Showing posts with label A. Show all posts
Showing posts with label A. Show all posts

Biografi Abdul Kadir Persatuan dan Ruh Kemerdekaan Melintas Dijiwanya

Anonymous Add Comment

    Profil Lengkap Abdul Kadir    

Biografi Abdul Kadir Persatuan dan Ruh Kemerdekaan Melintas Dijiwanya
Nama Lengkap: Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan

Tempat Lahir : Sintang, Kalimantan Barat

Tanggal Lahir : Tahun 1771

Wafat : Tanjung Suka Dua, Melawi, 1875

Ayah : Oerip

Ibu : Siti Safriyah

Gelar : Pahlawan Nasional

SK Presiden : Keppres No. 114/TK/1999, Tgl. 13 Oktober 1999

    Biografi Lengkap Abdul Kadir    

Abdul Kadir, lahir pada tahun 1771 di Sintang, Kalimantan Barat. Terlahir dari keluarga bangsawan kerajaan Sintang dari pasangan Oerip dan Siti Safriyah. Pada tahun 1845, Ia ditunjuk sebagai pemimpin wilayah Melawai dalam kekuasaan Kerajaan Sintang menggantikan sang ayah yang meninggal dunia. Usianya saat dinobatkan sebagai Raja Melawai telah menginjak 74 tahun. Namanya setelah penobatan berubah menjadi Abdul kadir Raden Tumenggung. Pada Biografi abdul Kadir dijelaskan, posisinya sebagai Raja Melawai sangat membuatnya berada pada posisi dilematis, satu sisi Ia harus tunduk kepada pemerintahan Raja Sintang yang telah tunduk kepada penjajah Belanda, namun direlung batinnya sangat menolak untuk bekerjasama dengan Belanda.

Biografi Abdul kadir mengungkapkan, bahwa beliau menerapkan strategi ganda. Bersamaan dengan kepatuhannya pada Raja Sintang yang telah tunduk kepada Belanda, Ia menghimpun kekuatan rakyat Melawai untuk melawan Belanda. Keberhasilan menyatukan suku Dayak dan Melayu guna melawan Belanda menjadi Prestasi terbesar Abdul kadir. Beliau berhasil membakar semangat rakyat Melawai dan Melayu untuk melepaskan dari penjajah Belanda. Kalimat penyemangat yang sangat popular darinya adalah `` selama masih berada di bawah telapak kaki penjajah, tidak akan pernah bahagia dan hidup makmur``.

Strategi ganda yang diterapkan oleh Abdul Kadir tercium juga oleh pihak Belanda. Di tahun 1886 Belanda membujuk Abdul Kadir dengan pemberian gelar Setia Pahlawan dan sejumlah uang yang diterima olehnya. Namun secara diam-diam, Abdul kadir tetap setia pada prinsip perjuangannya untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda. Sebagai seorang Kepala daerah Melawai memperkuat posisi perjuangannya, karena dia dengan mudah mendapatkan setiap informasi dari kerajaan Sintang dan Belanda akan setiap rencana untuk menumpas perlawanan Belanda. Pada biografi Abdul kadir dijelaskan, beliau berhasil menerapkan strategi ganda tersebut selama 7 tahun.

Setelah selama 7 tahun segala siasat yang dilancarkan belanda selalu gagal, termasuk setiap aksi militer, akhirnya Belanda mengetahui bahwa Abdul kadir lah sebenarnya pemimpin inti para pejuang di Melawai. Serangan besar-besaran dilancarkan oleh Belanda pada markas-markas perjuangan dengan sebelumnya menahan Abdul Kadir di bentang Belanda yang terletak di daerah Nanga Pinoh. Usianya yang telah mencapai 100 tahun tidak mampu menahannya lebih lama lagi, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dalam tahanan. Pada biografi Abdul Kadir kita dapati,akhirnya beliau dimakamkan di Natal Mungguk Liang, Melawai.

Membaca kilasan biografi Abdul Kadir kita dapati sebuah semangat dalam karya nyata, bahwa kedamaian sebuah daerah dan kemajuan pembangunannya hanya dapat dicapai dengan adanya persatuan antar komponen masyarakat. Atas segala jasa-jasanya, Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan diberikan anugerah gelar Pahlawan Nasional berdasar SK Presiden Republik Indonesia No 114/TK/ tahun 1999 yang tertanggal 13 Oktober 1999.

    Karir Abdul Kadir    

  • 1845: Menggantikan ayahnya menjadi Raja Melawi, bergelar Raden Tumenggung
  • 1868-1875: Memimpin rakyat Melawi untuk melawan Belanda

    Penghargaan Abdul Kadir    

  • 1886: Gelar Setia Pahlawan dari pemerintah Belanda
  • 1999: Gelar Pahlawan Nasional RI dengan SK Presiden Republik Indonesia No 114/TK/Tahun 1999
Semoga dengan informasi diatas sahabat biografipahlawan.com dapat mengetahui lebih jelas tentang pahlawan nasional yang berasal dari kalimantan barat.

Biografi Adam Malik ”Pelopor Terbentuknya Negara Asean”

Anonymous Add Comment

    Profil Adam Malik    

Nama : Adam Malik
Lahir : 22 Juli 1917, Kota Pematangsiantar, Indonesia
Meninggal : Bandung, Jawa Barat, 5 September 1984
Makam : Taman Makam Pahlawan Kalibata
Zodiac : Cancer
Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam



    Biografi Adam Malik    

Untuk mencapai kemerdekaan Indonesia ada banyak sekali jasa-jasa para pahlawan yang menjadikan Indonesia merdeka. Salah satunya adalah adam malik. Adam malik merupakan seorang pejuang kemerdekaan bersama bung karno, bung hatta dan lain sebagainya yang merumuskan teks proklamasi. Adam malik lahir pada tanggal 22 juli tahun 1971 di daerah pematang siantar, sumatera utara. Beliau dikenal sebagai si kancil karena kelincahannya dalam berbagai hal. Orang tua beliau adalah haji abdul malik batubara dan ibunya salamah lubis. Berikut cerita tentang biografi adam malik lebih lanjutnya.

Beliau pernah ditahan oleh polisi dinas di sipirok pada tahun 1934. Beliau dipenjara selama 2 bulan kurungan penjara. Hal itu dikarenakan larangan mendirikan perkumpulan, pada saat itu membentuk sebuah perkumpulan sangatlah di larang. Pada saat beliau berumur 17 tahun, adam malik sudah menjadi ketua partindo di pematang siantar. Beliau berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu beliau akhirnya hijrah ke Jakarta untuk berjuang dengan pejuang lainnya demi kemerdekaan Indonesia. Dalam beberapa buku biografi adam malik, diceritakan tentang perjalanan hidup adam malik untuk membantu kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1937 beliau bersama sipahutar, abdul hakim, soemanang, armin pane dan pandu kartawiguna mendirikan kantor berita antara. Dengan didirikannya kantor berita antara mereka memberikan banyak sekali tulisan tentang perlawanan terhadap pemerintahan saat itu. Banyak sekali artikel yang sudah dimuat antara lain pada surat kabar majalah perindo dan juga pelita andalas. Pada saat pemerintahan colonial Belanda, adam malik banyak melakukan gerilya bersama gerakan pemuda lainnya. sebelum dikumandangkannya kemerdekaan republik Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945. Jika melihat biografi adam malik, kita akan tahun gerakan apa saja yang beliau lakukan.

Beliau juga menggerakkan seluruh rakyat Indonesia untuk berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta. Beliau juga terpilih sebagai wakil dari kelompok muda untuk menjadi ketua komite III nasional Indonesia pusat dan bertugas untuk menyusun pemerintahan. Selain itu beliau juga pernah mendirikan partai murba dan juga partai rakyat. Adam malik juga pernah menjabat sebagai duta besar luar biasa dan bertempat tinggal di polandia dan uni soviet. Pada masa partai komunis Indonesia, adam malik dan roeslan abdulgani dianggap sebagai musuh PKI. Ini juga diceritakan diberbagai versi biografi adam malik.

Pada masa order baru, adam malik berperan sebagai fasilitator dalam perundingan dengan berbagai Negara. Beliau juga mempelopori terbentuknya ASEAN bersama dengan menteri luar negeri seluruh Negara di daerah asia. Asean terbentuk pada tahun 1967. Adam malik juga pernah menjadi wakil presiden republik Indonesia ketiga mengantikan sri sultan hamengkubuono ke IX. Bapak Haji Adam Malik meninggal di kota bandung pada tanggal 5 september tahun 1984. Karena penyakit kanker liver.

    Pendidikan Adam Malik    

  • Hollandsch-Inlandsche School  Pematangsiantar
  • Sekolah Agama Parabek di Bukittinggi

    Karir Adam Malik    

  • Wakil Presiden Republik Indonesia
  • Ketua DPR/MPR
  • Menteri Luar Negeri Indonesia
  • Duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Uni Soviet dan Polandia
  • Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin

    Penghargaan Adam Malik    

  • Bintang Mahaputera kl. IV pada tahun 1971
  • Bintang Adhi Perdana kl.II pada tahun 1973
  • Pahlawan Nasional pada tahun 1998
Seperti itulah ulasan Biografi Adam Malik salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Sumatera Utara yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Adam Malik.

Biografi Pangeran Antasari ”Pahlawan Dari Kota Banjar”

Anonymous Add Comment

    Profil Pangeran Antasari    

Pangeran Antasari Tokoh Nasional
Nama : Pangeran Antasari
Lahir : 1797, Banjar, Kalimantan Selatan
Meninggal : 11 Oktober 1862 Bayan Begok, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, (umur 53)
Makam : Taman Makam Perang Banjar, Banjarmasin
Ayah : Pangeran Masud bin Pangeran Amir
Ibu : Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman



    Biografi Pangeran Antasari    

Pangeran antasari merupakan salah satu pahlawan nasional yang lahir pada tahun 1797 di daerah kabupaten banjar, Kalimantan selatan. Beliau merupakan salah satu pahlawan nasional yang menghabiskan hidupnya untuk mengusir Belanda dari Indonesia terutama di daerah banjar. Beliau sangat khawatir melihat kekrisuhan yang terjadi di kerajaan banjar yang semakin dikuasai oleh Belanda. Beliau diutus untuk melihat gerakan rakyat dan menghadapi berbagai hal untuk mulai mengusir Belanda dari tanah banjar. Berikut beberapa kisah tentang biografi pangeran antasari yang bisa kita teladani.

Pada tanggal 14 maret tahun 1862, pangeran antasari diberi sebuah gelar oleh pemimpin kesultanan banjar pada waktu itu dengan gelar panembahan amirudin khalifatul mukminin. Nama awal beliau bukanlah pangeran antasari tetapi gusti inu kartapati. Orang tua dari pangeran antasari adalah pangeran mas'ud dan ibunya adalah Gusti hadijah. Pangeran antasari memiliki saudara perempuan yang bernama ratu antasari. Adiknya menikah dengan seorang sultan yang bernama sultan muda abdurahman. Tetapi suami adiknya meninggal terlebih dahulu sebelum mereka mempunyai keturunan. Dalam biografi pangeran antasari, beliau tidak hanya dianggap sebagai kepala suku di banjar. Tetapi diberbagai tempat lainnya di Kalimantan.

Pada saat itu kepemimpinan banjar di pimpin oleh sultan hidayatullah, tetapi kemudian sultan hidayatullah diasingkan di cianjur oleh Belanda. Perjuangan selanjutnya diteruskan oleh pangeran antasari. Pada saat itulah gelar panembahan amirudin khalifatul dicanangkan kepada pangeran antasari yang berarti seorang pemimpin pemerintah, seorang panglima perang dan juga pemuka agama. Dengan gelar tersebut, pangeran antasari menjadi terus berjuang untuk mengusir Belanda dari banjar. Jika membaca buku biografi pangeran antasari, anda dapat mengetahui cerita ini lebih detail.

Pada tanggal 25 april tahun 1859 pangeran antasari dan pasukannya menyerang tambang batu bara milik pemerintahan Belanda. Setelah kejadian tersebut semakin banyak perpecahan peperangan yang terjadi di kota banjar untuk melawan Belanda. Banyak sekali pos-pos Belanda yang diserang oleh pangeran antasari dan pasukannya seperti di daerah martapura, tanah laut, tabalong dan masih banyak lainnya. ada banyak sekali perang yang diceritakan dalam biografi pengeran antasari. Hal ini semakin membuat Belanda memperbanyak pasukannya dan akhirnya pasukan pangeran antasari mengubah benteng pertahanannya didaerah muara teweh.

Sudah berkali-kali pemerintahan Belanda menyuruh pangeran antasari untuk menyerah. Tetapi beliau tidak pernah mau dan tetap ingin melawan Belanda. Pada tanggal 11 oktober tahun 1862 pangeran antasari meninggal dunia di tanah kampung bayan, bengkok karena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya. Setelah terkubur hampir 91 tahun didaerah hulu sungai, akhirnya makam pangeran antasari dipindahkan di daerah pemakaman pahlawan perang banjar, Banjarmasin. Itulah beberapa cerita tentang biografi pangeran antasari yang tidak pernah menyerah untuk mengusir Belanda.

    Penghargaan Pangeran Antasari    

  • Gelar Pahlawan Nasional SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968
Seperti itulah ulasan Biografi Pangeran Antasari salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Kalimantan Selatan yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Pangeran Antasari.

Biografi Ahmad Dahlan "Sang Pembaharu Dalam Kata Dan Karya"

Anonymous Add Comment

    Profil KH. Ahmad Dahlan    

Biografi Ahmad Dahlan "Sang Pembaharu Dalam Kata Dan Karya" Pahlawan Nasional
Nama : Kyai Haji Ahmad Dahlan
Lahir : 1 Agustus 1868, Daerah Istimewa Yogyakarta
Meninggal : 23 Feb 1923, Daerah Istimewa Yogyakarta
Kebangsaan : Indonesia
Makam : Kampung Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta
Anak : Djohanah, Dandanah, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siradj Dahlan, Siti Zaharah, Siti Busyro
Nama Ayah : K.H. Abu Bakar
Nama Ibu : Siti Aminah

    Biografi KH. Ahmad Dahlan    

Ahmad Dahlan dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1868 di Yogyakarta dengan nama Muhammad Darwisy. Beliau merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara dari K.H. Abu bakar, seorang Khatib dan ulama di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta. Secara garis nasab, beliau termasuk keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah satu tokoh penyebaran agama Islam di Jawa dan termasuk pemuka dari Walisongo. Pada Biografi Ahmad Dahlan disebutkan, pada usia 15 tahun beliau menunaikan Ibadah Haji dan bermukim di kota suci Makkah selama 5 tahun untuk memperdalam agama Islam. Interaksi ahmad Dahlan dengan pemikiran para pembaharu Islam, seperti Muhammad Abduh, jamaludin Al-Afghani, Ibnu Taimiyah dan Rasyid Ridha begitu inten dalam periode ini hingga sangat mempengaruhi pola pikirnya. Pada tahun 1888 beliau pulang kampong dan berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1903, beliau berangkat lagi ke Makkah dan menetap disana selama dua tahun untuk lebih memperdalam agama Islam. Pada periode ini,Ahmad Dahlan berguru pada orang yang sama dengan pendiri NU, K. H. Hasyim Asy`ari yaitu Syeh Ahmad Kahtib. Membaca Biografi Ahmad Dahlan, kita akan menemukan kalau beliau orang yang haus ilmu, sehingga beliau belajar berbagai bidang ilmu dari beberapa guru dengan latar belakang keilmuan yang berbeda. Beliau belajar fiqih pada KH. Muhammad Shaleh, mendalami ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa) pada KH. Muhsin. Pendalaman ilmu hadits pada KH. Ayyat dan Kiai Mahfud, sedangkan ilmu Al-Qur`an dipelajari dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock. Disiplin ilmu lainnya yang juga beliau pelajari adalah ilmu falak (astronomi) dari KH. Raden Dahlan. Ilmu aplikatif lainnya yaitu ilmu pengobatan dan racun binatang yang dipelajari dari Syekh Hasan.

Sepulang dari Mekkah beliau menikah dengan Siti walidah anak Kyai Penghulu Haji Fadli. Dalam biografi Ahmad dahlan disebutkan, beliau pernah menikah lima kali selama hidupnya. Selain sebagai tokoh agama, beliau juga seorang pedagang batik yang mumpuni. Maka tak heran, kalau gagasan dan pemikirannya cepat menyebar ke berbagai daerah, karena memang aktivitasnya yang terus berputar dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Disela-sela berdagang, beliau selalu mendakwahkan ajaran agama Islam. Ahmad Dahlan merupakan seorang aktivis kemasyarakatan yang memiliki pemikiran cemerlang dan wawasan luas. Dengan mudah, beliau diterima diorganisasi Jam`iyatul Khair, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1909 Ahmad Dahlan bergabung dengan Boedi Oetomo, sebuah organisasi tempat ditempanya para tokoh-tokoh nasionalis. Selain mengajarkan tentang agama pada anggota Boedi Oetomo, beliau juga belajar tentang organisasi, manajemen dan berbagai hal mengenai pergerakan. Dari sinilah beliau kemudian menyerap berbagai pengetahuan yang dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan. Maka pada 18 November 1912 (8 Dzulhijah 1330) beliau mendirikan organisasi kemasyarakatan dan pendidikan yang dilandasi semangat keagamaan dan pembaharuan bernama Muhammadiyah.

Selintas membaca biografi Ahmad Dahlan, kita akan mendapati, bahwa beliau adalah orang yang puritan dalam arti memegang teguh kemurnian agama. Bahkan melalui Muhammadiyah beliau selalu menyampaikan, apapun amaliah agam yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan sesuatu yang terlarang. Disisi lain, beliau juga seorang moderat, yang dengan lentur bisa bergaul dengan berbagai pemikiran dan kalangan termasuk tokoh-tokoh lintas agama dan nasionalis. Pada bagian lain, kita akan menemukan, betapa beliau seorang reformis dan pembaharu sejati dalam bidang keagamaan dan social kemasyarakatan. Khusus dalam system pendidikan, beliau mereformasi pola pesantren yang hanya mengajarkan materi keagamaan dan menitikberatkan pada hafalan dengan memasukkan ilmu umum. Begitu pula sebaliknya, beliau memasukkan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Beliau mempelopori system klasikal pada lembaga pendidikan yang belum lazim saat itu. Perkara ini bukanlah hal yang sepele, karena berbagai sepak terjangnya akhir memunculkan gejolak, terutama dikalangan umat Islam, sehingga beliau mendapat hujatan bahkan dicap sebagai Kiai Kafir,antek asing dan sering mendapatkan terror bahkan ancaman pembunuhan. Tetapi kegigihan dan konsistensi Beliau tidak bergeser sedikitpun atas berbagai cobaan yang menimpa.

Mendalami biografi Ahmad Dahlan, kita dapat mengambil pentingnya gagasan visioner yang dilandasi nilai-nilai kebenaran, pemikiran yang inklusif sekaligus eksklusif. Beliau selalu menekankan pentingnya amaliah atau praktek keagamaan secara nyata dalam keseharian. Agama bukan hanya berhenti pada pemahaman kognitif belaka, namun harus aplikatif dan mampu menjawab persoalan kemasyarakatan. Beliau juga menghilangkan budaya kultus individu dan ketergantungan pada individu. Terbukti Muhammadiyah, organisasi yang didirikannya memiliki beragam amal ilmiah dan terorganisir secara rapi hingga saat ini dan terus memberikan kontribusi pada masyarakat. Beliau wafat pada usia 54 tahun, tepatnya pada 23 Februari 1923 dan dimakamkan di Karang Kuncen, Yogyakarta. Atas jasa dan pengabdiannya, beliau dianugerahi gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang tertuang dalam SK Presiden No.657, tertanggal 27 Desember 1961.

    Penghargaan KH. Ahmad Dahlan    

  • Pahlawan Nasional Indonesia Keppres No. 657 tahun 1961

    Karir KH. Ahmad Dahlan    

  • Pendiri Muhammadiyah 
Seperti itulah ulasan Biografi KH. Ahmad Dahlan salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Yogyakarta yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok KH. Ahmad Dahlan.

Biografi Agus Salim "Sang Diplomat Yang Religius Dan Patriotik"

Anonymous Add Comment

    Profil Agus Salim    

Agus Salim Tokoh Pahlawan Nasional
Nama Lengkap : Agus Salim
Lahir : Sumatera Barat, 8 Oktober 1884
Meninggal :  Jakarta, 4 November 1954 (70 Tahun)
Zodiac : Balance
Profesi : Jurnalis, Diplomat
Makam  : Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam


    Biografi Agus Salim    

Agus Salim terlahir sebagai anak keempat dari pasangan Soetan Mohamad Salim dan Siti Zaenab pada tanggal 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Agam Sumatera Barat. Ayahnya, seorang Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau. Mashudul Haq yang berarti ``Pembela Kebenaran`` adalah nama yang diberikan oleh orang tuanya saat beliau lahir. Menelusuri jejak dalam biografi Agus Salim, kita mendapati kecerdasannya sangat menonjol dibanding teman-temannya. Terlahir dari keluarga yang berada, membuat Agus Salim dapat mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Belanda tanpa hambatan. Pada usia 19 tahun, belai lulus dari HBS (Hogere Burger School) atau sekolah menengah atas saat ini dalam waktu 5 tahun dengan menyandang predikat lulusan terbaik di tiga kota yaitu Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Pada usia mudanya itu, Agus salim mampu menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang,dan Jerman.

Semangat belajar Agus Salim terus Menyala, dan berbekal sebagai lulusan terbaik dia mengajukan beasiswa kepada pemerintah Belanda untuk dapat melanjutkan sekolah Kedokteran di Belanda. Tanpa sebab yang jelas, ternyata permohonannya ditolak yang membuatnya kecewa. Disisi lain, R.A. Kartini yang hidup sejaman dengan Agus Salim, mendapatkan beasiswa dari pemerintah Belanda untuk bisa belajar di negeri Kincir Angin tersebut. Namun,karena beliau telah menikah, yang dalam tradisi adat Jawa, tidak memperbolehkan seorang wanita yang sudah menikah jauh dari suaminya mengurungkan niat belajarnya. Mengetahui ada anak muda yang cerdas dan merupakan lulusan terbaik dari tiga kota sekaligus, maka kartini berkirim surat kepada temannya, Ny. Abendanon yang merupakan istri pejabat di negeri Belanda yang berwenang menentukan beasiswa untuk mengalihkan beasiswa kepada Agus Salim. Pengajuan pengalihan beasiswa R.A. kartini kepada Agus Salim disetujui oleh pemerintah Belanda. Membaca biografi Agus Salim kita dapati, kalau dia orang yang memiliki kemerdekaan diri yang tinggi. Beasiswa dari pemerintah Belanda justru ditolaknya, karena Ia tahu, itu bukan murni atas prestasinya, namun karena atas permintaan seorang bangsawan bernama Kartini. Dia justru merasa tersinggung atas perlakuan yang tidak adil tersebut.

Dalam biografi Agus Salim disebutkan, pada tahun 1906 bersamaan dengan gagalnya dia melanjutkan sekolah, beliau mendapatkan tawaran kerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Beliau menerima pekerjaan tersebut dalam kurun waktu 2 tahun antara tahun 1909 sampai 1911. Disela-sela pekerjaannya, beliau menimba ilmu lebih jauh tentang agama Islam kepada Syech Ahmad Khatib, seorang Imam di Masjidil Haram yang juga pamannya sendiri dan merupakan guru dari KH. Hasyim Asy`ari pendiri NU dan KH. Ahmad dahlan Pendiri Muhammadiyah. Selain belajar agama, beliau juga belajar mengenai ilmu diplomasi dan politik. Perpaduan ketajaman ilmu Agama, ilmu Politik, Kemampuan Bahasa asing dan kecerdasannya yang tinggi membuatnya menjadi pribadi yang disegani. Saat pulang ke tanah air, beliau langsung aktif dalam pergerakan nasional dan juga mendirikan Sekolah HIS (Hollandsche Inlandesche School.

Melanjutkan biografi Agus Salim, perjuangan politiknya diawali saat bergabung dengan Serikat Islam pada tahun 1915 yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis. Beliau sempat menjadi anggota Volksraad ( semacam DPR/MPR) dari perwakilan SI di pemerintah Hindia Belanda menggantikan seniornya HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis. Agus Salim tidak bertahan lama dan mengalami kekecewaan atas kebijakan pemerintah Hindia Belanda sebagaimana pendahulunya dan berkesimpulan berjuang dari dalam tidak efektif hingga memutuskan focus berjuang melalui SI. Pada tahun 1923 SI pecah secara ideolgi menjadi SI kiri atau SI merah yang berideologikan ke ``kiri`` yang dipimpin oleh Semaun dan Darsono yang menjadi cikal bakal PKI dengan SI kanan atau SI Putih yang berhaluan ideology kanan, dimana Agus Salim tergabung didalamnya dengan Tjokroaminoto. Agus Salim sering mendapat tuduhan sebagai mata-mata Belanda, namun ditepisnya dengan keberaniannya untuk mengkritik pemerintah Belanda melalui pidato-pidatonya. Agus Salim menjadi pimpinan puncak SI menggantikan HOS Tjokroaminoto yang wafat pada tahun 1934. Selain di SI, beliau mendirikan juga organisasi Jong Islamieten Bond dan melakukan perubahan pola pikir dari yang kaku ke Islam moderat dengan meniadakan hijab pemisah antara tempat duduk laki-laki dan perempuan pada kongres ke 2 Jong Islamieten Bond di Yogyakarta tahun 1927.

Membaca biografi Agus Salim lebih dalam kita menemukan keterlibatan beliau sebagai anggota PPKI yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia, beliau mendapat mandate sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung. Pada Kabinet Syahrir I dan II, beliau di tunjuk menjadi Menteri Muda Luar Negeri. Begitu pula pada cabinet Hatta. Berlanjut setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh internasional, beliau ditunjuk menjadi penasihat Menteri Luar Negeri. ``The Grand Old Man`` adalah julukan terhadap Agus Salim, karena kepiawainnya dalam berdiplomasi yang tidak tertandingi pada jamannya. Salah satu contoh, beliau sangat cerdik untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia dari Negara Jerman. Negara Jerman yang merasa keturunan bangsa Arya berlaku sombong dan menganggap rendah Negara atau orang yang tidak bisa berbahasa Jerman. Maka, saat kunjungannya sebagai Menteri Luar Negeri, dia menyusun naskah pidatonya dalam Bahasa Jerman yang sangat fasih dan memukau petinggi Jerman hingga akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia.

Menelaah biografi Agus Salim, kita akan menemukannya sebagai sosok yang merdeka dalam berpikir dan bertindak. Beliau tidak mau terkungkung dalam batasan-batasan, termasuk mendobrak tradisi Minang yang menurutnya kolot. Walaupun seorang tokoh yang disegani dan sangat cerdas, penampilannya sangat sederhana,sering hanya menggunakan sarung dan peci. Beliau tidak tidak memiliki brumah tetap dan selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Di tiap kota, beliau hanya menyewa rumah yang kecil dan sederhana. Dalam hal pendidikan anak, beliau mengajarnya sendiri atau home schooling kalau dalam istilah sekarang. Hanya anaknya yang paling kecil yang disekolahkan secara formal. Beliau beranggapan, semua keahliannya tidak diperoleh disekolah formal, namun lebih karena belajar mandiri atau otodidak dengan ``learning by doing``. Beliau melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda dalam hal pendidikan dengan berujar`` saya telah melalui jalan berlumpur akibat pendidikan kolonial``. Haji Agus Salim begitu akrab panggilannya di lintasan sejarah, wafat dalam usia 70 tahun tepatnya pada 4 November 1954 dan dimakamkan di TMP Kalibata. Atas segala jasa dan perjuangannya, beliau mendapat anugerah sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang tertuang dalam Keppres nomor 657 tertanggal 27 Desember 1961.

    Pendidikan Agus Salim    

  • Europeesche Lagere School (ELS)
  • Hoogere Burgerschool (HBS)

    Penghargaan Agus Salim    

  • Pahlawan Nasional Indonesia SK Keppres nomor 657 tahun 1961
Seperti itulah ulasan Biografi Agus Salim salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Sumatera Barat yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Agus Salim.

Biografi Jenderal Ahmad Yani "Sang Pahlawan Revolusi"

Anonymous 1 Comment

    Profil Ahmad Yani    

Biografi Jenderal Ahmad Yani "Sang Pahlawan Revolusi"
Nama : Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani
Tanggal Lahir : 19 Juni 1922
Tempat Lahir : Purworejo, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 43), Jakarta
Makam : Taman Makam Pahlawan di Kalibata
Zodiak : Libra
Kebangsaan : Indonesia
Istri : Yayu Rulia Sutowiryo Ahmad Yani
Anak : 8
Agama : Islam

    Biografi Ahmad Yani    

Ahmad Yani dilahirkan pada 19 Juni 1922 di Purworejo Jawa Tengah di keluarga Wongsoredjo. Ahmad yani ikut pindah keluarganya ke Batavia pada tahun 1927. Ahmad Yani menjalani pendidikan dasar di HIS (Setingkat Sekolah Dasar)Bogor selesai pada tahun 1935. Berlanjut dengan menempuh pendidikannya ke MULO (setingkat SMP), berada pada kelas B Afd dikota yang sama yaitu Bogor. Di biografi Jenderal Ahmad Yani disebutkan, selepas selesai dari MULO pada tahun 1938, Ia pindah ke Jakarta untuk melanjutakan pendidikan ke AMS (setingkat SMU) masuk pada bagian B dan hanya bertahan sampai kelas dua karena kena wajib militer.

Pada tahun 1940, pemerintah Hindia Belanda melakukan kebijakan wajib militer. Dari sisnilah pendidikan Militer Ahmad Yani dimulai. Ahmad Yani mempelajari tentang topografi militer di Malang jawa Timur, namun belum sempat selesai terganggu oleh kedatangan pasukan Jepang pada tahun 1942. Ia dan keluarganya kembali ke daerah Jawa Tengah. Dalam biografi Jenderal Ahmad Yani disebutkan, pada tahun 1943 Ia bergabung dengan pasukan Peta (Pembela Tanah Air) dan menjalani pelatihan di Magelang. Tahap selanjutnya, Ia menjalani pendidikan komandan peleton Peta di Bogor jawa Barat. Selesai dari Bogor, kembali lagi ke Magelang dan menjadi instruktur. Pada tahun tersebut, dia mengawali karier militer dengan pangkat Sersan

Pada masa awal kemerdekaan, ahmad yani bergabung dengan tentara Republik Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang masih terus merongrong. Ahmad Yani membentuk battalion dan dirinya yang menjadi komandan serta menorehkan kemenangan pertama di Magelang, saat belanda mencoba mengambil alih Magelang dan digagalkan oleh dirinya beserta pasukan. Maka Ahmad Yani mendapat Julukan ``Juruselamat Magelang``. Pada biografi Jenderal ahmad yani disebutkan, setelah terbentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia ditugaskan menjadi komandan TKR di Purwokerto. Saat terjadi Agreis Militer Belanda Pertama, ahmad yani dan pasukannya yang berada didaerah Pingit berhasil menghalau serangan Belanda melalui perang gerilya. Agresi Militer Belanda yang kedua dilancarkan kembali, Dia diberikan kepercayaan sebagai komandan Wehrkreise II untuk wilayah pertahanan Kedu. Setelah Indonesia berdaulat, muncul gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) diwilayah Jawa Tengah. Ahmad Yani ditugaskan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Dalam rangka tugas tersebut ahmad Yani membentuk pasukan khusus yang diberi nama ``The Banteng Raiders``. Pasukan DI/TII berhasil dikalahkan. Ia bertugas di staf Angkatan Darat.

Pada lintasan biografi Jenderal Ahmad Yani dijelaskan, pada Desember 1955 Ia mendapat tugas belajar selama 9 bulan di Komando dan Staf Umum College, Fort Leavenwort, Texas kembali pada 1956. Kemudian mengikuti pendidikan dua bulan pada special Warfare Course di Inggris. Setelahnya, Ahmad Yani dipindah ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta menjadi anggota staf umum untuk Abdul Haris Nasution. Selanjutnya menjabat Asisten Logistik Kepala Staf angkatan darat. Karirnya naik menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk organisasi dan kepegawaian. Pada tahun 1958 terjadi pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera Barat. Saat itu ia berpangkat kolonel dan mendapat mandate sebagai komandan komando Operasi 17 Agustus dan berhasil menumpas pemberontak. Keberhasilannya menjadikan Ia mendapat promosi jabatan pada 1 September 1962 menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat ke-2. Setahun kemudian, tepatnya 13 November 1963 menjadi Panglima Angkatan Darat yang otomatis menjadi Menteri di Kabinet Presiden Soekarno.

Pada era akhir kepemimpinan, Presiden Soekarno lebih condong kepada haluan Komunis dan memaksakan ideologi Nasakom. Pada tanggal 31 Mei 1965, Ahmad yani dan nasution juga bersebrangan pendapat dengan PKI tentang rencana pembentukan tentara angkatan kelima, yaitu buruh dan tani yang dipersenjatai. Pada saat PKI melancarkan Gerakan 30 September, Ahmad yani menjadi menjadi salah satu target operasi tersebut. Pada tanggal tersebut, rumah Ahmad yani di Jalan Latuhahary No.6 di Menteng Jakarta Pusat, dikepung oleh sekitar 200 orang. Para penculik masuk kerumah Ahmad Yani, masuk ke rumah dan memaksa Ahmad Yani untuk ikut mereka dan mengatakan akan dihadapkan pada Presiden. Ahmad yani meminta untuk mandi dan berganti pakaian, namun ditolak oleh para penculik dan terjadi insiden hingga penembakan yang menewaskan Ahmad Yani pada 1 Oktober dini hari di depan kamar tidurnya. Penculik membawa jenazah Ahmad Yani ke Lubang Buaya di Jakarta Timur dan dimasukkan ke dalam sumur bekas bersama para Jenderal yang dibunuh lainnya. Dalam rekam sejarah biografi Jenderal Ahmad Yani disebutkan, Jenazah para korban G-30 S PKI diangkat dari sumur pada tanggal 4 Oktober 1965 dan di makamkan di TMP Kalibata tanggal 5 setelah melalui upacara kenegaraan. Ahmad Yani dan rekan-rekannya yang terbunuh, dinyatakan sebagai Pahlawan Revolusi melalui Keppres Nomor 111/KOTI/1965 dan pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Jenderal Anumerta. Kini bekas rumah Ahmad yani dijadikan sebagai museum public yang suasananya dibuat sama dengan kondisi semula tahun 1965. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Namanya kini terkenang sebagai nama jalan hampir di tiap kota seluruh Indonesia.

    Pendidikan    

  • HIS (setingkat SD) Bogor, tamat tahun 1935
  • MULO (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938
  • AMS (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940
  • Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang
  • Pendidikan Heiho di Magelang
  • PETA (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor
  • Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat, tahun 1955
  • Special Warfare Course di Inggris, tahun 1956

    Bintang Kehormatan    

  • Bintang RI Kelas II
  • Bintang Sakti
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
  • Satyalancana Kesetyaan VII, XVI
  • Satyalancana G: O.M. I dan VI
  • Satyalancana Sapta Marga (PRRI)
  • Satyalancana Irian Barat (Trikora)
  • Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1958) dan lain-lain

    Penghargaan    

  • Pahlawan Revolusi (SK Presiden Nomor 111/KOTI/1965)
Seperti itulah ulasan Biografi Jenderal Ahmad Yani salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari Jawa Tengah yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Jenderal Ahmad Yani.