Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts

Biografi Mas Agustinus Adisutjipto, Bapak Penerbang Indonesia

Add Comment

   Profil Mas Agustinus Adisutjipto   

Nama Lengkap : Mas Agustinus Adisutjipto
Alias : No Alias

Agama : Katolik


Tempat Lahir : Salatiga, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Senin, 3 Juli 1916

Meninggal : 29 Juli 1947
Dimakamkan : Monumen Ngoto Bantul

Zodiac : Cancer

Warga Negara : Indonesia

Gelar : Pahlawan Nasional

   Biografi Mas Agustinus Adisutjipto   

Mas Agustinus Adisucipto adalah tokoh Pahlawan Nasional yang lahir di Salatiga, Jawa Tengah. Ia juga adalah seorang Marsekal Muda Anumerta. Pria kelahiran 3 juli 1916 ini adalah seorang calon dokter. Pendidikan pernah ia tempuh di GHS (Geneeskundige Hoge School). Hanya saja, ia juga ternyata memiliki ketertarikan lain, yaitu Dunia Dirgantara. Ini membuatnya membuat keputusan besar untuk hijrah ke dunia tersebut dan menguburkan impiannya semula menjadi dokter. Ia pernah menjadi anggota jajaran Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Keputusan tersebut diambilnya setelah Indonesia menang dalam pertempuran melawan penjajah Jepang dan Belanda. Kemampuannya dalam menerbangkan pesawat didapatkannya dengan menuntut pendidikan di Militaire Luchtvaaart Opleiding School yang merupakan salah satu sekolah penerbangan di jamannya. Karena dinilai sangat ahli dalam menerbangkan pesawat, ia diminta untuk menjadi kepala staf AURI dan permintaan itu disambutnya dengan baik.

Untuk menunjukkan dedikasinya dalam Dunia Dirgantara, ia akhirnya membangun sebuah sekolah penerbangan yang lokasinya ada di Yogyakarta. Sekolah tersebut didirikan pada 15 November tahun 1945. Di tahun yang sama, ia berkesempatan untuk melakukan penerbangan perdana menggunakan pesawat jenis Curen. Saat Agresi Militer Belanda I terjadi, ia diutus untuk berangkat ke India dalam rangka mengumpulkan bantuan obat-obatan. Sayangnya, pesawat yang penuh dengan obat-obatan tersebut tidak berhasil mendarat di Tanah Air akibat diserang oleh musuh.

Pesawat yang awaknya terdiri atas Abdulrahman Saleh, Adisucipto, Adi Sumarmo, Dan F.A Gani itupun akhirnya terhempas ke tanah setelah sebelumnya digempur oleh peluru yang berasal dari pesawat belanda berjenis P-40 Kittyhawk. Tidak ada yang selamat dalam peristiwa tragis tersebut selain F.A Gani. Setelah wafat pada 27 Juli 1947, jenazah Adisucipto diboyong ke pemakaman umum Kuncen I dan II untuk dikebumikan.

Makam itu kemudian dipindah dari lokasi awalnya ke monumen perjuangan yang bertempat di Bantul, Jogjakarta. Atas kegigihannya dalam membela Tanah Air, ia dianugerahkan gelar Bapak Penerbang Indonesia dan namanya tercatat dalam jajaran Pahlawan Nasional sesuai ketetapan Keppres no. 071/tk/1974 tgl 9 November 1974. Lihat : Biografi Ir. Soekarno Bapak Proklamator Indonesia

   Pendidikan Agutinus Adisutjipto   


  • MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, SMP Belanda)
  • AMS (Algemene Middelbare School, SMA bagian Ilmu Pasti Alam), Semarang
  • GHS (Geneeskundige Hoge School, Sekolah Tinggi Kedokteran), Jakarta
  • Sekolah Penerbangan (Militaire Luchtvaaart Opleiding School), Kalijati, Jawa Barat

   Karir Agutinus Adisutjipto   

  • Marsekal Muda Anumerta

   Penghargaan Agutinus Adisutjipto   

  • Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 071/TK/1974 tanggal 9 November 1974
  • Bapak Penerbang Indonesia
Demikian penjelasan singkat Biografi Mas Agustinus Adisutjipto selaku Marsekal Muda (Anumerta) yang telah dikenal sebagai bapak penerbang Indonesia.

Biografi Lengkap Nyi Ageng Serang

Anonymous Add Comment

   Profil Nyi Ageng Serang   

Biografi Lengkap Nyi Ageng SerangNama Lengkap : Nyi Ageng Serang
Alias : Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi
Profesi : Pahlawan Nasional
Agama : Islam
Tempat Lahir : Serang, Jawa Tengah
Warga Negara : Indonesia
Ayah : Pangeran Natapraja

   Biografi Nyi Ageng Serang   

Seorang wanita yang pemberani kelahiran Serang, Banten ini dulunya adalah wanita biasa yang spesial. Ia adalah keturunan dari Sunan Kalijaga, selain itu ia adalah panglima perang dari Sri Sultan hamengkubuwuno ke I bernama asli Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi atau sekarang lebih dikenal dengan Nyi Ageng Serang. Beliau memperoleh nama besarnya ketika beliau menjadi penguasa serang. Hal ini dipicu dari kegigihan beliau untuk melawan penjajah sejak kecil. Sejak anak anak beliau telah terbiasa dengan perang. Beliau selalu membantu dalam menyusun siasat perang melawan penjajah. Nyi Agen merupakan wanita yang istimewa yang membuat istimewa dan berbeda dari wanita kebanyakan pada waktu itu. Biografi Nyi Ageng Serang sangat berkesan.

Pertama karena beliau pemberani. Beliau adalah wanita penguasa serang yang lalu disebut Nyi Ageng Serang. Beliau tak gentar melawan penjajah yang berusaha menguasai tanah kelahirannya di serang. Beliau selalu berusaha melawan para penjajah dengan penuh hati dengan mengorbankan jiwa serta raga untuk kemerdekaan bangsa utamanya tanah kelahirannya. Beliau bahkan terus menerus berjuang demi tanah kelahirannya sampai beliau wafat. Itulah mengapa biografi Nyi Ageng Serang dibuat.

Di masa mendatang beliau juga punya keturunan bernama Ki hajar dewantara atau bapak pendidikan negara Indonesia. beliau adalah wanita dengan garis keturunan yang tak hanya baik namun juga keturunan yang semata mata hidup untuk kemajuan dan kemerdekaan bangsa dan negaranya. Beliau bahkan telah menjadi panglima perang dan tak gentar ikut berperang dengan prajurit prajurit pria yang waktu itu sama sama membela Indonesia dari serangan penjajahan asing. Beliau tak mala bahkan takut demi kemerdekaan tanah kelahirannya. Sungguh pantas biografi Nyi Ageng Serang ada untuk mengenang jas jasa beliau di tanah Jawa khususnya serang.

Selanjutnya dari biografi Nyi Ageng Serang adalah kegigihan beliau hingga beliau lanjut usia. Tahukah bahwa Nyi Ageng Serang masih saja ikut berperang walau usianya sudah Menginjak 73 tahun. Beliau mengikuti perang Diponegoro pada waktu itu untuk melawan dan mengusir penjajah Belanda dari tanah kita ini. Beliau pada waktu itu sudah lebih lemah dari pada sewaktu beliau masih muda dulu.

Akhirnya beliau pun ditandu dengan menggunakan tandu dalam memimpin perang besar tersebut. Beliau masih saja bersikeras untuk terus ikut perang. Hingga akhirnya ketika tubuh beliau makin lemah ia pun akhirnya mundur dari medan peperangan dan memilih untuk beristirahat. Pada tahun 1828 beliau menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit di tanah kelahirannya. Beliau telah meninggalkan tanah serang dengan kemerdekaan dari penjajah waktu itu.

Baca juga : Biografi Ir. Soekarno Presiden Pertama Republik Indonesia

   Penghargaan Nyi Ageng Serang   
  • Gelar Pahlawan Nasional
Seperti itulah biografi Nyi Ageng Serang sebagai pahlawan tangguh dalam membela Negara. Semoga kisah pahlawan diatas dapat menginspirasi pembaca biografipahlawan.com.

Biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman - Pahlawan Wonosobo Yang Berintelejen Tinggi

Anonymous Add Comment

    Profil Siswondo Parman    

Letnan Jenderal Siswondo Parman Pahlawan Revolusi
Nama Lengkap : Siswondo Parman

Profesi : -

Agama : Islam

Tempat Lahir : Wonosobo, Jawa Tengah

Tanggal Lahir : Minggu, 4 Agustus 1918

Meninggal : Jakarta, 1 Oktober 1965 (umur 47)

Zodiac : Leo

Warga Negara : Indonesia

    Biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman    

Siapa yang tidak tahu pahlawan asal daerah Wonosobo berikut ini. Seorang pahlawan dengan memiliki intelejen dan kegigihan dalam melawan penjajah ini adalah salah satu perwira serta letnan dari 7 letnan yang telah gugur di medan perang saat melawan pasukan PKI dalam peristiwa G30S untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Untuk lebih mengenal sosok pahlawan Wonosobo ini, akan diulas kembali tentang sejarah dan biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman.

Dalam biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman, ia adalah salah satu jenderal yang lahir di Wonosobo tanggal 4 Agustus tahun 1918. Pahlawan Siswono adalah salah satu pahlawan revolusi yang dikenal sangat cerdas dalam intelejennya. Pahlawan yang biasa dikenal dengan namanya S.Parman ini adalah Pahlawan yang gugur dalam peristiwa G30S dan ia pun meninggal diusianya yang ke 47 dalam peristiwa tersebut. Jenderal S.Parman adalah salah satu jenderal yang mengetahui akan banyaknya kegiatan serta taktik dari Pasukan PKI. Ia juga menolak akan terbentuknya kaum dari buruh dan petani yang disebut dengan Angkatan Kelima.

Dalam peristiwa G30S banyak terjadi penculikan yang dilakukan oleh salah satu perwira PKI bernama Resimen Tjakrabirawa termasuk rencana untuk menculik Jenderal Intelejen tersebut. Dan diduga bahwa kakak kandung dari Parman lah yaitu Ir.Sakirman yang menjadi pemimpin Politbiro CC PKI dari peristiwa tersebut. Dalam biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman disebutkan bahwa ia juga pernah singgah dan menempuh pendidikan di SD, SMP, dan sekolah tinggi di bagian kedokteran akan tetapi sebelum lulus Negara Jepang sudah menjajah dan menduduki Negara Indonesia, sehingga ia pun tidak bisa memperoleh gelar dokter tersebut. Kemudian ia pun melanjutkan untuk bekerja di Jawatan Kempeitai. Di tempat tersebut, Jenderal sempat di curigai oleh Jepang dan kemudian di masukan di penjara akan tetapi terbebas juga. Setelah terbebas, ia malah mendapat pendidikan baru di Kenpei Kasya Butai Jepang, dan setelah selesai ia pun kembali ketanah air dan bekerja kembali ke Jawatan Kempeitai.

Kemudian di awal kariernya, Jenderal Parman mengikuti kegiatan kemiliteran dengan masuk dan ikut dalam kegiatan TKR yang dibentuk setelah kemerdekaan dari Indonesia. Desember 1945, jenderal diangkat menjadi salah satu staf di Markas Besar di Yogyakarta sebagai Kepala Staf Polisi Tentara. Kemudian jenderal melakukan perang geriliya dalam melawan penjajah pada Agresi Militer II untuk melawan Belanda. Kemudian di bulan Desember 1949 ia pun dipindah tugaskan di Jakarta Raya untuk menjabat bagian kepala staf Gubernur kemiliteran. Dan salah satu pencapaian yang ia raih adalah pembongkar rahasia dari gerakan Angkatan Perang yang bernama Ratu Adil (APRA). Kegiatan pembongkaran tersebut dipimpin oleh Westerling di Jakarta. Maret 1950, jenderal Parman kemudian diangkat sebagai Kepala Statf G, lalu dikirim ke Negara AS untuk mengikuti adanya pendidikan baru yang bernama Military Police School. Dalam biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman, ia lalu ditugaskan di bagian Kementrian Pertahanan setelah kembali dari AS. Ia diangkat menjadi atasan militer Negara RI di London, dan tahun 1959 di Inggris. Tahun 1964 ia lalu ditugaskan sebagai Asisten I dari panglima atau menteri bagian AD (angkatan darat) dengan memperoleh Pangkat Mayor Jenderal.

Dengan pangkatnya tersebut, ia juga sangat dekat dengan presiden Soekarno dan ia merupakan intelejen yang mengetahui akan rencana PKI dalam membentuk angkatan kelima. Ia lalu dimusuhi oleh para perwira PKI yang mana pada saat itu pengaruh dari pasukan PKI sangat marak untuk para petani dan buruh dari Indonesia. Akhirnya, jenderal pun bersama dengan pasukan AD bersepakat akan menolak dari pembentukan angkatan kelima tersebut. Jenderal Parman pun kemudian disengiti oleh para pasukan PKI dan menjadi sasaran penculikan serta pembunuhannya. Tanggal 1 Oktober 1965 ia pun telah dibunuh dan jasadnya di buang di sumur tua daerah Lubang Buaya. Kemudian ia pun dimakamkan di taman makam pahlawan daerah Kalibata dan gugur sebagai pahlawan revolusi dengan pangkat Letnan Jenderal. Itulah sekilas tentang biografi Letnan Jenderal Siswondo Parman, semoga informasi serta wacana diatas dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

   PENDIDIKAN   

  • HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Wonosobo
  • MULO (Meer Uitgebried Lager Onderwijs) di Yogyakarta
  • AMS (Algemeene Middelbare School)
  • Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA) di Jakarta
  • Sekolah Tinggi Hukum

   KARIR   

  • Awal karier militer S. Parman dimulai dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Lalu pada akhir bulan Desember 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi (PT) di Yogyakarta.
  • Di bulan Desember 1949 setelah Agresi Militer II Belanda, ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya.
  • Sebelum dikirim di Amerika untuk mengikuti pendidikan di Military Police School, ia diangkat menjadi Kepala Staf G.
  • Setelah ia kembali dari AS, ia ditugaskan di Kementrian Pertahanan untuk kemudian diangkat menjadi Atase Militer RI di London, Inggris tahun 1959. Lima tahun kemudian yaitu pada tahun 1964, ia diserahi tugas sebagai Asisten I Menteri / Panglima Angkatan Darat (Men / Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal

   PENGHARGAAN   

  • Siswondo Parman alias S. Parman mendapatkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Revolusi
Seperti itulah pembahasan mengenai Letnan Jendral Siswondo Parman Pahlawan Revolusi. Semoga dengan informasi diatas sahabat biografipahlawan.com dapat mengenal lebih baik sosok pahlawan indonesia.

Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo - Pahlawan Revolusi

Anonymous Add Comment

   Profil Katamso Darmokusumo   

Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo
Nama : Katamso Darmokusumo
Tempat Lahir : Sragen, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Senin, 5 Februari 1923
Meninggal : Yogyakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 42 tahun
Makam : Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia

   Biografi Katamso Darmokusumo   

Biografi Brigadir Jenderal katamso darmokusumo memberikan informasi, bahwa beliau dilahirkan pada hari senin, 5 februari 1923 di Sragen, jawa Tengah. Selepas menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, Ia melanjutkan pada pendidikan tentara Peta di Bogor. Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Beliau bergabung dengan TKR yang berangsur-angsur berubah menjadi TNI. Ketika terjadi agresi militer belanda, beliau memimpin pasukan untuk berkali-kali melakukan pertempuran mengusir Belanda dari Indonesia. Pada masa awal kedaulatan Republik Indonesia masih sering dirongrong dengan berbagai peristiwa baik dalam maupun luar negeri.

Setelah kedaulatan Negara Indonesia di akui di mata Internasional, terjadi pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah. Brigjen Katamso dan pasukannya diserahi tugas untuk menumpas pemberontakan tersebut. Pada Biografi Brigadir Jenderal Katamso darmokusumo disebutkan, bahwa pada tahun 1958 beliau menjabat sebagai Komandan batalyon ``A`` yang tergabung dalam pasukan Komando Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani. Pasukan ini bertugas menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh PRRI/Peremesta.

Makam Katamso Darmokoesoemo
Makam Katamso Darmokoesoemo
Biografi Brigadir Jenderal katamso Darmokusumo menginformasikan tentang perjalanan karir militer beliau selanjutnya. Pada tahun 1963 Brigjen Katamso diamanahi jabatan sebagai Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta. Pada masa itu ideology PKI telah menyebar luas dilapisan masyarakat. PKI juga menyasar kalangan terpelajar untuk bergabung dengan mereka dan diharapkan menjadi kekuatan intelektual mereka. Brigjen Katamso mencium gelagat itu sangat kuat penyebaran PKI di daerah Solo, maka beliau memutuskan untuk melakukan pembinaan kepada para mahasiswa di daerah Solo. Para Mahasiswa tersebut diberi Pelatihan Militer guna meningkatkan kecintaan kepada Negara Republik Indonesia diatas kelompok dan golongan.

Membaca Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo tertangkap dengan jelas akan aksi pemberontakan dan penculikan G. 30 S/ PKI tidak hanya berjalan di Jakarta. PKI juga membidik para perwira di daerah termasuk di wilayah Kodam VII/Diponegoro. PKI dengan menghasud beberapa anggota TNI di Yogyakarta, mereka berhasil menguasai RRI Yogyakarta. Atas insiden tersebut, Markas Korem 072 dibawah Komando Brigjen Katamso mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Brigjen Katamso termasuk perwira yang sangat tidak menyetujui keberadaan PKI, maka beliau juga termasuk salah satu perwira yang menjadi sasaran dari penculikan PKI.

PKI melancarkan penculikan terhadap komandan Korem 072 dan Kepala Staf Korem Letnan Kolonel Sugiono pada tanggal 1 Oktober 1965 sore hari. Katamso dan Sugiono dibawa ke daerah Keuntungan, dan sesampainya ditempat, mereka dipukul pakai kunci mortar hingga tewas. PKI telah mempersiapkan segala sesuatunya di daerah tersebut. Lubang telah disiapkan khusus untuk menyembunyikan jasad kedua perwira tersebut yang memang sudah menjadi target pembunuhan. Jenazah keduanya baru diketemukan pada 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak setelah dilakukan pencarian secara besar-besaran semenjak peristiwa hilangnya mereka berdua. Kemudian pada tanggal 22 Oktober 1965 jenazah mereka berdua dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo menjelaskan, atas jasa dan perjuangan beliau, pemerintah menganugerahkan sebagai Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden RI No. 118/KOTI/ tahun 1965 yang tertanggal 19 Oktober 1965.

   Karir Katamso Darmokusumo   

  • Shodanco Peta di Solo
  • Komandan Kompi di klaten
  • Komandan Kompi Batalyon 28 Divisi IV
  • Komandan Batalyon "A" Komando Operasi 17 Agustus
  • Kepala Staff Resimen Team Pertempuran (RTP)  II Diponegoro
  • Kepala Staff Resimen Riau Daratan Kodam III/17 Agustus
  • Komando Pendidikan dan Latihan (Koplat) merangkap Komandan Pusat
  • Pendidikan Infanteri (Pusdikif) di Bandung
  • Komandan Resort Militer korem 072, Komando Daerah Militer (Kodam) VII Diponegoro di Yogyakarta.

   Penghargaan Katamso Darmokusumo   

  • Gelar Pahlawan Revolusi (Tahun 1965, tanggal 19 Oktober 1965 Mendapatkan SK Presiden RI No. 118/KOTI/)

Tokoh Revolusi Indonesia lainnya:

Demikian Biografi Katamso Jenderal Darmokusumo yang sempat biografipahlawan.com sajikan kepada pembaca, semoga dapat bermanfaat dan menjadi tauladan atas kegigihannya.

Biografi Gatot Subroto Tentara Tiga Zaman

Anonymous Add Comment

    Profil Gatot Subroto    

Biografi Gatot Subroto Tentara Tiga Zaman
Nama : Gatot Subroto
Tempat Lahir : Banyumas,  Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Minggu, 10 Oktober 1909
Zodiac : Balance
Meninggal : Jakarta, 11 Juni 1962 (umur 54)
Makam: Ungaran, kabupaten Semarang
Warga Negara : Indonesia




    Biografi Gatot Subroto    

Nama Gatot Subroto diabadikan dalam sebuah nama jalan di daerah Jakarta. Pengabdiannya dalam sebuah nama jalan mengartikan bahwa Gatot Subroto ialah seseorang yang patut dikenang jasanya. Dikenal sebagai seorang yang pemberani, tegas, dan pantang akan kesewenang-wenangan. Hal ini tertanam mulai dari sejak ia kecil dan terbukti dengan keberaniannya ketika berkelahi dengan anak kompeni yang menganggap dirinya memiliki derajat tinggi lantas menindas orang, membuat Gatot Subroto tidak tinggal diam. Agar tahu lebih jelas, mari kita ulas bersama biografi Gatot Subroto.

Biografi Gatot Subroto berawal dari keberaniannya di masa kecil. Putra kelahiran Banyumas pada tanggal 10 Oktober 1909 ini sempat mengenyam pendidikan di Europesche Lagere School (ELS) namun tak sampai tamat. Dikeluarkan dari ELS karena ulah keberaniannya, Gatot Subroto kemudian beralih sekolah di Holands Inlandse School (HIS). Ia menyelesaikan pendidikan formalnya di sana, namun  tidak melanjutkan pendidikannya ke sekolah yang lebih tinggi. Ia memilih bekerja sebagai pegawai. Pilihan bekerja sebagai pegawai kemudian ia alihkan ke militer karena tidak memuaskan jiwanya. Pada tahun 1923 beliau memutuskan untuk masuk sekolah militer di magelang. 

Biogafi Gatot Subroto berkesan karena ia adalah seorang tentara pada tiga zaman. Selepas ia lulus dari sekolah militer di Magelang, Gatot Subroto menjadi anggota KNIL (Tentara Hindia Belanda) hingga akhir kependudukan Belanda di Indonesia. Setelah itu Ia diangkat anggota PETA (Pembela Tanah Air) pada masa penjajahan Jepang dan menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) setelah kemerdekaan Indonesia. Ia ikut serta dalam penumpasan PKI tahun 1948. Ia pula menjadi pioneer pembentukan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Watak seorang tentara yang membela keadilan memang terlahir dalam darahnya. Bersifat berani, tegas, bersolidaritas tinggi dan anti akan kesewenang-wenangan menjadi ciri khasnya. 

Biografi Gatot Subroto tak hanya mengesankan keberanian seorang prajurit militer, namun juga orang yang memiliki jiwa empati yang tinggi. Meskipun ia adalah tentara baik pada masa penjajahan, namun ia menaruh perhatian terhadap orang kecil tertindas. Tak ayal, ia pernah menyumbangkan gajinya untuk membantu keluarga orang hukuman yang berada di bawah pengawasannya. Pada tahun 1945-1950 Ia dipercaya untuk mengemban jabatan penting, yakni menjadi Panglima Corps Polisi Militer, Panglima Divisi II dan juga menjabat sebagai Gubernur Militer dari daerah Surakarta. Semasa ia menjadi Gubernur ia menumpas pemberontakan PKI dengan gemilang dan akhirnya ia dipercaya menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium (T & T)  IV Diponogoro. 

Puncak karir Gatot Subroto yakni ketika diangkat menjadi Wakasad (Wakil Kepala Staff Angkatan Darat pada tahun 1956. Ia dikenal sebagai pemimpin yang memiliki perhatian besar  terhadap pembinaan perwira muda. Menurutnya pembinaan perwira dapat berjalan maksimal jika akademi militer setiap angkatan menyatu yakni Angkatan Darat, Laut dan Udara. Berkat gagasannya, akhirnya terbentuklah AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Demikian biografi Gatot Subroto dengan perjalanan militernya. Ia wafat di Jakarta pada tanggal 11 Juni 1962 pada usia 55 tahun. Seminggu setelah kematiannya, beliau dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan dikuatkan dengan SK Presiden RI No. 222 Tahun 1962.

    Pendidikan Gatot Subroto    

  • Europeesche Lagere School (ELS)
  • Holands Inlandse School (HIS)
  • Sekolah Militer, Magelang, 1923
  • Pendidikan Tentara Pembela Tanah Air (Peta)
  • Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

    Karir Gatot Subroto    

  • Wakil Kepala Staff Angkatan Darat, 1953
  • Panglima Tentara & Teritorium (T & T) IV Diponegoro
  • Gubernur Militer Daerah Surakarata dan sekitarnya, 1945-1950
  • Panglima Corps. Polisi Militer, 1945-1950
  • Panglima divisi II, 1945-1950 
  • Komandan Batalyon
  • Komandan kompi, Sumpyuh, Banyumas
  • Anggota KNIL (Tentara Hindia Belanda)
  • Pegawai pemerintah

    Penghargaan Gatot Subroto    

  • Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional menurut SK Presiden RI No.222 tanggal 18 Juni 1962
Seperti itulah ulasan biografi Gatot Subroto pemuda indonesia kelahiran jawa tengah yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Gatot Subroto.

Biografi Yos Sudarso “Pahlawan Dari Salatiga, Jawa Tengah”

Anonymous Add Comment

    Profil Yos Sudarso    

Biografi Yos Sudarso “Pahlawan Dari Salatiga, Jawa Tengah”
Nama Lengkap : Yosaphat Soedarso
Tempat Lahir :  Salatiga, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : 24 November 1925
Zodiac : Capricorn
Meninggal : Laut Aru, 15 Januari 1962 (36 tahun)
Istri : Siti Kustini
Agama : kristen
Warga Negara : Indonesia


    Biografi Yos Sudarso    

Pahlawan satu ini adalah pahlawan yang namanya dijadikan nama jalan serta pulau di daerah Jakarta dan Papua. Tentang biografi Yos Sodarso diulas kembali hanya sebagai ilmu pengetahuan serta wawasan siapa saja para pahlawan yang gugur di medan perang melawan penjajah untuk memerdekakan bangsa dan Negara Indonesia. Pahlawan sudarso memang sangat lekat di ingatan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan bangsa Indonesia merebut Irian Barat dari penjajahan Belanda.

Dalam biografi Yos Sodarso disebutkan bahwa ia lahir di kota Salatiga, Jawa Tengah pada tanggal 24 November 1925 dan meninggal tanggal 15 Januari 1962 di Laut Aru tepat diusianya yang masih muda yaitu 36 tahun. Ia memiliki agama Kristen dan ia gugur di atas KRI macan tutul dalam sebuah peristiwa pertempuran di Laut Aru setelah ditembak oleh Hr. Ms. Eversten kapal patrol milik Belanda. Yos sudarso menyelesaikan pendidikannya di HIS Salatiga dan melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru di daerah Muntilan. Akan tetapi ia berhenti saat jepang datang dan menguasai Indonesia. Yos kemudian dipindahkan di sekolah tinggi pelayaran di Semarang dan ikut pendidikan opsir di Giyu Usamu Butai yaitu sebagai salah satu murid lulusan terbaik. Ia lalu bekerja sebagai mualim kapal milik Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia usai, ia masuk di BKR Laut yang kini dikenal sebagai TNI Laut. Ia juga terlibat operasi militer antar pulau Maluku untuk memberikan informasi tentang kemerdekaan Indonesia di bagian Indonesia Timur yang masih dijajah oleh Belanda.

Dalam biografi Yos Sodarso juga disebutkan bahwa setelah kedaulatan RI, ia kemudian diangkat sebagai komandan kapal yang kemudian memimpin di KRI Alu, KRI Rajawali, KRI Gajah Mada, dan KRI Pattimura. Tahun 1958, ia pernah menjabat hakim pengadilan tentara walaupun cuma sekitar 4 bulan. Kemudian dalam perjalanan hidup yos, ia juga pernah mengintai peribangunan kapal perang antara Indonesia dengan Italia di Negara Italia. 

Tanggal 19 Desember 1961 presiden Sukarno membentuk sebuah Tri Komando Rakyat (TRIKORA) untuk upaya pembebasan Irian Barat yang dijajah oleh Belanda. Dan ini juga tercantum dalam biografi Yos Sodarso. Presiden Sukarno membentuk sebuah komando mandala untuk pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makasar. Sebagai pemimpin operasi pembebasan, Yos mengalami tugas yang sangat berat. Kemudian ia mengadakan patrol di sekitar daerah perbatasan pada tanggal 15 Januari 1962, yakni di laut Aru dengan 3 kapal motor jenis torpedo boat yaitu KRI macan tutul, KRI harimau dan KRI macan kumbang.

Akan tetapi, Belanda sudah tahu dan mencium akan rencana Yos tersebut. kemudian Belanda menyiapkan dan menyiagakan kapal perusak berupa destroyer dan pesawat pengintai untuk membasmi pasukan dari Yos. Yos kemudian mengeluarkan perintah bertempur kepada Belanda. Yos memiliki strategi dengan KRI macan tutul di bawah pimpinannya berusaha untuk menarik perhatian dari kapal Belanda agar kedua kapal lainnya bisa melarikan diri. Akhirnya ia pun tertembak oleh musuh dan kapal KRI macan tutul pun tenggelam. Yos bersama rekan-rekannya pun gugur dan tenggelam bersama awak kapal tersebut. Ia pun gugur sebagai pahlawan nasional bangsa Indonesia. Semoga biografi Yos Sodarso di atas memberikan wacana, informasi serta pengetahuan akan sejarah serta jasa-jasa dari pahlawan RI yang telah gugur di medan perang melawan penjajah. 

    Penghargaan Yos Sudarso    

  • Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden : Keppres No. 088/TK/1973, 6 November 1973
Seperti itulah ulasan Biografi Yos Sudarso salah satu tokoh Pahlawan Nasional Indonesia dari Jawa Tengah yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Yos Sudarso.

Biografi Soepomo “Pencetus dan Arsitek UUD 1945”

Anonymous Add Comment

    Profil Soepomo    

Biografi Soepomo “Pencetus dan Arsitek UUD 1945” Tokoh Pahlawan Nasional
Nama Lengkap : Soepomo
Tanggal Lahir : 22 Januari 1903
Tempat Lahir : Sukoharjo, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Zodiac : Aquarius
Meninggal : Jakarta, 12 September 1958 (umur 55)
Makam : Pemakaman keluarga di kampung Yosoroto, Sala
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam


    Profil Soepomo    

Pahlawan nasional yang merupakan pencetus sekaligus arsitek UUD 1945 ini dikenal dengan nama Prof. Mr. Soepomo. Ia adalah seorang ahli hukum pada generasi pertama yang sudah ada ketika Indonesia merdeka. Dalam biografi Soepomo, semasa hidupnya hingga akhir hayatnya ia juga berturut serta berperan dalam pembentukan adanya sistem nasional. Nama Soepomo sering terdengar saat menempuh pendidikan di sekolah dasar maupun menengah. Berikut akan diulas kembali sejarah dari beliau, agar anda bisa mengetahui secara jelas dan mengingat kembali perjalanan hidup Soepomo saat memerdekakan Indonesia.

Prof. Mr. Soepomo lahir di kota Sukoharjo, Jawa Tengah pada tanggal 22 Januari 1903. Dalam biorafi soepomo disebutkan bahwa ia terlahir dari kalangan keluarga ningrat aristocrat jawa. Kakek dari pihak ibunya adalah Raden Tumenggung Wirjodirodjo, bupati Nayak dari Sragen. Sedangkan Kakek dari pihak ayahnya adalah raden Tumenggung Reksowardono, bupati Anom Sukaharjo pada masa kejayaannya dulu. Pada tahun 1917 pahlawan Soepomo beruntung memiliki keluarga dari keluarga priyayi, sehingga ia memiliki kesempatan untuk bisa menjajaki pendidikan di ELS yaitu sekolah yang setingkat dengan sekolah dasar di daerah Boyolali. Kemudian di tahun 1920 Soepomo melanjutkan pendidikannya di MULO di kota Solo. Setelah itu meneruskan pendidikan hukumnya di Bataviasche Rechtsschool di Batavia dan lulus pada tahun 1923. Kemudian ia ditunjuk oleh kolonial Belanda sebagai pegawai negeri pemerintahannya yang di bantu oleh ketua dari pengadilan negeri Sragen tahun 1977. Kemudian di antara tahun 1924 hingga 1927, beliau mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda yang dibimbing oleh Cornelis van Vollenhoven. Ia adalah seorang professor hukum arsitek yang dikenal sebagai tokoh ilmu hukum adat Indonesia dan seorang ahli hukum di bidang hukum internasional, yaitu salah satu konseptor Liga Bangsa Indonesia.    

Pada tahun 1927 dalam biografi Soepomo juga dijelaskan bahwa ia pernah menyandang gelar sebagai doctor dengan judul disertasinya yaitu Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta (Reorganisasi Sistem Agraria di Wilayah Surakarta). Dalam disertasinya, Soepomo bukan hanya mengupas adanya sistem agraria tradisional saja akan tetapi juga meneliti hukum-hukum kolonial yang terkait dengan pertahanan di daerah Surakarta. Dengan menggunakan bahasa belanda yang ditulis secara halus dan tidak langsung dan menggunakan argument kolonialnya, kritik Soepomo atas wacana-wacana kolonial yaitu tentang proses transisi agrarian di letakkan dalam disertasinya tersebut. 

Pada buku biografi soepomo tentang bahasa belanda yang terkait dengan krtikan-kritikan tersebut yang pada dasarnya saat menyatakan kritikan kolonialnya, Soepomo meletakkan etika jawanya saat melakukan penulisan subjeytivitas pada argumentnya tersebut. Ini bisa dilihat di buku Frans Magnis-Suseno tentang etika jawa dan buku Ben Anderson tentang Language and Power, sebagai patokan tentang etika jawa untuk memahami strategi dan cara pandang agensi Soepomo. 

Hampir tidak ditemukan di biografi Soepomo, kecuali satu karangan Soegito (1977) yang menyatakan bahwa berdasarkan departemen pendidikan dan kebudayaan, Marsilam Simanjutak mengatakan bahwa Soepomo adalah sumber munculnya fasisme di Negara Indonesia karena adanya kekaguman Soepomo terhadap sistem pemerintahan jepang dan jerman. Simanjuntak menilai bahwa Negara orde baru pada jendral Soeharto adalah bentuk Negara yang sistem pemerintahannya paling dekat dengan Soepomo. Akan tetapi ini perlu di pertimbangkan dan diperdebatkan lagi. Soepomo meninggal di usia muda akibat sakit serangan jantung yang dideritanya. Ia meninggal pada tanggal 12 September 1959 di Jakarta dan dimakamkan di daerah Solo. Semoga informasi di atas dapat memberikan gambaran serta wacana bagi pembaca.

    Pendidikan Soepomo    

  • ELS (Europeesche Lagere School) di Boyolali (1917)
  • MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) di Solo (1920)
  • Bataviasche Rechtsschool di Batavia (lulus tahun 1923)
  • Rijksuniversiteit Leiden/Leiden University (1924)

    Karir Soepomo    

  • Pegawai yang diperbantukan pada Pengadilan Negeri Yogyakarta
  • Anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
  • Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
  • Ketua Panitia Kecil Perancang UUD
  • Menteri Kehakiman
  • Rektor Universitas Indonesia (1951-1954)

    Penghargaan Soepomo    

  • Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional (1965)
Seperti itulah ulasan Biografi Soepomo tokoh pencetus sekaligus arsitek UUD 1945 bersama Mohammad Yamin dan Soekarno yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Soepomo.

Biografi Jenderal Ahmad Yani "Sang Pahlawan Revolusi"

Anonymous 1 Comment

    Profil Ahmad Yani    

Biografi Jenderal Ahmad Yani "Sang Pahlawan Revolusi"
Nama : Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani
Tanggal Lahir : 19 Juni 1922
Tempat Lahir : Purworejo, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 43), Jakarta
Makam : Taman Makam Pahlawan di Kalibata
Zodiak : Libra
Kebangsaan : Indonesia
Istri : Yayu Rulia Sutowiryo Ahmad Yani
Anak : 8
Agama : Islam

    Biografi Ahmad Yani    

Ahmad Yani dilahirkan pada 19 Juni 1922 di Purworejo Jawa Tengah di keluarga Wongsoredjo. Ahmad yani ikut pindah keluarganya ke Batavia pada tahun 1927. Ahmad Yani menjalani pendidikan dasar di HIS (Setingkat Sekolah Dasar)Bogor selesai pada tahun 1935. Berlanjut dengan menempuh pendidikannya ke MULO (setingkat SMP), berada pada kelas B Afd dikota yang sama yaitu Bogor. Di biografi Jenderal Ahmad Yani disebutkan, selepas selesai dari MULO pada tahun 1938, Ia pindah ke Jakarta untuk melanjutakan pendidikan ke AMS (setingkat SMU) masuk pada bagian B dan hanya bertahan sampai kelas dua karena kena wajib militer.

Pada tahun 1940, pemerintah Hindia Belanda melakukan kebijakan wajib militer. Dari sisnilah pendidikan Militer Ahmad Yani dimulai. Ahmad Yani mempelajari tentang topografi militer di Malang jawa Timur, namun belum sempat selesai terganggu oleh kedatangan pasukan Jepang pada tahun 1942. Ia dan keluarganya kembali ke daerah Jawa Tengah. Dalam biografi Jenderal Ahmad Yani disebutkan, pada tahun 1943 Ia bergabung dengan pasukan Peta (Pembela Tanah Air) dan menjalani pelatihan di Magelang. Tahap selanjutnya, Ia menjalani pendidikan komandan peleton Peta di Bogor jawa Barat. Selesai dari Bogor, kembali lagi ke Magelang dan menjadi instruktur. Pada tahun tersebut, dia mengawali karier militer dengan pangkat Sersan

Pada masa awal kemerdekaan, ahmad yani bergabung dengan tentara Republik Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang masih terus merongrong. Ahmad Yani membentuk battalion dan dirinya yang menjadi komandan serta menorehkan kemenangan pertama di Magelang, saat belanda mencoba mengambil alih Magelang dan digagalkan oleh dirinya beserta pasukan. Maka Ahmad Yani mendapat Julukan ``Juruselamat Magelang``. Pada biografi Jenderal ahmad yani disebutkan, setelah terbentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia ditugaskan menjadi komandan TKR di Purwokerto. Saat terjadi Agreis Militer Belanda Pertama, ahmad yani dan pasukannya yang berada didaerah Pingit berhasil menghalau serangan Belanda melalui perang gerilya. Agresi Militer Belanda yang kedua dilancarkan kembali, Dia diberikan kepercayaan sebagai komandan Wehrkreise II untuk wilayah pertahanan Kedu. Setelah Indonesia berdaulat, muncul gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) diwilayah Jawa Tengah. Ahmad Yani ditugaskan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Dalam rangka tugas tersebut ahmad Yani membentuk pasukan khusus yang diberi nama ``The Banteng Raiders``. Pasukan DI/TII berhasil dikalahkan. Ia bertugas di staf Angkatan Darat.

Pada lintasan biografi Jenderal Ahmad Yani dijelaskan, pada Desember 1955 Ia mendapat tugas belajar selama 9 bulan di Komando dan Staf Umum College, Fort Leavenwort, Texas kembali pada 1956. Kemudian mengikuti pendidikan dua bulan pada special Warfare Course di Inggris. Setelahnya, Ahmad Yani dipindah ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta menjadi anggota staf umum untuk Abdul Haris Nasution. Selanjutnya menjabat Asisten Logistik Kepala Staf angkatan darat. Karirnya naik menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk organisasi dan kepegawaian. Pada tahun 1958 terjadi pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera Barat. Saat itu ia berpangkat kolonel dan mendapat mandate sebagai komandan komando Operasi 17 Agustus dan berhasil menumpas pemberontak. Keberhasilannya menjadikan Ia mendapat promosi jabatan pada 1 September 1962 menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat ke-2. Setahun kemudian, tepatnya 13 November 1963 menjadi Panglima Angkatan Darat yang otomatis menjadi Menteri di Kabinet Presiden Soekarno.

Pada era akhir kepemimpinan, Presiden Soekarno lebih condong kepada haluan Komunis dan memaksakan ideologi Nasakom. Pada tanggal 31 Mei 1965, Ahmad yani dan nasution juga bersebrangan pendapat dengan PKI tentang rencana pembentukan tentara angkatan kelima, yaitu buruh dan tani yang dipersenjatai. Pada saat PKI melancarkan Gerakan 30 September, Ahmad yani menjadi menjadi salah satu target operasi tersebut. Pada tanggal tersebut, rumah Ahmad yani di Jalan Latuhahary No.6 di Menteng Jakarta Pusat, dikepung oleh sekitar 200 orang. Para penculik masuk kerumah Ahmad Yani, masuk ke rumah dan memaksa Ahmad Yani untuk ikut mereka dan mengatakan akan dihadapkan pada Presiden. Ahmad yani meminta untuk mandi dan berganti pakaian, namun ditolak oleh para penculik dan terjadi insiden hingga penembakan yang menewaskan Ahmad Yani pada 1 Oktober dini hari di depan kamar tidurnya. Penculik membawa jenazah Ahmad Yani ke Lubang Buaya di Jakarta Timur dan dimasukkan ke dalam sumur bekas bersama para Jenderal yang dibunuh lainnya. Dalam rekam sejarah biografi Jenderal Ahmad Yani disebutkan, Jenazah para korban G-30 S PKI diangkat dari sumur pada tanggal 4 Oktober 1965 dan di makamkan di TMP Kalibata tanggal 5 setelah melalui upacara kenegaraan. Ahmad Yani dan rekan-rekannya yang terbunuh, dinyatakan sebagai Pahlawan Revolusi melalui Keppres Nomor 111/KOTI/1965 dan pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Jenderal Anumerta. Kini bekas rumah Ahmad yani dijadikan sebagai museum public yang suasananya dibuat sama dengan kondisi semula tahun 1965. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Namanya kini terkenang sebagai nama jalan hampir di tiap kota seluruh Indonesia.

    Pendidikan    

  • HIS (setingkat SD) Bogor, tamat tahun 1935
  • MULO (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938
  • AMS (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940
  • Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang
  • Pendidikan Heiho di Magelang
  • PETA (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor
  • Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat, tahun 1955
  • Special Warfare Course di Inggris, tahun 1956

    Bintang Kehormatan    

  • Bintang RI Kelas II
  • Bintang Sakti
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
  • Satyalancana Kesetyaan VII, XVI
  • Satyalancana G: O.M. I dan VI
  • Satyalancana Sapta Marga (PRRI)
  • Satyalancana Irian Barat (Trikora)
  • Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1958) dan lain-lain

    Penghargaan    

  • Pahlawan Revolusi (SK Presiden Nomor 111/KOTI/1965)
Seperti itulah ulasan Biografi Jenderal Ahmad Yani salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Jawa Tengah yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Jenderal Ahmad Yani.

Biografi Jenderal Sudirman : Guru Sekaligus Pemimpin Prajurit

Anonymous Add Comment

    PROFIL JENDRAL SUDIRMAN    

Biografi Jendral Sudirman Tokoh Pahlawan Nasional Nama Lengkap : Raden Soedirman
Tempat Lahir : Desa Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : 24 Januari 1916
Zodiac : Aquarius
Kebangsaan : Indonesia
Meninggal : Magelang, 29 Januari 1950
Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Semaki
Agama : Islam

    BIOGRAFI JENDRAL SUDIRMAN    

Jendral Sudirman Pahlawan Nasional yang sangat terkenal dengan taktik bergerilya untuk melawan penjajah. Biografi Jendral Sudirman pernah ditulis dalam sebuah buku yang berjudul Guru bangsa, Sebuah Biografi Jenderal Sudirman yang ditulis oleh Sardiman pada tahun 2008. Beliau dilahirkan di Bodas Karang Jati Purbalingga Jawa tengah, pada hari Senin 24 Januari 1916. Beliau memiliki nama lengkap Raden Soedirman, namun lebih dikenal dengan nama jenderal Sudirman. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga sederhana, ayahnya bernama Karsid Kartowirodji dan ibunya Siyem. Sejak kecil jendral Sudirman dirawat oleh Raden Tjokrosoenarjo dan istrinya bernama Teoridowati yang merupakan sebuah keluarga Priyayi.  

Biografi Pendidikan Jendral Sudirman di mulai Hollandsch Inlandsche School, namun ketika tahun kelima Jendral Sudirman berhenti dari sekolahnya dan kemudian melanjutkan sekolahnya di Yogyakarta di sekolah Taman Siswa. Setelah itu Jendral Sudirman melanjutkan ke Sekolah Menengah Wirotomo. Jenderal Sudirman juga berbakat dalam berbagai ilmu pelajaran dan ia juga memperdalam ilmu agama. Berdasarkan buku biografi Jendral Sudirman, gurunya Suwarjo Tirtosupono dan Raden Muhammad Kholil mendidiknya dengan baik. Setelah lulus dan setelah kematian ayah tirinya beliau yang berusia 19 tahun juga sempat mengajar di sekolah Wirotomo. Jendral Sudirman juga aktif di organisasi Kepanduan Putra Muhammadiyah, beliau memimpin Hizboel Wathan.  Selanjutnya beliau juga belajar satu tahun di sekolah guru di Surakarta yaitu di Kweekschool.

Setelah itu Jenderal Sudirman juga lebih giat bergerak di organisasi kepemudaan Muhammadiyah. Jenderal Sudirman dikenal sebagai pemimpin yang pintar untuk bernegosiasi. Jendral Sudirman juga menikah dengan teman saat sekolah dulunya. Perempuan yang dinikahinya bernama Alfiah dan mempunyai keturunan 4 orang putra dan seorang putri. Sebelum kedatangan tentara Jepang, jenderal Sudirman di minta oleh Belanda untuk memberi pelatihan terhadap tentara pribumi tentang pelatihan kemiliteran. Dan pada tahun 1942, kedatangan Jepang di Indonesia semakin memperburuk keadaan ekonomi dan kesejahteraan rakyat pribumi. Banyak sekolah yang ada ditutup oleh Jepang, salah satunya adalah sekolah yang tempat beliau mengajar. Namun setelah beberapa waktu berlalu, dalam buku biografi Jendral Sudirman, beliau mampu bernegosiasi dengan pemerintah jepang untuk membuka sekolah y tersebut. 

Pada masa pemerintahan Jepang, berdasarkan biografi jendral Sudirman, beliau aktif memimpin organisasi bentukan Jepang yang bertujuan menjaga keamanan Indonesia dari pihak sekutu. Sudirman memimpin Syu Sangikai, bergabung dengan Pembela TanaH Air (PETA). Oleh karena itu Beliau mengikuti pelatihan di Bogor. Karena kepiwaiannya, Jendral Sudirman diangkat sebagai Komandan dan dipersenjatai dengan peralatan lengkap dan ditempatkan di Batalion Kroya, Banyumas, Jawa Tengah. Hingga sampai pada terjadinya Bom Atom Nagasaki dan Hirosima, jendral Sudirman membantu Soekarno hatta dan pejuang lainnya untuk mengamankan persiapan kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, negara Indonesia perlu membentuk pasukan keamanan/ tentara Indonesia.

Kisah perjuangan Jendral Sudirman berlanjut dengan bergabungnya beliau dengan BKR yang akhirnya berganti menjadi TKR (yang sekarang disebut TNI). Pada masa it pangkat jendral Sudirman mulai berkembang karena keuletannya. Mulai dari pangkat colonel letnan jenderal, jenderal, hingga jenderal Besar. Selain itu jenderal Sudirman juga berperan secara langsung dalam perang Ambarawa dalam mempertahankan dan mengusir tentara sekutu yang diboncengi NICA. Setelah menyusun perjanjian linggarjati dan melawan Belanda dalam Agresi Militer ke 1 dan 2, setahun kemudian jendral sudirman meninggal karena penyakit TBC yang beliau rasakan bertahun-tahun lamanya. Demikian lah biografi Jendral Sudirman, semoga bermanfaat.
“Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu kasta yang berdiri di atas masyarakat. Tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.”
“Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagipula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga.”
“Karena kewajiban kamulah untuk tetap pada pendirian semula, mempertahankan dan mengorbankan jiwa untuk kedaulatan negara dan bangsa kita seluruhnya.”
“Pelihara TNI, pelihara angkatan perang kita. Jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun juga. Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan prajurit yang mudah dibelokkan haluannya. Kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.”
“Kemerdekaan satu negara, yang didirikan diatas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga.”
“Jangan mudah tergelincir dalam saat-saat seperti ini, segala tipu muslihat dan provokasi-provokasi yang tampak atau tersembunyi dapat dilalui dengan selamat, kalau kita waspada dan bertindak sebagai patriot.”

    PENDIDIKAN JENDRAL SUDIRMAN    

  • Sekolah Taman Siswa
  • HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tetapi tidak sampai tamat. 
  • Pendidikan Militer Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor

    KARIR JENDRAL SUDIRMAN    

  • Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
  • Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
  • Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
  • Komandan Batalyon di Kroya

    PENGHARGAAN JENDRAL SUDIRMAN    
  • Jenderal Besar Anumerta Bintang Lima (1997)
Seperti itulah ulasan Biografi Jenderal Sudirman salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Jawa Tengah yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Jendral Sudirman.

Biografi Lengkap Kisah dan Kiprah R.A. Kartini

Anonymous 6 Comments

    Profil R.A. Kartini    

Biografi Lengkap Kisah dan Kiprah R.A. Kartini
Nama : Raden Adjeng Kartini
Tempat Lahir : Jepara Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Senin, 21 April 1879
Zodiac : Taurus
Wafat : 17 September 1904, Kab. Rembang
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam
Pasangan: K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
Anak : Soesalit Djojoadhiningrat
Dikenal karena : Emansipasi wanita

    Biografi R.A. Kartini    

Sudah banyak yang mengupas kisah mengenai sosok Kartini, salah satu tokoh pahlawan wanita fenomenal dari Tanah Jawa, tepatnya di Jawa Tengah. Banyak penulis menuturkan perjalanan hidup beliau yang menginspirasi lewat biografi, seperti yang dilakukan oleh Sitisoemandari Soeroto dalam bukunya yang berjudul, ‘Kartini : Sebuah Biografi’. Dalam buku tersebut diterangkan mengenai silsilah keluarga Kartini, sisi kehidupan yang menjadi saksi perjuangan melalui tulisannya yang sarat akan kritik penyetaraan gender, nasionalisme yang menggugah sampai ke negeri Belanda. Kumpulan tulisan kepada sahabat-sahabat penanya di Belanda maupun surat-surat yang pernah ia buat dirangkum Armijn Pane dalam sebuah buku berjudul, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, yang juga merupakan salah satu tema surat yamg pernah beliau tuliskan. Berikut pemaparan mengenai Biografi Kartini mulai dari perjalanan hidupnya, karyanya, semua yang bersangkutan mengenai Kartini, kontroversi gelarnya, serta keturunan Kartini yang masih hidup. Semuanya disadur dari buku dan beberapa sumber dari Internet.

Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat adalah nama lengkap beliau. Ia dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang bupati Jepara. Kartini adalah keturunan ningrat. Hal ini bisa dilihat dari silsilah keluarganya. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari NyaiHaji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Beliau bersekolah hanya sampai sekolah dasar. Ia berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya, tapi tidak diizinkan oleh orangtuanya. Sebagai seorang gadis, Kartini harus menjalani masa pingitan hingga sampai waktunya untuk menikah. Ini merupakan suatu adat yang harus dijalankan pada waktu itu. Kartini hanya dapat memendam keinginannnya untuk bersekolah tinggi.

Untunglah beliau gemar membaca dari buku – buku, koran, sampai majalah Eropa. Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa .Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judulMax Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder(Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda. Pikirannya menjadi terbuka lebar, apalagi setelah membandingkan keadaan wanita di Eropa dengan wanita Indonesia. Sejak itu, timbullah keinginan beliau untuk memajukan perempuan pribumi yang pada saat itu berada pada status sosial yang rendah. Ia ingin memajukan wanita Indonesia melalui pendidikan. Untuk itu, beliau mendirikan sekolah bagi gadis – gadis di Jepara, karena pada saat itu ia berdomisili di Jepara. Muridnya hanya berjumlah 9 orang yang terdiri dari kerabat atau famili.

Di samping itu, ia banyak pula menulis surat untuk teman-temannya orang Belanda.  Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dalam surat itulah ia melampiaskan cita-citanya untuk menuntut persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan akhirnya dimuat diDe Hollandsche Lelie, sebuah majalah terbitan Belanda yang selalu ia baca. Dari surat-suratnya, tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soalemansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Beliau sempat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda karena tulisan-tulisan hebatnya, namun ayahnya pada saat itu memutuskan agar Kartini harus menikah dengan R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang kala ituyang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Sejak itu, Kartini harus hijrah dari Jepara ke Rembang mengikuti suaminya.  Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Kartini memiliki seorang anak lelaki bernama Soesalit Djojoadhiningrat, yang dilahirkan pada tanggal 13 September 1904. Selang beberapa hari pasca melahirkan, Kartini tutup usia pada tanggal 17 September 1904. Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Beliau dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Untuk menghormati kegigihan beliau, didirikanlahSekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun1912, kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.Setelah Kartini wafat, Mr.J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.

Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.

Sayangnya, banyak kontroversi bermunculan dikarenakan ketetapan Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia,melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.Bahkan lagu Ibu Kita Kartini yang diciptakan oleh W.R. Supratman menjadi salah satu lagu nasional. Hal ini menuai protes dari beberapa kalangan di Indonesia. Pengistimewaan Kartini terkesan pilih kasih dari Pahlawan wanita Indonesia lainnya di berbagai belahan nusantara seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Maria Tiahahu, Rohana Kudus, yang beberapa diantara mereka menurut para pengecam, telah ikut berperang langsung dengan para penjajah Belanda, dibandingkan Kartini yang hanya menulis. Namun, apa yang dikatakan Oov Auliansyah pada halaman (http://sosok.kompasiana.com/2013/04/21/kartinitak-layak-jadi-pahlawan-nasional-553170.html) ada benarnya, ia mengatakan bahwa, “...Kartini telah berfikir tentang perssamaan gender di awal 1900. Berbicara tentang wanita yg berhak mendapat pendidikan selayaknya kaum laki-laki (laki-laki bangsawan & Belanda, SAAT itu diskriminasi cukup kuat).

Kartini melawan diskriminasi Belanda terhadap pribumi dan kesewenang-wenangan Belanda lewat suratnya kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, akhirnya mampu menggugah hati pemerintah Belanda dan membangun pendidikan di Jawa. Kartini adalah anak kaum bangsawan, bisa dibilang seorang borjuis kecil, tapi kemudian dia memilih sendiri turun menjadi proletar.

Surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa, sehingga menimbulkan simpati dari masyarakat Belanda dan menentang kebijakan-kebijakan parlemen Belanda yg merugikan kaum pribumi Jawa...Kartini telah memikirkan tentang pendidikan kaum wanita di masyarakat Jawa pada waktu itu yg terpaku dengan segala adat-adatnya yang kaku, seolah wanita sudah tidak perlu pendidikan, bisa bahasa Belanda saja sudah cukup, kemudian tinggal menunggu dinikahi dan kemudian dimadu.Kartini telah memikirkan ini di awal 1900-an.

Bahkan ada yang menyangsikan gelar Kartini sebagai Pahlawan Nasional dikarenakan beliau hanya menulis. Namun hal ini dibantah oleh beberapa pendapat dari halaman (http://pustakailmudotcom.wordpress.com/2014/02/23/kartini-layak-menjadi-pahlawan/) yang menyatakan bahwa, “... Kartini memang tak bisa mewujudkan mimpinya (akhirnya dipoligami), tapi dia meninggalkan tulisan-tulisan yang dahsyat. Itu sudah cukup. Sebenarnya Soekarno tidak keliru memilih Kartini sebagai Pahlawan Nasional…Surat Kartini jadi biasa bagi pembaca yang sudah mengenyam pendidikan. Coba dirimu di era pingitan atau 1890-an…Kartini memang bukan penggerak orang. Ia tak pernah berorasi. Juga tak punya Taman Siswa seperti Ki Hajar Dewantara, tapi siapa yang menghubungi Oost en West untuk memulai lagi kerajinan tangan asli Hindia Belanda? Itu Kartini! Siapa yang menggelar pameran kerajinan PERTAMA asli Hindia Belanda sampai London memperhatikan batik nasional? Kartini! @AndiChamomile.

Siapa yang ngobrol soal “feodalisme” sampai akhir tahun 1900-an dan itu di balik dinding ruang pingitan? Kartini! FYI: setahuku hanya surat-surat Kartini yang komprehensif membicarakan itu semua. Aku gak ngomongin profil lho ya, bukan!...Pahlawan itu tidak harus angkat senjata dan menyelam di lautan pertempuran. Itu pertimbangan Soekarno...Kalau sampean bilang tulisan Kartini biasa-biasa saja, sungguh aku harus bilang: Kamu harus (benar-benar) banyak baca!!! Pemimpin redaksi De Echo di Jogjakarta saat itu sampai minta ortunya Kartini biar mau nulis buat rubrik khusus. Koran-koran Belanda itu ngemis tulisan Kartini. Kartini sering nolak. Sampai-sampai ia harus pake anonim “Tiga Saudara” kalo nulis lho...kalau menilai tulisan Kartini biasa-biasa saja, kamu benar-benar harus banyak baca! Tanpa Kartini, dunia memang tahu Hindia Belanda. Tapi siapa sih yang tahu soal Koja kalau bukan dari reportase Kartini?Serius, Kartini tuh mereportase, dan bertitimangsa 1890-an. Ini soal sejarah Kepala Bumipuetra pertama di Indonesia…Kartini jadi pahlawan karena ia meninggalkan tulisan. Tulisannya bukan pepesan kosong…Pemikiran Kartini jauh melampaui orang-orang di zamannya, bahkan bangsawan dan lelaki sekalipun http://t.co/3qHSxKHWkA...Kalau meragukan tulisan karya Kartini adalah benar-benar dari Kartini, mungkin karena riset itu tidak tercantum nama Kartini sebagai penulisny... Kartini sering nulis. kadang disimpen di lemari. Saat KITLV datang, tulisan Kartini disetorkan sendiri oleh ayahnya...Sangat disayangkan kalau masih ada yang menyangsikan kepahlawanan Kartini hanya karena ia akhirnya dipoligami, padahal suaranya anti-feodal…Kalau mau baca barang sebentar tulisan-tulisan Kartini, pasti terdiam. Perempuan sehebat ini tidak salah jika disebut Pahlawan Nasional!”

Berikut serba – serbi Kartini yang disadur dari sebuah halaman blog :

1) Majalah Kartini
"Kartini adalah majalah wanita yang didirikan oleh Lukman Umar. Majalah Kartini pertama kali diterbitkan pada tahun 1973 dan sangat populer di Indonesia. Edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Kartini Group. Selain edisi cetaknya, ada pula edisi online nya."

2) Nama Universitas
Nama bu Kartini di jadikan nama salah satu Universitas di Surabaya, tepatnya di  Jl. Raya Nginden No. 19-23 Surabaya, Jawa Timur. Perguruan Tinggi Swasta ini berdiri sejak tahun 1986, yang terletak di kawasan Surabaya Timur dengan empat lantai. Kampus ini membuka program D3, S1, dan S2 yang memiliki fakultas hukum, ekonomi, tehnik dan pariwisata.Walaupun namanya Universitas Kartini, tapi kampus ini tidak hanya untu perempuan saja.

3) Nama Film
R.A. Kartini adalah sebuah filmdramaperjuanganIndonesia yang diproduksi pada tahun 1984. Film yang disutradarai oleh Sjumandjaja ini dibintangi antara lain oleh Yenny Rachman, Bambang Hermanto dan Adi Kurdi. Film ini mengisahkan tentang perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak kaum wanita Indonesia yang pada saat itu masih belum disetarakan dengan hak-hak kaum pria dalam hal mendapatkan pendidikan dan sebagainya (emansipasiwanita).

4) Nama Museum
Jika anda datang ke Kota Jepara jangan lewatkan untuk mampir ke Museum R.A.Kartini yang berada di tengah-tengah jantung Kota Jepara, Jalan Alun-alun No.1 Jepara sebelah barat daya Pendapa Kabupaten Jepara. Lokasinya memang sangat strategis, persisnya sebelah timur Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten, sebelah selatan Alun-alun dan Masjid Besar, sebelah barat Kodim Jepara dan sebelah utara shopping centre ( Pusat Perbelanjaan ).

Museum R.A.Kartini sendiri didirikan pada tanggal 30 Maret 1975 atas usulan wakil-wakil rakyat Jepara dan didukung bantuan dari mantan Presiden Soeharto, pada era Jepara dipimpin oleh Bupati Suwarno Djojo Mardowo, S.H. dan diresmikan pada tanggal 21 April 1977 tepat seabad peringatan R.A.Kartini oleh Bupati Jepara, Sudikto S.H. Museum ini didirikan sebagai penghargaan terhadap R.A.Kartini perintis emansipasi Wanita Indonesia.Dan saat ini dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di bawah Pemerintah Daerah kabupaten Jepara.

Museum R.A.Kartini berdiri di atas tanah seluas 5.210 meter persegi, dengan luas bangunan 890 meter persegi yang terdiri atas beberapa gedung. Selain menyajikan benda-benda peninggalan R.A.Kartini maupun kakaknya R.M.P. Sosrokartono, juga menyimpan benda-benda kuno peninggalan sejarah dan budaya hasil temuan di wilayah Kabupaten Jepara.

5) Nama Pantai
Obyek Wisata Pantai Kartini terletak 2,5 km ke arah barat dari Pendopo Kabupaten Jepara. Obyek wisata ini berada di kelurahan Bulu kecamatan Jepara dan merupakan obyek wisata alam yang menjadi dambaan wisatawan.
Berbagai sarana pendukung seperti dermaga, sebagian aquarium Kura-kura, motel, permainan anak-anak (komedi putar, mandi bola, perahu arus), dan lain-lain telah tersedia untuk para pengunjung. Suasana di sekitar pantai yang cukup sejuk memang memberikan kesan tersendiri buat pengunjung, sehingga tempat ini sangat cocok untuk rekreasi keluarga atau acara santai lainnya.

Pantai Kartini menduduki peringkat pertama apabila dilihat dari jumlah pengunjungnya. Hal ini karena pantai Kartini yang mempunyai luas sekitar 3,5 hektar ini memiliki potensi alam berupa pemandangan pantai yang indah, ombak yang kecil dengan pasir putihnya, serta topografi pantai yang landai. Selain dapat menikmati indahnya pantai Kartini, kita dapat juga menikmati naik perahu atau kapal motor menuju pulau Panjang atau pulau Karimunjawa. Sementara disekitar pantai Kartini kita dapat menikmati berbagai fasilitas.

6) Nama Penghargaan
Kartini Award adalah kegiatan tahunan organisasi yang dibentuk pada tahun 1995, bagi para wanita yang telah melakukan hal-hal inspiratif dalam kehidupannya. Tahun ini ada 7 perempuan inspiratif yang menerima penghargaan WITT-Kartini Award 2014.

7) Nama Jalan di Belanda
*Utrecht: Di Utrecht Jalan R.A. Kartini atau Kartinistraat merupakan salah satu jalan utama, berbentuk 'U' yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Che Guevara, Agostinho Neto.

*Venlo: Di Venlo Belanda Selatan, R.A. Kartinistraat berbentuk 'O' di kawasan Hagerhof, di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanitaAnne Frank dan Mathilde Wibaut.

*Amsterdam: Di wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, jalan Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap. Di sekitarnya adalah nama-nama wanita dari seluruh dunia yang punya kontribusi dalam sejarah: Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards.

*Haarlem: Di Haarlem jalan Kartini berdekatan dengan jalan Mohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke jalan Chris Soumokilpresiden kedua Republik Maluku Selatan.

Berikut bukti mengenai jejak keturunan Kartini

Tulisan ini disadur dari sebuah halaman blog mengenai hal yang bersangkutan :
“……. yang menggerakkan saya untuk menulis artikel ini adalah karena saya telah menikah selama hampir 7 (tujuh) tahun dengan salah satu keturunan RA. Kartini dan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang bupati dari Rembang. Yuppp.. seperti model keluarga Jawa pada umumnya, pertemuan keluarga rutin diadakan tiap bulan di rumah keturunan Beliau. Apalagi menjelang tanggal 21 April seperti ini, biasanya akan dikirimkan utusan keluarga dari berbagai daerah untuk khusus nyekar ke makam Beliau di Rembang……..” ;
Ketika tengah mencari info tentang silsilah dan keturunan R.A. Kartini, kami temukan paragraf di atas yang merupakan petikan dari alamat situs http://mubarika-darmayanti.com/1303/ra-kartini-1001-perempuan-yang-berpengaruh-di-dunia-sosialmedia/  . Ya, Mubarika Darmayanti seorang blogger Indonesia mengaku bahwa dia telah menjadi bagian keluarga besar R.A. Kartini sejak 7 tahun yang lalu. Menilik beberapa temuan yang ada, kami rasa Mubarika Darmayanti bukanlah seorang pembual.
Dari sumber artikel ke [2] yang menceritakan kepada kita sedikit kisah tentang Singgih/ RM Soesalit (keturunan semata wayang dari R.A Kartini) sebagai berikut : “… RM Soesalit pernah menjabat sebagai Panglima Divisi III/ Diponegoro di kota Yogyakarta dan Magelang ( periode 1 Oktober 1946 – 1 Juni 1948) dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. RM Soesalit menikahi Gusti Bendoro A.A Moerjati, putri Susuhunan Paku Buono IX dan mempunyai dua putri yaitu R.A Srioerip dan R.A Sri Noerwati (putra pertama meninggal dan istri RM Soesalit meninggal saat melahirkan putri kedua). Dalam perjalanan waktu,  RM Soesalit memperistri Ray. Loewiyah Soesalit DA dan mempunyai Putra tunggal, yaitu :  RM. Boedi Setiyo Soesalit (cucu RA Kartini) yang menikahi Ray. Sri Biatini Boedi Setio Soesalit. Dari pernikahan itu dikarunia 5 orang anak (cicit dari R.A Kartini) yakni: RA. Kartini Setiawati Soesalit, RM. Kartono Boediman Soesalit,RA Roekmini Soesalit, RM. Samingoen Bawadiman Soesalit, dan RM. Rahmat Harjanto Soesalit. Mayjen RM Soesalit Djojo Adiningrat sendiri  meninggal di sebuah ruangan di bangsal Pavilliun Rumah Sakit RSPAD pada 17 Maret 1962, tepat jam 05.30 WIB, di makamkan di desa Bulu, Rembang dekat dengan makam ibundanya RA Kartini. Tepat tanggal 21 April 1979, alm Mayjen RM Soesalit Djojo Adiningrat mendapat anugerah dari Pemerintah Republik Indonesia berupa Tanda Kehormatan Bintang Gerilya… ”
Itulah salah satu bukti bahwa hingga saat ini masih ada keturunan/keluarga asli dari Raden Ajeng Kartini.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa-jasa para pahlawannya.”
“Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu - (R.A Kartini).”
“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. - R. A. Kartini ”
“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya. - R. A. Kartini.”
“Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata "Aku tiada dapat!" melenyapkan rasa berani. Kalimat "Aku mau!" membuat kita mudah mendaki puncak gunung. - R. A. Kartini.”
“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. - R. A. Kartini”

    Penghargaan R.A. Kartini    

  • Tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan
  • Setiap tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini
  • Namanya dijadikan nama jalan di beberapa kota di Belanda. Seperti di Utrecht, Venlo, Amsterdam, Haarlem
Seperti itulah ulasan biografi R.A. Kartini tokoh pahlawan kemerdekaan inspirasi para wanita dari Jepara yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok R.A. Kartini.

Sumber :
Jeparadise.org. “Mencari Jejak Keturunan R.A. Kartini”. 26 Oktober 2014.
http://www.jeparadise.org/mencari-jejak-keturunan-r-a-kartini/

Merdeka.com. “Mengenang Kartini lewat foto-foto lama”. 23 Oktober 2014.
http://www.merdeka.com/foto/khas/180818/mengenang-kartini-lewat-foto-foto-lama-007-debby.html

Wikipedia. “Kartini”. 26 Oktober 2014.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini
1991. Album 90 Pahlawan Nasional dan Sejarah Perjuangannya. Jakarta : Bahtera Jaya.