan manusia lainnya.
Monumen dan Makam Sam Ratulangi
Monumen dan Makam Sam Ratulangi

   Pendidikan Sam Ratulangi   

  • Sekolah Dasar Belanda SD (Europesche Lagere School)
  • Teknik Koninginlijke Wilhelmina School (SMK Negeri 1 Jakarta Budi Utomo)
  • Sekolah Raja:setingkat SMA (Hoofden School)
  • Universitas Amsterdam (Universiteit van Amsterdam)
  • Gelar Doktor der Natur-Philosophie (swiss)
  • Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zürich tahun 1919

   Penghargaan Sam Ratulangi   

  • Pahlawan Nasional
Lihat juga Tokoh Pahlawan Nasional lainnya:
Demikian Biografi Sam Ratulangi yang sempat biografipahlawan.com sajikan kepada pembaca, semoga dapat bermanfaat dan menjadi tauladan atas kegigihannya.

Biografi Supriyadi Pahlawan Pembela Tanah Air (PETA)

Anonymous Add Comment

    Profil Supriyadi    

Biografi Supriyadi Pahlawan Pembela Tanah Air (PETA)
Nama : Supriyadi
Tempat Lahir : Trenggalek, Jawa Timur, Hindia Belanda
Lahir : 13 April 1923
Zodiac : Aries
Meninggal : Tidak di ketahui
Warga Negara : Indonesia





    Biografi Supriyadi    

Supriyadi kecil adalah seorang yang mendapat pembelajaran nilai-nilai kepahlawanan dari kakek tirinya melalui media wayang. Melalui budaya wayang tersebut mulai tertanam jiwa patriotik cinta tanah air. Putra kelahiran Trenggalek, 13 April 1923  ini memulai perjuangan bela tanah air dengan masuk tentara pribumi atau yang dahulu dikenal dengan PETA (Pembela Tanah Air). Adapun sejarah biografi Supriyadi akan diulas lebih mendalam sebagai berikut.

Supriyadi yang bernama kecil Priyambodo ini termasuk seorang pribumi yang kaya sehingga memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di bangku sekolah formal. Biografi Supriyadi dimulai dari pendidikan yang Ia enyam di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian dilanjutkan ke MULO (setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama). Setelah tamat MULO Ia melanjutkan Sekolah Pamongpraja di Magelang. Ketika tentara Jepang di Indonesia ia belum sempat menyelesaikan sekolah Pamongpraja kemudian beralih memasuki Sekolah Menengah Tinggi dan mengikuti latihan pemuda Seimendoyo di Tangerang. 

Biografi Supriyadi berlanjut pada masa penggabungan dirinya di dalam PETA (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang bulan Oktober 1943. Pada awalnya PETA dibentuk sebagai sebuah pasukan strategis Pribumi bentukan Jepang untuk mendukung ia pada perang Asia Pasifik dan mendukung kepentingan Jepang. Hal ini lantas dimanfaatkan oleh tokoh Nasional untuk menanamkan jiwa cinta kebangsaan Indonesia para pemuda pribumi. Supriyadi pun termasuk anggota PETA yang kemudian diangkat menjadi Sudhanco di Blitar. Sebagai Sudhanco ia bertugas mengawasi pekerjaan Romusha. Romusha bekerja keras, namun tingkat kesejahteraan (makanan, kesehatan) hidupnya sangat memprihatinkan. Tak jarang mereka diperlakukan kasar oleh pihak Jepang.

Biografi Supriyadi menjadi menarik, karena sebagai anak muda, Ia tak gentar untuk membela kaum tertindas Romusha meskipun dengan keterbatasan pasukan dan alat perang. Supriyadi mulai terbersit untuk melakukan perlawanan terhadap pihak Jepang karena tidak tahan melihat kesewenang-wenangan Jepang terhadap bangsanya, dalam hal ini para Romusha. Strategi perlawanan mulai disusun Supriyadi bersama teman-teman PETA nya. Perlawanan ini pun sempat dikonsultasikannya kepada Bung Karno ketika berkunjung di Blitar untuk bertemu dengan ayah Supriyadi. Hal ini pun didukung Bung Karno dengan nasihat untuk memperkuat pasukan. 

Puncak perlawanan terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 dini hari di Daidan Blitar. Jepang sangat terkejut dengan aksi pemberontakan tersebut dan akhirnya mengerahkan pasukan besar untuk menumpas pasukan PETA. Pasukan PETA berakhir dengan penangkapan dan pembujukan tokoh PETA. Tokoh-tokoh yang berhasil ditangkap kemudian diadili di Mahkamah Militer Jepang. Enam orang dijatuhi hukuman mati, tiga orang hukuman seumur hidup, dan yang lain mendapat hukuman bervariasi mulai dari 3 hingga 15 tahun penjara. Nama Supriyadi tidak termasuk di dalam orang yang terkena sanksi. Bahkan ketika akan dilantik dan diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet RI pertama pada 6 Oktober 1945 Supriyadi tidak hadir. Diduga Supriyadi tewas terbunuh pada peristiwa perlawanan PETA di Blitar.

Jangan Lewatkan Biografi Pahlawan Nasional Lainnya :

Demikian biografi Supriyadi yang singkat namun gigih untuk melawan kesewenang-wenangan Jepang yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Supriyadi.

Biografi Sutan Syahrir "Perdana Menteri Pertama Indonesia"

Anonymous Add Comment

    Profil Sutan Syahrir    

Biografi Sutan Syahrir "Perdana Menteri Pertama Indonesia"
Nama : Sutan Syahrir
Tanggal Lahir: 5 Maret 1909
Tempat Lahir : Padang Panjang, Sumatera Barat, Hindia Belanda
Meninggal: 7 November 1966, Zürich, Swiss
Makam : TMP Kalibata, Jakarta
Warga Negara : Indonesia
Anak: Kriya Arsyah Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir
Istri : Maria Duchateau & Siti Wahyunah
Agama : Islam

    Biografi Sutan Syahrir    

Sutan syahrir tentu saja sebuah nama yang tak asing di telinga rakyat Indonesia. Sutan Syahrir ini sempat mencapai karier tertingginya pada saat mencapai perdana menteri pertama Indonesia. Untuk lebih lengkapnya mengenai sang perdana Menteri pertama ini, anda bisa menyimak mengenai biografi Sutan Syahrir yang telah membantu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari kekuatan penjajahan jepang pada waktu itu. 

Salah satu penulis biografi Sutan Syahrir adalah Rosihan Anwar dengan judul biografi tokoh Nasional Kemerdekaan ini yaitu Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya. Sutan Syahrir ini dilahirkan di Padang Panjang Sumatera Barat, 5 Maret 1909. Kedua orang tuanya bernama Mohammad rasad Gelar Maharaja Soetan bin Soetan leman gelar Soetan palindih dan ibunya bernama Putri Siti Rabiah. Riwayat pendidikannya di mulai di sekolah dasar ELS dan SMP di MULO Medan yang merupakan sekolah terbaik di Medan. Selanjutnya Sutan Syahrir melanjutkan pendidikannya pada sekolah menengah atas di AMS di Bandung. Sekolahan tersebut merupakan sekolahan termahal yang ada di Hindia Belanda saat itu. Setelah menamatkan sekolah menengah atasnya Sutan Syahrir melanjutkan pendidikannya di Belanda, di Universitas Amsterdam di fakultas Hukum.

Berdasarkan biografi Sutan Syahrir yang ditulis Rosihan Anwar, saat masih mengenyam pendidikan, Syutan syahrir sudah mulai tertarik dengan dunia politik. Cerita hidup Sutan syahrir ini juga mengisahkan dirinya yang sudah mulai menjadi penggagas terbentuknya organisasi Jong Indonesie. Tidak hanya itu Sutan Syahrir juga menjadi penggerak tercetusnya Sumpah Pemuda. Pada tahun 1930 Sutan syahrir juga bergabung dengan organisasi Perhimpunan Indonesia (PI). Selanjutnya Sutan Syahrir juga bergabung dengan PNI baru yang sebelumnya sempat dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Selanjutnya PNI dianggap semakin Radikal sehingga Sutan Syahrir dan Moh Hatta di asingkan di Boven Digoel selama setahun dan selanjutnya dipindahkan ke banda Neira untuk masa pembuangan 6 tahun.

Semangat perjuangan menentang penjajah tidak hanya saat pemerintahan belanda, dalam Biografi Sutan Syahrir, ia masih tetap berjuang pada saat penjajahan Jepang. PNI yang semakin berkembang ia jadikan roda pergerakan kekuatan bawah tanah. Hingga akhirnya Sutan Syahrir beserta pemuda-pemuda Indonesia mendesak Soekarno Hatta untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Biografi Sutan Syahrir masih berlanjut. Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Sutan Syahrir juga berperan dalam mempertahankan kemerdekaan. Yaitu dengan membentuk cabinet Syahrir I hingga Kabinet Syahrir ke III, dan mempertahankan Indonesia melalui jalur diplomasi. 

Setelah tidak memimpin kabinet, Sutan Syahrir menjadi Duta besar keliling dan penasihat Presiden Soekarno. Bersamaan itu pula biografi Sutan Syahrir menambah cerita mengenai Partai Sosialis Indonesia PSI yang merupakan partai bentukan Sutan Syahrir. Karena bergerak dalam arah komunis dan Sutan Syahrir terkait dengan kasus PRRI, Presiden membubarkan PSI pada Tahun 1960. Selama 3 tahun Sutan Syahrir dipenjara kemudian tanpa diadili sehingga menderita sakit. Atas izin yang didapat, ia boleh berobat di Swiss dan akhirnya meninggal di Swiss. Sutan Syahrir meninggal pada tanggal 9 April 1966 dan dikebumikan di TMP Kalibata dan mengakhiri kisah hidup Sutan Syahrir. 

    Karya Sutan Syahrir    

  • Pikiran dan Perjuangan, tahun 1950 (kumpulan karangan dari Majalah ”Daulat Rakyat” dan majalah-majalah lain, tahun 1931 – 1940)
  • Pergerakan Sekerja, tahun 1933
  • Perjuangan Kita, tahun 1945
  • Indonesische Overpeinzingen, tahun 1946 (kumpulan surat-surat dan karangan-karangan dari penjara Cipinang dan tempat pembuangan di Digul dan Banda-Neira, dari tahun 1934 sampau 1938).
  • Renungan Indonesia, tahun 1951 (diterjemahkan dari Bahasa Belanda: Indonesische Overpeinzingen oleh HB Yassin)
  • Out of Exile, tahun 1949 (terjemahan dari ”Indonesische Overpeinzingen” oleh Charles Wolf Jr. dengan dibubuhi bagian ke-2 karangan Sutan Sjahrir)
  • Renungan dan Perjuangan, tahun 1990 (terjemahan HB Yassin dari Indonesische Overpeinzingen dan Bagian II Out of Exile)
  • Sosialisme dan Marxisme, tahun 1967 (kumpulan karangan dari majalah “Suara Sosialis” tahun 1952 – 1953)
  • Nasionalisme dan Internasionalisme, tahun 1953 (pidato yang diucapkan pada Asian Socialist Conference di Rangoon, tahun 1953)
  • Karangan–karangan dalam "Sikap", "Suara Sosialis" dan majalah–majalah lain
  • Sosialisme Indonesia Pembangunan, tahun 1983 (kumpulan tulisan Sutan Sjahrir diterbitkan oleh Leppenas)

    Karir Sutan Syahrir    

  • Perdana Menteri pertama Republik Indonesia
  • Ketua Partai Sosialis Indonesia (PSI)
  • Ketua delegasi Republik Indonesia pada Perundingan Linggarjati
  • Duta Besar Keliling (Ambassador-at-Large) Republik Indonesia

    Penghargaan Sutan Syahrir    

  • Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Keppres nomor 76 tahun 1966
Seperti itulah ulasan Biografi Sutan Syahrir sosok perdana menteri pertama Indonesia dan tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Sumatra Barat yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Sutan Syahrir.

Biografi Soepomo “Pencetus dan Arsitek UUD 1945”

Anonymous Add Comment

    Profil Soepomo    

Biografi Soepomo “Pencetus dan Arsitek UUD 1945” Tokoh Pahlawan Nasional
Nama Lengkap : Soepomo
Tanggal Lahir : 22 Januari 1903
Tempat Lahir : Sukoharjo, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Zodiac : Aquarius
Meninggal : Jakarta, 12 September 1958 (umur 55)
Makam : Pemakaman keluarga di kampung Yosoroto, Sala
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam


    Profil Soepomo    

Pahlawan nasional yang merupakan pencetus sekaligus arsitek UUD 1945 ini dikenal dengan nama Prof. Mr. Soepomo. Ia adalah seorang ahli hukum pada generasi pertama yang sudah ada ketika Indonesia merdeka. Dalam biografi Soepomo, semasa hidupnya hingga akhir hayatnya ia juga berturut serta berperan dalam pembentukan adanya sistem nasional. Nama Soepomo sering terdengar saat menempuh pendidikan di sekolah dasar maupun menengah. Berikut akan diulas kembali sejarah dari beliau, agar anda bisa mengetahui secara jelas dan mengingat kembali perjalanan hidup Soepomo saat memerdekakan Indonesia.

Prof. Mr. Soepomo lahir di kota Sukoharjo, Jawa Tengah pada tanggal 22 Januari 1903. Dalam biorafi soepomo disebutkan bahwa ia terlahir dari kalangan keluarga ningrat aristocrat jawa. Kakek dari pihak ibunya adalah Raden Tumenggung Wirjodirodjo, bupati Nayak dari Sragen. Sedangkan Kakek dari pihak ayahnya adalah raden Tumenggung Reksowardono, bupati Anom Sukaharjo pada masa kejayaannya dulu. Pada tahun 1917 pahlawan Soepomo beruntung memiliki keluarga dari keluarga priyayi, sehingga ia memiliki kesempatan untuk bisa menjajaki pendidikan di ELS yaitu sekolah yang setingkat dengan sekolah dasar di daerah Boyolali. Kemudian di tahun 1920 Soepomo melanjutkan pendidikannya di MULO di kota Solo. Setelah itu meneruskan pendidikan hukumnya di Bataviasche Rechtsschool di Batavia dan lulus pada tahun 1923. Kemudian ia ditunjuk oleh kolonial Belanda sebagai pegawai negeri pemerintahannya yang di bantu oleh ketua dari pengadilan negeri Sragen tahun 1977. Kemudian di antara tahun 1924 hingga 1927, beliau mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda yang dibimbing oleh Cornelis van Vollenhoven. Ia adalah seorang professor hukum arsitek yang dikenal sebagai tokoh ilmu hukum adat Indonesia dan seorang ahli hukum di bidang hukum internasional, yaitu salah satu konseptor Liga Bangsa Indonesia.    

Pada tahun 1927 dalam biografi Soepomo juga dijelaskan bahwa ia pernah menyandang gelar sebagai doctor dengan judul disertasinya yaitu Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta (Reorganisasi Sistem Agraria di Wilayah Surakarta). Dalam disertasinya, Soepomo bukan hanya mengupas adanya sistem agraria tradisional saja akan tetapi juga meneliti hukum-hukum kolonial yang terkait dengan pertahanan di daerah Surakarta. Dengan menggunakan bahasa belanda yang ditulis secara halus dan tidak langsung dan menggunakan argument kolonialnya, kritik Soepomo atas wacana-wacana kolonial yaitu tentang proses transisi agrarian di letakkan dalam disertasinya tersebut. 

Pada buku biografi soepomo tentang bahasa belanda yang terkait dengan krtikan-kritikan tersebut yang pada dasarnya saat menyatakan kritikan kolonialnya, Soepomo meletakkan etika jawanya saat melakukan penulisan subjeytivitas pada argumentnya tersebut. Ini bisa dilihat di buku Frans Magnis-Suseno tentang etika jawa dan buku Ben Anderson tentang Language and Power, sebagai patokan tentang etika jawa untuk memahami strategi dan cara pandang agensi Soepomo. 

Hampir tidak ditemukan di biografi Soepomo, kecuali satu karangan Soegito (1977) yang menyatakan bahwa berdasarkan departemen pendidikan dan kebudayaan, Marsilam Simanjutak mengatakan bahwa Soepomo adalah sumber munculnya fasisme di Negara Indonesia karena adanya kekaguman Soepomo terhadap sistem pemerintahan jepang dan jerman. Simanjuntak menilai bahwa Negara orde baru pada jendral Soeharto adalah bentuk Negara yang sistem pemerintahannya paling dekat dengan Soepomo. Akan tetapi ini perlu di pertimbangkan dan diperdebatkan lagi. Soepomo meninggal di usia muda akibat sakit serangan jantung yang dideritanya. Ia meninggal pada tanggal 12 September 1959 di Jakarta dan dimakamkan di daerah Solo. Semoga informasi di atas dapat memberikan gambaran serta wacana bagi pembaca.

    Pendidikan Soepomo    

  • ELS (Europeesche Lagere School) di Boyolali (1917)
  • MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) di Solo (1920)
  • Bataviasche Rechtsschool di Batavia (lulus tahun 1923)
  • Rijksuniversiteit Leiden/Leiden University (1924)

    Karir Soepomo    

  • Pegawai yang diperbantukan pada Pengadilan Negeri Yogyakarta
  • Anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
  • Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
  • Ketua Panitia Kecil Perancang UUD
  • Menteri Kehakiman
  • Rektor Universitas Indonesia (1951-1954)

    Penghargaan Soepomo    

  • Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional (1965)
Seperti itulah ulasan Biografi Soepomo tokoh pencetus sekaligus arsitek UUD 1945 bersama Mohammad Yamin dan Soekarno yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Soepomo.

Biografi Sultan Hasanuddin ”Ayam Jantan Dari Timur”

Anonymous 1 Comment

    Profil Sultan Hasanuddin    

Nama : Sultan Hasanuddin
Tempat Lahir : Makassar, Sulawesi Selatan
Tanggal Lahir : Minggu, 12 Januari 1631
Zodiac : Capricorn
Meninggal :  Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670
Makam : Komplek Pemakaman Raja-Raja Gowa, Sulawesi Selatan
Agama : Islam
Ayah : Sultan Malikussaid
Ibu :  I Sabbe To'mo Lakuntu

    Biografi Sultan Hasanuddin    

Jika mendengar predikat ayam jantan dari timur anda pasti akan langsung teringat dengan pahlawan nasional yang bernama sultan hasanuddin. Sultan hasanuddin merupakan pahlawan nasional yang lahir pada tanggal 12 januari tahun 1931. Beliau merupakan raja dari kerajaan gowa yang ke-16. Nama asli beliau adalah I Mallombasi Muhammad bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Setelah beliau memeluk agama islam barulah beliau lebih dikenal dengan sultan hasanuddin. Beliau diangkat sebagai raja Gowa pada umur 24 tahun. Mari kita bahas lebih lanjut lagi tentang biografi sultan hasanuddin dibawah ini.

Beliau mendapat gelar oleh Belanda sebagai ayam jantan dari timur atau de Haav Van de oesten. Hal ini dikarenakan kegigihan dan juga keberaniannya dalam melawan pasukan pemerintahan Belanda. Beliau lahir di kota makasar dan ayah sultan hasanuddin adalah sultan malikusaid yang merupakan Raja Gowa yang Ke 15. Sultan hasanuddin mulai memerintah Gowa pada saat pemerintahan colonial Belanda mulai menjajah Indonesia dan ingin mengusai rempah-rempah yang terdapat di Indonesia terutama didaerah Gowa. Pada saat itu Gowa merupakan jalur utama perdagangan dari berbagai kota dan Negara. Menurut biografi sultan hasanuddin, pada saat itu banyak sekali kerajaan yang sudah dikuasai oleh Belanda. Tetapi oleh sultan hasanuddin, beliau mengumpulkan berbagai kerajaan kecil dan bergabung untuk mengusir Belanda.

Pada tahun 1660 mulailah peperangan antara kerajaan Gowa dengan pemerintahan VOC. Pada saat itu pemerintahan Belanda dibantu oleh kerajaan bone yang sudah ditaklukan oleh Belanda. Pada saat peperangan raja dari kerajaan bone wafat dalam pertempuran. Akhirnya peperangan itu berakhir damai tetapi tak berlangsung lama sultan hasanuddin melawan kembali pemerintahan Belanda karena merasa dirugikan. Beliau akhirnya mencuri 2 kapal milik Belanda yaitu kapal Leeuwin dan De walfis. Ini banyak diceritakan di cerita tentang biografi sultan hasanuddin.

Belanda marah besar dan akhirnya mengirim pasukan yang lebih banyak ke kerajaan gowa. Pertempuran tersebut dipimpin oleh panglima Belanda yang bernama cornelis Spellman. Sultan hasanuddin mengalami kewalahan dan akhirnya memutuskan untuk menandatangani perjanjian bongaya. Perjanjian tersebut dilakukan pada tanggal 18 november tahun 1667. Pada tanggal 12 april tahun 1668, pangeran antasari dan pasukannya kembali menyerang Belanda tetapi dikarenakan pasukan Belanda yang semakin banyak. Benteng pertahanan terakhir kerajaan Gowa yaitu Benteng sombaopu akhirnya runtuh dan dikuasai oleh Belanda. Cerita tentang benteng sombaopu banyak diceritakan dalam biografi sultan hasanuddin.

Walaupun seperti itu sultan hasanuddin tetap tidak mau tunduk terhadap pemerintahan Belanda. Akhirnya sultan hasanuddin mundur dari tahtannya dan beliau wafat pada tanggal 12 juni tahun 1670. Beliau merupakan salah satu pahlawan nasional yang memiliki jiwa pantang menyerah dengan pemerintahan Belanda. Beliau menghabiskan banyak cara untuk mengusir Belanda dari Gowa dan membuat pemerintahan Belanda untuk tidak dapat menguasai rempah-rempah di Gowa. Sekian artikel tentang biografi Sultan Hasanuddin. Semoga dapat bermanfaat untuk anda.

    Penghargaan Sultan Hasanuddin    

Seperti itulah ulasan biografi Sultan Hasanuddin ayam jago dari benua timur yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok pahlawan kita Sultan Hasanuddin.

Biografi Sultan Agung "Sang Pandita Ratu Musuh V.O.C"

Anonymous 1 Comment

    Profil Sultan Agung    

Biografi Sultan Agung "Sang Pandita Ratu Musuh V.O.C" Pahlawan Nasional
Nama : Sultan Agung
Lahir : 1593, Kutagede, Kesultanan Mataram
Meninggal : 0 - 1 - 1593
Ayah : Prabu hanyakrawati
Ibu : Ratu Mas Adi Dyah Banawati
Warga Negara : Indonesia



    Biografi Sultan Agung    

Sultan Agung terlahir dengan nama Raden Mas Jatmika di Kotagede, kasultanan mataram pada tahun 1593. Dan dikenal pula dengan nama Raden Mas Rangsang. Beliau merupakan putra dari raja Mataram Islam ke dua Prabu hanyakrawati dan Ratu Mas adi Dyah banawati yang merupakan putri Pangeran Benawa raja Pajang. Pada usia 20 tahun beliau diangkat menjadi Raja Mataram menggantikan Ayahnya pada tahun 1613 dengan bergelar ``Panembahan Hanyakrakusuma``. Pada tahun 1624, setelah penaklukan Madura, belai berganti gelar menjadi ``Susuhunan Agung Hanyakrakusuma``. Pada biografi Sultan Agung disebutkan, pada tahun 1640 mengganti gelar menjadi ``Sultan Agung Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman``. Setahun kemudian mendapat gelar dari pemimpin Ka`bah di Makkah dengan nama ``Sultan Abdullah Muhammad maulana Mataram``.

Sultan Agung, seorang raja yang memiliki kesadaran tentang pentingnya kesatuan wilayah seluruh tanah Jawa. Dalam periode kepemimpinanaya banyak terjadi proses penaklukan untuk berbgai wilayah ditanah Jawa. Hampir seluruh wilayah Pulau jawa dari Pasuruan sampai Cirebon berhasil masuk dalam wilayah kekuasaannya. Begitupula daerah pesisir seperti Surabaya dan Pulau Madura masuk dalam wilayah daulat pemerintahannya. Pada masa pemerintahannya, Mataram juga menjalin kerjasama dan hubungan diplomatic dengan kerajaan lain, seperti Makasar yang merupakan kerajaan terkuat di Sulawesi dalam bentuk perdagangan. Biografi Sultan Agung , kalau beliau mempersatukan wilayah bukan hanya dari jalur militer, namun juga melalui strategi kebudayaan. Salah satu karya beliau yang masih dipakai saat ini adalah Kalender Jawa Islam yang merupakan perpaduan Kalender Hijriah yang dipakai Jawa pesisir utara dengan Kalender Saka yang dipakai penduduk pedalaman pulau Jawa. Beliau juga orang yang ahli dalam bidang sastra sebagai tuntunan hidup ketununannya dalam naskah mistik Sastra Gending. Beliau juga meletakkan pondasi perekonomian pada sector pertanian, sebagai sebuah kewajaran, karena kerajaannya berada pada wilayah pedalaman.

Sultan Agung dikenal sebagai raja terbesar dinasti kerajaan Mataram Islam yang menjadikan kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaan. Pada masa pemerintahannya. Penjajah Belanda melalui V.O.C sudah masuk ke tanah Jawa dan berhasil menguasai Jayakarta dan mengganti dengan nama Batavia. Awalanya terjadi hubungan perdagangan antara Kerajaan Mataram dengan V.O.C. Namun terjadi perbedaan pandangan hingga akhirnya terjadi perseteruan. Sultan Agung memerintahkan untuk menyerang Batavia yang dikuasai V.O.C pada 27 Agustus 1628 dengan menunjuk Tumenggung Bahureksa (Bupati Kendal) sebagai pimpinannya. Bulan Oktober tiba lagi pasukan Mataram di Batavia dipimpin Pangeran Mandurareja yang merupakan cucu Ki Juru Martani. Total pasukan Mataram saat itu sebesar 10.000 prajurit dan terjadi peperangan di benteng Holandia. Karena kurangnya perbekalan, pasukan mataram mengalami kekalahan. Pada biografi Sultan Agung dijelaskan, setelah kegagalan penyerangan pertama, Beliau melakukan evaluasi. Bulan Mei 1629, Mataram mengirimkan kembali pasukan ke Batavia dipimpin Adipati Ukur, yang disusul pada bulan Juni 1629 oleh pasukan yang dipimpin Adipati Juminah. Total pasukan yang dikirim 14.000 prajurit. Untuk mengantisipasi kegagalan pertama, Sultan agung memerintahkan dibangunnya lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebon. Rupanya terjadi pengkhianatan didalam pasukan,sehingga informasi tersebut bocor, sehingga V.O.C memusnahkan semua lumbung padi tersebut dan mataram mengalami kekalahan untuk kedua kalinya. Rencana penyerangan ketiga dilakukan dengan mengirim orang-orang Mataram untuk membuka areal persawahan di Sumedang dan Purwakarta, namun gagal karena beliau Wafat terlebih dahulu.

Biografi Sultan Agung mengisahkan, kalau beliau merupakan orang yang egaliter. Guna menghilangkan kesenjangan antara para bangsawan dan pejabat kerajaan, beliau menetapkan penggunaan bahasa bagongan dalam keseharian. Perubahan struktur bahasa Jawa ini guna menciptakan keguyuban dan menghilangkan ewuh pakewuh yang berlebih untuk mengutarakan pendapat dari para pejabat tingkat bawah ke atasnya atau pula untuk menyampaikan gagasan kepada bangsawan termasuk beliau sebagai seorang raja. Asimilasi budaya juga merambah ke wilayah Sunda, salah satunya ditandai dengan perubahan bahasa Sunda menjadi halus dan sangat halus yang semula hanya ada pada bahasa Jawa.

Biografi Sultan Agung memberikan informasi tentang kemampuan Sultan Agung yang tidak hanya tampak pada luarnya saja, namun juga pada sisi batiniah beliau. Sultan Agung, termasuk orang yang taat beribadah dan tetap pula menghayati nilai-nilai leluhur Jawa. Sultan Agung mengetahui ajalnya sudah dekat pada tahun 1645. Maka pada tahun tersebut, beliau memerintahkan pembangunan Astana Imogiri di Bantul sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja kesultanan Mataram. Pada tahun yang sama, beliau juga menuliskan Sastra Gending sebagai wejangan dan tuntunan kehidupan anak turunnya. Dan betul, kewaskitaannya terbukti, pada tahun 1645 seusai pembangunan Astana Imogiri beliau wafat dan menjadi penghuni pertama Astana Imogiri.

    Penghargaan Sultan Agung    

  • Gelar Pahlawan Nasional S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.
Seperti itulah ulasan Biografi Sultan Agung salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Kesultanan Mataram yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Sultan Agung.

Biografi Ir. Soekarno ”Presiden Pertama Republik Indonesia”

Anonymous Add Comment

    PROFIL SOEKARNO    

Biografi Ir. Soekarno ”Presiden Pertama Republik Indonesia”
Nama lahir : Kusno Sosrodihardjo
Lahir : Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901
Meninggal : Jakarta, 21 Juni 1970 (umur 69)
Makam : Blitar, Jawa Timur
Kebangsaan : Indonesia
Zodiac : Gemini
Jabatan: Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966
Ayah : Raden Soekemi Sosrodihardjo
Ibu : Ida Ayu Nyoman Rai

    BIOGRAFI SOEKARNO    

Siapa yang tidak kenal dengan Ir. Soekarno. Semua orang di Indonesia pasti kenal dengan beliau. Beliau adalah Presiden pertama Republik Indonesia. Sebagai rakyat Indonesia dan mencintai sejarah, anda harus mengetahui biografi Ir.Soekarno. beliau merupakan sosok yang banyak dikagumi oleh semua orang. Berkat perjuangan beliau, Indonesia bisa merdeka dari tangan para penjajah. Bapak ir. Soekarno lebih dikenal dengan nama bung karno. Beliau lahir di Blitar pada tanggal 6 juni 1901. Nama asli dari Bung karno adalah Koesno Sosrodiharjo. Mari kita bahas lebih lanjut tentang perjalanan hidup bung karno.

Nama Soekarno diberi ketika soekarno sering mengalami sakit ketika memiliki nama Koesno Sosrodiharjo. Menurut orang zaman dulu, orang tersebut keberatan nama sehingga sering sakit. Dari beberapa buku biografi Ir soekarno menyebutkan bahwa nama dari bapak Ir soekarno adalah Raden Soekemi Sosrodihardjon dan beliau mempunyai ibu yang bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Bung karno meninggal dunia pada umur 69 tahun yaitu pada tanggal 21 juni 1970 di Jakarta. Banyak sekali sejarah yang menceritakan tentang masa-masa kejayaan beliau. Ketika masih kecil beliau tinggal bersama kakeknya di daerah Tulungagung, jawa timur.

Pada saat beliau berumur 14 tahun beliau diajak untuk tinggal di Surabaya dan bersekolah di Hoogere Burger School (H.B.S) oleh teman ayahnya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto. Dari buku biografi Ir. Soekarno diceritakan bahwa beliau mulai kenal dengan pemimpin serikat islam pada saat beliau tinggal di Surabaya. Pada saat itu serikat islam di pimpin oleh Bapak Tjokroaminoto. Pada saat itu juga soekarno mulai gabung dengan organisasi Pemuda java atau Jong Java. Bung karno tamat dari sekolah hoogere burger School pada tahun 1920. Setelah itu beliau melanjutkan sekolah di ITB yang dulu bernama Technische Hoge School dan lulus pada tahun 1925.

Jika melihat dari biografi Ir. Soekarno beliau banyak mendirikan dan bergabung dengan berbagai organisasi. Pada saat tinggal di bandung, beliau pernah mendirikan organisasi Algemene Studi Club pada tahun 1926. Pada tahun 1927 Ir soekarno merubah organisasi ini menjadi Partai Nasional Indonesia. Ketika mendirikan Partai Nasional Indonesia inilah, bung karno ditangkap oleh Belanda pada bulan desember 1929 dan beliau dibebaskan pada bulan desember tahun 1931. Hal itu juga dikarenakan Pledoi Indonesia menggugat yang sangat terkenal pada waktu itu.

Ir soekarno mempunyai 3 istri, istri pertama bernama Fatmawati dan mempunyai anak yang bernama rachmawati, megawati, Guntur dan juga guruh. Dari istri keduanya yang bernama hartini beliau mempunyai dua anak yang bernama bayu dan taufan. Istri ketiga beliau merupakan seorang wanita yang mempunyai kebangsaan Jepang yang bernama naoko nemoto dan berganti nama bernama ratna sari dewi dan dikarunia anak bernama kartika. Ketika berbicara tentang biografi Ir. Soekarno memang tidak ada habisnya. Ada banyak sekali sejarah tentang perjalanan hidup presiden pertama Indonesia ini.
“Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”
“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”
“Bangunlah suatu dunia dimana semuanya bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.”
“Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tapi budak.”
“Kalau perempuan itu baik, maka jayalah negara. Tetapi kalau perempuan itu buruk, maka runtuhlah negara.”

    PENDIDIKAN SOEKARNO    

  • Pendidikan sekolah dasar di Eerste Inlandse School, Mojokerto
  • Pendidikan sekolah dasar di Europeesche Lagere School (ELS), Mojokerto (1911)
  • Hoogere Burger School (HBS) Mojokerto (1911-1915)
  • Technische Hoge School, Bandung (sekarang berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung) (1920)

    PENGHARGAAN SOEKARNO    

  • Gelar Doktor Honoris Causa dari 26 universitas di dalam dan luar negeri antara lain dari Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin, Institut Agama Islam Negeri Jakarta, Columbia University (Amerika Serikat), Berlin University (Jerman), Lomonosov University (Rusia) dan Al-Azhar University (Mesir). 
  • Penghargaan bintang kelas satu The Order of the Supreme Companions of OR Tambo yang diberikan dalam bentuk medali, pin, tongkat, dan lencana yang semuanya dilapisi emas dari Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, atas jasa Soekarno dalam mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh negara maju serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan dalam melawan penjajahan dan membebaskan diri dari politik apartheid. Penyerahan penghargaan dilaksanakan di Kantor Kepresidenan Union Buildings di Pretoria (April 2005). 
Seperti itulah ulasan biografi Ir. Soekarno bapak bangsa Indonesia dan juga sosok presiden RI pertama yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Soekarno.

Biografi Jenderal Sudirman : Guru Sekaligus Pemimpin Prajurit

Anonymous Add Comment

    PROFIL JENDRAL SUDIRMAN    

Biografi Jendral Sudirman Tokoh Pahlawan Nasional Nama Lengkap : Raden Soedirman
Tempat Lahir : Desa Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : 24 Januari 1916
Zodiac : Aquarius
Kebangsaan : Indonesia
Meninggal : Magelang, 29 Januari 1950
Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Semaki
Agama : Islam

    BIOGRAFI JENDRAL SUDIRMAN    

Jendral Sudirman Pahlawan Nasional yang sangat terkenal dengan taktik bergerilya untuk melawan penjajah. Biografi Jendral Sudirman pernah ditulis dalam sebuah buku yang berjudul Guru bangsa, Sebuah Biografi Jenderal Sudirman yang ditulis oleh Sardiman pada tahun 2008. Beliau dilahirkan di Bodas Karang Jati Purbalingga Jawa tengah, pada hari Senin 24 Januari 1916. Beliau memiliki nama lengkap Raden Soedirman, namun lebih dikenal dengan nama jenderal Sudirman. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga sederhana, ayahnya bernama Karsid Kartowirodji dan ibunya Siyem. Sejak kecil jendral Sudirman dirawat oleh Raden Tjokrosoenarjo dan istrinya bernama Teoridowati yang merupakan sebuah keluarga Priyayi.  

Biografi Pendidikan Jendral Sudirman di mulai Hollandsch Inlandsche School, namun ketika tahun kelima Jendral Sudirman berhenti dari sekolahnya dan kemudian melanjutkan sekolahnya di Yogyakarta di sekolah Taman Siswa. Setelah itu Jendral Sudirman melanjutkan ke Sekolah Menengah Wirotomo. Jenderal Sudirman juga berbakat dalam berbagai ilmu pelajaran dan ia juga memperdalam ilmu agama. Berdasarkan buku biografi Jendral Sudirman, gurunya Suwarjo Tirtosupono dan Raden Muhammad Kholil mendidiknya dengan baik. Setelah lulus dan setelah kematian ayah tirinya beliau yang berusia 19 tahun juga sempat mengajar di sekolah Wirotomo. Jendral Sudirman juga aktif di organisasi Kepanduan Putra Muhammadiyah, beliau memimpin Hizboel Wathan.  Selanjutnya beliau juga belajar satu tahun di sekolah guru di Surakarta yaitu di Kweekschool.

Setelah itu Jenderal Sudirman juga lebih giat bergerak di organisasi kepemudaan Muhammadiyah. Jenderal Sudirman dikenal sebagai pemimpin yang pintar untuk bernegosiasi. Jendral Sudirman juga menikah dengan teman saat sekolah dulunya. Perempuan yang dinikahinya bernama Alfiah dan mempunyai keturunan 4 orang putra dan seorang putri. Sebelum kedatangan tentara Jepang, jenderal Sudirman di minta oleh Belanda untuk memberi pelatihan terhadap tentara pribumi tentang pelatihan kemiliteran. Dan pada tahun 1942, kedatangan Jepang di Indonesia semakin memperburuk keadaan ekonomi dan kesejahteraan rakyat pribumi. Banyak sekolah yang ada ditutup oleh Jepang, salah satunya adalah sekolah yang tempat beliau mengajar. Namun setelah beberapa waktu berlalu, dalam buku biografi Jendral Sudirman, beliau mampu bernegosiasi dengan pemerintah jepang untuk membuka sekolah y tersebut. 

Pada masa pemerintahan Jepang, berdasarkan biografi jendral Sudirman, beliau aktif memimpin organisasi bentukan Jepang yang bertujuan menjaga keamanan Indonesia dari pihak sekutu. Sudirman memimpin Syu Sangikai, bergabung dengan Pembela TanaH Air (PETA). Oleh karena itu Beliau mengikuti pelatihan di Bogor. Karena kepiwaiannya, Jendral Sudirman diangkat sebagai Komandan dan dipersenjatai dengan peralatan lengkap dan ditempatkan di Batalion Kroya, Banyumas, Jawa Tengah. Hingga sampai pada terjadinya Bom Atom Nagasaki dan Hirosima, jendral Sudirman membantu Soekarno hatta dan pejuang lainnya untuk mengamankan persiapan kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, negara Indonesia perlu membentuk pasukan keamanan/ tentara Indonesia.

Kisah perjuangan Jendral Sudirman berlanjut dengan bergabungnya beliau dengan BKR yang akhirnya berganti menjadi TKR (yang sekarang disebut TNI). Pada masa it pangkat jendral Sudirman mulai berkembang karena keuletannya. Mulai dari pangkat colonel letnan jenderal, jenderal, hingga jenderal Besar. Selain itu jenderal Sudirman juga berperan secara langsung dalam perang Ambarawa dalam mempertahankan dan mengusir tentara sekutu yang diboncengi NICA. Setelah menyusun perjanjian linggarjati dan melawan Belanda dalam Agresi Militer ke 1 dan 2, setahun kemudian jendral sudirman meninggal karena penyakit TBC yang beliau rasakan bertahun-tahun lamanya. Demikian lah biografi Jendral Sudirman, semoga bermanfaat.
“Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu kasta yang berdiri di atas masyarakat. Tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.”
“Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagipula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga.”
“Karena kewajiban kamulah untuk tetap pada pendirian semula, mempertahankan dan mengorbankan jiwa untuk kedaulatan negara dan bangsa kita seluruhnya.”
“Pelihara TNI, pelihara angkatan perang kita. Jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun juga. Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan prajurit yang mudah dibelokkan haluannya. Kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.”
“Kemerdekaan satu negara, yang didirikan diatas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga.”
“Jangan mudah tergelincir dalam saat-saat seperti ini, segala tipu muslihat dan provokasi-provokasi yang tampak atau tersembunyi dapat dilalui dengan selamat, kalau kita waspada dan bertindak sebagai patriot.”

    PENDIDIKAN JENDRAL SUDIRMAN    

  • Sekolah Taman Siswa
  • HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tetapi tidak sampai tamat. 
  • Pendidikan Militer Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor

    KARIR JENDRAL SUDIRMAN    

  • Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
  • Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
  • Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
  • Komandan Batalyon di Kroya

    PENGHARGAAN JENDRAL SUDIRMAN    
  • Jenderal Besar Anumerta Bintang Lima (1997)
Seperti itulah ulasan Biografi Jenderal Sudirman salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Jawa Tengah yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Jendral Sudirman.