10 Fakta Mengejutkan Tentang Sosok R.A Kartini yang Perlu Diketahui

Add Comment
BiografiPahlawan.com - Siapa yang tidak kenal dengan sosok Kartini, pahlawan perempuan Indonesia yang dikenal karena perjuangannya dalam menjunjung hak-hak wanita di Indonesia pada jamannya. Bahkan hari kelahirannya sengaja diperingati tiap tahunnya. Kartini merupakan sosok perempuan yang tidak kenal lelah dalam berjuang meski menempuh banyak tantangan oleh keluarga dan lingkungannya.

Beberapa fakta tentang sosok kartini di bawah ini merupakan hal yang harus kamu ketahui agar menambah wawasanmu mengenai beliau. Mengapa dan bagaimana kehidupannya saat ia dulu tengah berjuang diantara keterbatasan yang ia miliki.

Raden Adjeng Kartini

Berikut 10 Fakta Menarik Seputar Raden Adjeng Kartini yang Perlu Diketahui

1. Merupakan Pahlawan yang Kontroversial

Perjuangan Raden Adjeng Kartini dapat diketahui bukan melalui bukti sejarah yang valid. Namun hanya lewat bukunya yang berjudul “Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku tersebut berisi surat-surat kartini yang disusun oleh J.H Abdendanon dalam Bahasa Belanda. Sebenarnya ada 150 surat di buku tersebut, tapi tidak semua ditampilkan karena banyak juga yang sifatnya sangat sensitif. Namun pada akhirnya buku tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan menampilkan 100 surat. Ada 53 surat yang ditujukan untuk sahabatnya, Rosa Abendanon dan suaminya. Perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah ini dianggap sebagai pahlawan kontroversial, karena para sejarahwan meragukan buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Soalnya, tidak ada bukti surat-surat Kartini.

2. Mampu Berbahasa Belanda

Sebagai seorang wanita yang pada jamannya sangat sulit bersekkolah kartini sangatlah mahir dalam menggunakan Bahasa Belanda. Padahal ia hanya mengenyam pendidikan dasar di sekolah anak-anak Belanda dan bangsawan pribumi. Keahlian berbahasanya dia peroleh dari ketekunan dan keuletannya dalam membaca buku dan belajar melalui menulis surat.

3. Tidak Menyukai Feodal Jawa

Kartini merupakan keturunan bangsawan dari darah biru ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan Bupati Jepara. Ibunya, Ngasirah cuma seorang selir, karena berasal dari rakyat jelata. Menurut aturan feodal Jawa, ia wajib memanggil ibunya “Yu” yang berasal dari kata “Mbakyu” (kakak perempuan). Sedangkan, ibunya memanggil Kartini “Ndoro” (panggilan untuk bangsawan Jawa). Jika Ngasirah lewat di depan Kartini, ia harus berjalan membungkuk. Jika Kartini duduk di kursi, ibunya harus duduk di lantai. Kartini cuma boleh memanggil ibu kepada ibu tirinya, Raden Ayu Moeryam yang merupakan keturunan raja Madura. Karena aturan yang menurutnya tidak masuk akal itu ia sangat benci dengan tata cara hidup feodal jawa dan meninggalkan kebiasaan itu.

4. Sering di Bully di Sekolah serta Dikurung di Rumah

Walaupun keturunan bangsawan Kartini juga kerap menghadapi diskriminasi dan cemooh dari guru-guru Belanda. Ia dihina dan di bully karena merupakan bangsa berkulit cokelat. Selain itu meski berprestasi ia tidak akan pernah mendapatkan nilai yang baik. Kartini juga dipingit dan hanya dikurung di rumah untuk menunggu pria meminangnya. Namun ia terus saja belajar dan mengenal wawasan mengenai emansipasi wanita di Eropa.

5. Rela di Poligami Demi Ayahnya

Meski tidak senang dengan poligami yang terjadi pada ibunya, Kartini bahkan harus mengalami nasib yang serupa dengan ibunya, Karena keinginan ayahnya pada usianya 24 tahun, Kartini terpaksa bersedia dinikahi bangsawan yang memiliki dua selir, yaitu Bupati Rembang, Raden Adipati Djojo Adiningrat. Soalnya, sang ayah ingin Kartini menikah, ditambah lagi kondisi kesehatan ayahnya sudah semakin memburuk.

6. Setuju Menikah Asal Bisa Berjuang untuk Perempuan

Persetujuannya untuk menikah ternyata tidak gratis. Meski bersedia dijodohkan asal ayahnya menyetujui sejumlah syarat. Yaitu, ia harus diperbolehkan mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan, diperbolehkan mengajar, dan boleh menggapai cita-citanya untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan. Kartini juga menolak ritual cium kaki suami yang merupakan aturan upacara pernikahan feodal Jawa. Ia menganggap tradisi itu merendahkan perempuan.

7. Sangat Dikagumi Oleh Istri  Raden Adipati Djojo Adiningrat 

Ternyata, Raden Adipati Djojo Adiningrat menikahi Kartini karena permintaan istrinya, Sukarmilah sebelum meninggal. Sukarmilah mengagumi Kartini dan pemikiran-pemikirannya. Makanya, ia berpesan kepada suaminya agar menikahi Kartini. Hal tersebut dilakukan agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang baik.

8. Seorang Pebisnis

Selain mendirikan sekolah Kartini juga punya jiwa bisnis dan mendirikan sebuah bengkel ukir kayu untuk para pemuda di Rembang. Usaha kayunya ini sangat sukses dan banyak membantu warga Jepara. Meski perempuan pada zamannya sangatlah terbatas pergerakannya namun Kartini membuktikan yang sebaliknya. 

9. Museum Kartini Didirikan di Jepara

Karena banyak jasa dan perjuangannya di Jepara yaitu tempat kelahirannya didirikanlah Museum R.A Kartini yang didirikan pada 30 Maret 1975, di masa pemerintahan Soewarno Djojomardowo. Isi dari museum ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan Kartini sejak tinggal di Jepara.

10. Wafat di Usia Muda yaitu 25 Tahun Setelah Melahirkan

Meski banyak berjuang namun perjuangannya tidak bisa panjang karena ia meninggal di usia muda yaotu 25 tahun. Ia meninggal karena melahirkan. Dari hasil pernikahannya dengan Raden Adipati Djojo Adiningrat, Kartini dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Soesalit Djojoadhiningrat pada 13 September 1904. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Itulah beberapa fakta tentang sosok Kartini, Terima kasih semoga bermanfaat.

Biografi Frans Kaisiepo, Aktivis Kemerdekaan di Wilayah Irian

Add Comment

   Profil Frans Kaisiepo   

Nama Lengkap : Frans Kaisiepo

Tempat Lahir : Biak, Papua

Tanggal Lahir : Senin, 10 Oktober 1921

Meninggal : 10 April 1979 (umur 57)  Jayapura, Papua,

Zodiac : Balance

Agama : Kristen Protestan

Warga Negara : Indonesia

Istri : Anthomina Arwam

Gelar : Pahlawan Nasional

   Biografi Frans Kaisiepo   

Frans Kaisiepo adalah pria kelahiran Wardo, Biak, Papua pada 10 Oktober 1921. Pahlawan Nasional yang satu ini punya jasa besar khususnya terhadap kehidupan masyarakat di Papua sebab ia pernah menyandang status sebagai Gubernur Papua ke-4. Ia jugalah yang berada di belakang asal-usul nama Irian. Jasa lain yang masih diingat publik adalah keikutsertaannya dalam Konferensi Malino di tahun 1946. Ia memang sejak lama ikut serta dalam gerakan Kemerdekaan Republik Indonesia. 

Ia sudah antusias bahkan saat masih berusia belia. Sempat suatu waktu sang pendiri PKII bernama Silas Papare ditangkap oleh Belanda. Ia kemudian bersama beberapa rekan berinisiatif untuk menyatukan wilayah Irian agar menjadi bagian dari Indonesia. Ia sangat anti dengan Pemerintahan Belanda saat itu. Bahkan ia sempat meminta sang putra bernama Markus Kaisiepo untuk mengganti nama sekolah dari yang semula disebut Papua Bestuurschool menjadi Irian Bestuurschool. 

Menurutnya, nama Irian memiliki arti besar terutama kaitannya dengan semangat persatuan masyarakat agar tidak mudah untuk takluk di tangan Belanda. Ia dan beberapa teman sangat antusias menjelang presiden memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Ini dibuktikannya dengan memperdengarkan lagu kebangsaan beberapa hari menjelang proklamasi, tepatnya pada 14 Agustus 1945. Ia juga merupakan salah satu dari pahlawan TRIKORA. Ia berjasa di dalam pembentukan Partai Indonesia merdeka pada 10 Juli 1946.

Yang menjabat sebagai ketua saat itu adalah Lukas Rumkofen. Ia pun kemudian diutus untuk pergi menghadiri Konferensi Malino 1946. Itu merupakan peristiwa penting dalam sejarah hidupnya sebab dalam konferensi tersebut, ia merupakan satu-satunya perwakilan dari Irian. Disana ia menyuarakan aspirasinya agar nama Papua diganti menjadi Irian. Hanya berselang 1 tahun, Belanda mencoba melakukan penekanan sehingga perang pun pecah di Biak, Irian. Kaisiepo merupakan salah satu tokoh penting dalam pergerakan tersebut. Sikap antinya terhadap Belanda kembali ditunjukkan dengan menolak dipilih sebagai wakil Belanda di Konferensi Meja Bundar. 

Atas sikap kerasnya itu, ia kemudian ditahan dalam periode yang cukup lama, mulai dari 1954 – 1961. Penahanan tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Bahkan ia kembali menemukan jati diri dengan menjadi pendiri Partai Politik Irian pada 1971. Misi utama dari pembentukan partai tersebut adalah agar supaya wilayah nugini bisa bersatu dengan Indonesia. Pada periode ini sempat terjadi peristiwa penting termasuk TRIKORA (Tiga Komando Rakyat). Frans Kaisiepo menghembuskan nafas terakhir pada 10 April 1979, kemudian raganya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih di Biak.

   Pendidikan Frans Kaisiepo   

  • Sekolah Rakyat pada 1928–1931
  • LVVS Korido pada 1931–1934
  • Sekolah Guru Normalis di Manokwari pada 1934–1936
  • Bestuur Course pada March – August 1945
  • Bestuur School / Pamong Praja pada 1952–1954

   Karir Frans Kaisiepo   

  • Pendiri, Partai Indonesia Merdeka, 1946
  • Anggota Delegasi RI, Konferensi Malino, Sulawesi Utara, 1946
  • Anggota, Kepemimpinan Hakim Tertinggi, Dewan Pertimbangan Agung RI, 1972
  • Gubernur Papua, 1964-1973

   Penghargaan Frans Kaisiepo   

  • Gelar Pahlawan Nasional Indonesia
Demikian biografi Frans Kaisiepo sosok pahlawan nasional Indonesia dari Papua. Frans yang terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 membicarakan pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Semoga kisah pahlawan diatas dapat memberikan inspirasi kepada penerus bangsa Indonesia terkhusus kepada masyarakat Papua.

Biografi Hamengkubuwono IX, Sultan Yogyakarta Sekaligus Aktivis Kemerdekaan

Add Comment

   Profil Hamengkubuwono IX   

Hamengkubuwono IX
Nama lahir : Bendoro Raden Mas Dorodjatun

Gelar : Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Tempat Lahir : Yogyakarta

Tanggal Lahir : 12 April 1912

Warga Negara : Indonesia

Wafat : 2 Oktober 1988

Zodiac : Aries

Agama : Islam

Gelar : Pahlawan Nasional

   Biografi Hamengkubuwono IX   

Sri Sultan Hamengkubuwono IX merupakan tokoh pahlawan yang lahir dari pasangan Sultan Hamengkubuwono VIII dan RA Kustilah yang merupakan istri kelima ayahnya. Pria kelahiran Yogyakarta, 12 April 1912 merupakan orang penting di Kesultanan. Ia punya nama lahir Bendoro Raden Mas Dorodjatun. Karena merupakan garis keturunan langsung dari raja sebelumnya, ia mendapat kehormatan untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Ia kemudian ditunjuk menjadi Raja Kesultanan Yogyakarta ke-9. 

Masa pemerintahannya berjalan cukup lama, mulai dari 18 Maret 1940 hingga ia meninggal. Ia tutup usia pada 2 Oktober 1988 dimana saat itu ia menginjak usia ke-76 tahun. Meski Yogyakarta sudah ada jauh sebelum masa pemerintahannya, namun di bawah kepemimpinannya, Jogja mengalami berbagai perubahan. Ia merupakan satu dari banyak tokoh yang lantang menyerukan ketidaksukaannya terhadap penjajah. Ia pun getol memperjuang rakyat yang dicintainya. 

Hamengkubuwono IX menghabiskan banyak waktu untuk berunding dengan salah satu utusan belanda bernama Dr Lucien Adam. Selain itu, ia juga berada di garda depan saat masa penjajahan Jepang. Ia berusaha agar rakyat tidak menjadi romusha dalam rangka pembuatan saluran irigasi selokan Mataram. Perjuangannya sangat panjang dan ia pun menyerukan sudpaya Indonesia bisa merdeka dan Yogyakarta bisa mendapatkan status istimewa. Gayung pun bersambut, ia kemudian ditunjuk sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pertama langsung oleh Presiden yang saat itu menjabat Ir. Soekarno.

Jabatan tersebut dilimpahkan kepadanya tepat di Hari Kemerdekaan Indonesia. Jabatan istimewa lain yang pernah diembannya adalah Menteri Negara Pada Kabinet Sjahrir III. Di masa jabatannya, Belanda melakukan agresi atau lebih dikenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda I. Ini berlangsung mulai tanggal 21 Juli 1947 dan berakhir pada 5 Agustus 1947. Hamengkubuwono IX terus mendapat kepercayaan untuk mengisi jabatan penting di pemerintahan. Ia sempat diangkat sebagai Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri, bahkan sempat juga ia bertugas sebagai pengganti Abdul Hakim sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia. 

Ada banyak kontribusi yang telah ia berikan kepada negara terutama berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Di bidang pendidikan pun, ia tergolong sosok yang peduli. Ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya, dimana ia sendiri pernah bersekolah di berbagai instansi, seperti Frobel School dan Eerste Europese Lagere School. Masih ada banyak lagi jasanya di pemerintahan, termasuk di bidang olahraga dan pariwisata. Ia tutup usia di  George Washington University Medical Center, Amerika. Namun pemakamannya dilakukan di dalam negeri, tepatnya di Bantul, Yogyakarta.

   Pendidikan Hamengkubuwono IX   

  • Taman kanak-kanak atau Frobel School asuhan Juffrouw Willer di Bintaran Kidul
  • Eerste Europese Lagere School (1925)
  • Hogere Burger School (HBS, setingkat SMP dan SMU) di Semarang dan Bandung (1931)
  • Rijkuniversiteit Leiden, jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi

   Karir Hamengkubuwono IX   

  • Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945)
  • Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947)
  • Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 - 11 November 1947 dan 11 November 1947 - 28 Januari 1948)
  • Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949)
  • Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949)
  • Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950)
  • Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 - 27 April 1951)
  • Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1951)
  • Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956)
  • Ketua Sidang ke 4 ECAFE (Economic Commision for Asia and the Far East) dan Ketua Pertemuan Regional ke 11 Panitia Konsultatif Colombo Plan (1957)
  • Ketua Federasi ASEAN Games (1958)
  • Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959)
  • Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata (1963)
  • Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966)
  • Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966)
  • Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968)
  • Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI (1968)
  • Ketua Delegasi Indonesia di Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) di California, Amerika Serikat (1968)
  • Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 - 23 Maret 1978)

   Penghargaan Hamengkubuwono IX   

  • Pahlawan Nasional
Demikian biografi Hamengkubuwono IX yang merupakan tokoh dari Yogyakarta sekaligus sosok pahlawan nasional Indonesia. Semoga kisah hidup diatas dapat memberikan pelajaran penting kepada seluruh penerus Bangsa Indonesia.

Biografi Hamengkubuwono I, Tokoh Penting dalam Kesultanan Yogyakarta

Add Comment

    Profil Hamengkubuwono I    

Sri Sultan Hamengkubuwono I
Nama lahir : Raden Mas Sujana

Gelar: Sri Sultan Hamengkubuwono I

Tempat Lahir : Kartasura

Tanggal Lahir : 6 Agustus 1717

Warga Negara : Indonesia

Wafat : 24 Maret 1792 di Yogyakarta

Zodiac : Leo

Gelar : Pahlawan Nasional

    Biografi Hamengkubuwono I    

Ada banyak figur penting dalam sejarah perjuangan Indonesia melawan penjajah. Salah satu sosok penting tersebut adalah Hamengkubuwono I. Ia adalah Pahlawan Nasional yang lahir dengan nama Raden Mas Sujana. Ia dilahirkan di Kartasura pada 6 Agustus 1717. Setelah tumbuh menjadi seorang pria dewasa, ia kemudian diberikan gelar penting Putra Mangkubumi. Ia merupakan tokoh penting di balik terciptanya Kesultanan Yogyakarta. Itulah mengapa ia beserta keturunan berikutnya sangat dihormati oleh rakyatnya.

Di dalam kesultanan tersebut, ia merupakan raja pertama dengan masa pemerintahan cukup lama mulai dari 1755 hingga 1792. Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi selama periode kepemimpinannya. Salah satu yang paling diingat adalah perang antara mangkubumi dengan Pakubuwono II dan VOC. Perang tersebut oleh para sejarawan disebut dengan perang Suksesi Jawa III. Ia terkenal di jamannya sebagai keturunan dari Amangkurat IV yang saat pernah menjabat sebagai Raja Kasunan Kartasura.

Banyak yang menganggap dirinya sebagai salah satu sosok raja paling hebat di masanya terutama jika dikaitkan dengan kerajaan mataram. Hamengkubuwono I dicintai oleh rakyatnya sebab ia adalah raja yang penting dalam sejara kesultanan. Di Jogja, ia bisa dibilang sebagai raja terbesar. Andilnya dalam mengalahkan Surakarta juga turut melambungkan namanya. Padahal kala itu, Yogyakarta masih tergolong negeri baru. Tidak sampai disitu, armada perang mereka juga sangat besar, mengalahkan apa yang dimiliki oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).

VOC punya sejarah kelam dalam hal monopoli aktivitas dagang di kawasan Asia. Ini adalah organisasi bentukan Pemerintah Kolonial Belanda, didirikan tepatnya 20 Maret 1602. Daya tariknya bukan hanya soal bagaimana ia berusaha melawan kesewenang-wenangan VOC, namun ia juga dikenal sebagai sosok yang mencintai keindahan. Ini dibuktikannya lewat Taman Sari Keraton Yogyakarta. Ini merupakan salah satu peninggalan sejarah yang dibuat di masa pemerintahannya.

Sang arsitektur adalah seseorang dari kasultanan yang ternyata punya darah Portugis. Ia bernama Jawa Demang Tegis. Hamengkubuwono I meninggal pada 24 Maret 1792. Raja yang agung ini kemudian mewariskan kekuasaan kepada putranya Raden Mas Sundoro yang juga dikenal Sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono II. Untuk mengingat jasa-jasanya, pemerintah memberikannya gelar sebagai Pahlawan Nasional. Penetapannya dilakukan pada 10 November 2006.
KARIR
  • Raja Kasultanan Yogyakarta (1755-1792)
PENGHARGAAN
  • Pahlawan Nasional sejak 10 November 2006
    Tidak hanya sebagai seorang pemimpin yang memiliki keahlian dalam strategi berperang, Hamengkubuwono I juga mencintai keindahan. Taman Sari Keraton Yogyakarta merupakan karya arsitektur yang monumental di masa kepemimpinannya. Taman tersebut dirancang oleh seorang ahli bangunan berkebangsaan Portugis yang memiliki nama Jawa Demang Tegis.
    Sebagai tokoh penting di Kesultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono I diberikan gelar sebagai salah satu Pahlawan Nasional sejak tahun 2006. Semoga Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono I diatas dapat menjadi inspirasi penerus bangsa Indonesia.

    Biografi Ferdinand Lumban Tobing, Dokter dan Politisi Pemerjuang Hak-hak Buruh

    Add Comment

        Profil Ferdinand Lumban Tobing    

    Ferdinand Lumban Tobing
    Nama Lengkap: Ferdinand Lumban Tobing

    Tempat Lahir : Sibuluan, Sibolga, Sumatera Utara

    Tanggal Lahir : Minggu, 19 Februari 1899

    Warga Negara : Indonesia

    Wafat : jakarta, 7 Oktober 1962

    Zodiac : Aquarius

    Gelar : Pahlawan Nasional
    Sebagai pemimpin militer dengan jabatan Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur Selatan pada awal revolusi, dr. Ferdinand Lumban Tobing turun memimpin perjuangan gerilya di hutan-hutan.

        Biografi Ferdinand Lumban Tobing    

    Ferdinand Lumbantobing adalah Pahlawan Nasional kelahiran 19 Februari 1899. Ia lahir di Sibuluan, Sibolga, Sumatera Utara dan meninggal di Jakarta pada usia ke-63, tepatnya tanggal 7 Oktober 1962. Ia merupakan sosok penting yang pernah dimiliki oleh rakyat Sumatera dan Indonesia pada umumnya. Pendidikannya dimulai di Bogor, Jawa Barat. Setelah menuntaskan pendidikan dasarnya, ia kemudian masuk di sekolah STOVIA untuk mendalami profesi sebagai dokter.

    Ini merupakan sekolah yang sangat dikenal saat jaman kolonial dulu. Ia mendapatkan banyak ilmu terutama berkaitan dengan penanganan penyakit menular. Segera setelah lulus disana, ia mulai mengabdikan diri kepada masyarakat dan memakai keahlian yang dimilikinya untuk merawat pasien di rumah sakit CBZ jakarta. Beberapa tahun bekerja disana, ia kemudian diutus untuk pindah kerja ke daerah Tenggarong, Kalimantan Timur. Bukan hanya itu saja tempat yang pernah ia singgahi.

    Sepanjang karirnya, Ferdinand juga pernah ditugaskan ke Tapanuli dan Surabaya, Jawa Timur. Saat periode penjajahan Jepang, ia ditugaskan sebagai dokter yang memantau kesehatan romusha. Ia pun sempat memberikan pernyataan yang bernada keberatan soal pemerintahan Jepang di Indonesia. Protes tersebut utamanya berkaitan dengan aktivitas romusha. Tidak hanya aktif di dunia kedokteran, ia juga pernah menjajal dunia politik. Ini dibuktikan lewat keterlibatannya di dalam Syu Sangi Kai sebagai ketua daerah Tapanuli.

    Selain itu, ia juga pernah berpartisipasi aktif di dalam Cuo Sangi In. Sempat pula pada periode Agresi Militer II Belanda, ia ditunjuk sebagai Gubernur Militer Tapanuli. Diberikan wewenang sebesar itu, ia berusaha membuktikan diri sebagai patriot yang patuh dengan bergabung di dalam perang gerilya. Ia pernah mendapatkan kepercayaan untuk menjadi Gubernur Provinsi Sumatera Utara setelah kemerdekaan, namun peluang tersebut tidak diambilnya.

    Sebagai gantinya, ia lebih memilih untuk menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan. Tidak sampai disitu, Ferdinand Lumbantobing juga menambah pengalaman dengan menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Transmigrasi. Sebagai sosok yang berbakti terhadap Tanah Air, ia mendapatkan tempat spesial di hati masyarakat. Pemerintah mengapresiasi semua jasanya dengan memberikannya gelar sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.
    PENDIDIKAN
    • STOVIA
    KARIR
    • Dokter
    • Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan
    • Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah
    • Menteri Negara Urusan Transmigrasi
    PENGHARGAAN
    • Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
    Semangat juang yang telah dihadirkan oleh salah satu tokoh pahlawan satu ini semoga dapat memberikan inspirasi kepada kita semua. Dengan hadirnya biografi Ferdinand Lumban Tobing diatas daoat pula menjadi pelajaran kepada kita bagaimana mengapresiasi para pahlawan Indonesia.

    Biografi KH Fakhruddin, Pejuang Pergerakan Kemerdekaan Indonesia

    Add Comment

        Profil KH Fakhruddin    

    KH FakhruddinNama Lengkap : KH Fakhruddin

    Alias : Muhammad Jazuli

    Tempat Lahir : Yogyakarta

    Tanggal Lahir : 1890

    Warga Negara : Indonesia

    Wafat : 28 Februari 1929 di Yogyakarta

    Ayah : Haji Hasyim

    Gelar : Pahlawan Nasional

        Biografi KH Fakhruddin    

    KH Fakhruddin dikenal sebagai ulama yang aktif menyuarakan aspirasinya dalam Pergerakan Nasional. Ia juga pernah bergabung dalam organisasi Budi Utomo. Dibesarkan di lingkungan yang agamis, ini membuatnya menjadi sosok ulama yang pandai. Ia mendapatkan ilmu tersebut dari Sang Ayah yang bernama Haji Hasyim. Namun ia juga tidak lupa menambah ilmu dengan berguru kepada ulama lain dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tidak sampai disitu, Fakhruddin juga pernah menimba ilmu di Mekkah selama 8 tahun.

    Meski ketertarikannya terhadap ilmu agama sangat besar, namun ia tidak melupakan perjuangan masyarakat Indonesia melawan kolonialisme, hingga ia pun akhirnya bergabung dengan Budi Utomo. Ia pernah bergabung dalam beberapa organisasi, dan ada alasan kuat mengapa ia bergabung disana. Misalnya saja ia masuk dalam Sarekat Islam karena memang aktivitas di dalam organisasi tersebut lebih cenderung ke hal-hal yang bersifat keagamaan dan sosial. Ini pula yang menyebabkan ia bergabung pada organisasi Gerakan Muhammadiyah.

    Di Muhammadiyah, ia berjasa besar di dalam pendidikan generasi muda yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Ia termasuk tokoh yang cekatan dalam bidang sosial. Bukan hanya soal keagamaan saja, namun berbagai bidang ia pernah coba. Dan ia selalu menekankan supaya umat tetap bersatu apapun kondisinya. Ia kemudian berinisiatif untuk membuka percetakan Muhammadiyah. Ini disebutnya sebagai sarana penting untuk berkomunikasi antar umat beragama.

    Ia beranggapan bahwa pendidikan sangat dibutuhkan untuk membentuk generasi masa depan yang baik. Dan untuk itu, penyediaan sekolah sangat dibutuhkan. Dengan alasan itulah, ia dengan suka rela berpindah dari satu kota ke kota lain mulai dari Jakarta, Pekalongan, hingga Surabaya supaya orang tergerak hatinya untuk mengikuti apa yang ia inginkan terkait perkembangan generasi muda. Ia ingin agar Umat Islam tidak kolot dalam penerapan Islam lewat sekolah, supaya kemajuan bisa dicapai.

    Karena kemampuan yang dimiliki, ia mendapatkan kesematan untuk menjadi pengurus bagian dakwah. Kemudian di tahun 1921, ia juga pernah diminta terbang ke Mekkah dalam rangka mengetahui kondisi jemaah haji yang berasal dari Tanah Air. Tidak hanya mekah, Kairo juga pernah disambanginya dimana saat itu ia diutus untuk hadir dalam acara Konferensi Islam. Selain berdakwah, KH Fakhruddin juga dikenal sebagai sosok yang gemar menulis dan sempat mempublikasikan beberapa karyanya di majalah dan surat kabar. Di akhir hidupnya, ia kurang menjaga kesehatan, sehingga jatuh sakit dan meninggal pada 28 Februari 1929 di Yogyakarta.

    Biografi Pangeran Diponegoro, Tokoh Sentral di Balik Pecahnya Perang Diponegoro

    Add Comment

        Profil Pangeran Diponegoro    

    Pangeran Diponegoro
    Nama Lengkap: Bendoro Raden Mas Ontowiryo
    Tempat Lahir : Yogyakarta
    Tanggal Lahir : 11 November 1785
    Warga Negara : Indonesia
    Wafat : 8 Januari 1855 di Sulawesi
    Ayah : Hamengkubuwana III
    Ibu : R.A. Mangkarawati
    Gelar : Pahlawan Nasional

        Biografi Pangeran Diponegoro    

    Pangeran Diponegoro adalah tokoh sentral di dalam Perang Diponegoro. Lalu, seperti apa sosok tokoh Pahlawan Nasional yang satu ini? Kita akan membahasnya untuk anda. Diponegoro lahir pada 11 November 1785 di Jogja. Setelah melakukan perjuangan sekian lama, ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 8 Januari 1855 di Sulawesi. Saat itu ia sudah menginjak usia 69 tahun. Diponegoro adalah putra dari tokoh yang disegani bernama Hamengkubuwana III.

    Ia adalah seorang raja dari Mataram. Sang ibu bernama R.A. Mangkarawati, ia berdarah Pacitan. Saat dilahirkan, Diponegoro memiliki nama Bendoro Raden Mas Ontowiryo. Sang Ayah sempat punya niat untuk mengangkatnya sebagai raja. Hanya saja waktu itu ia sadar bahwa ia hanya putra dari seorang selir, sehingga menolak keinginan dari ayahnya tersebut. Sepanjang hidupnya, Diponegoro pernah mempersuntingnya banyak istri, diantaranya adalah Raden Ayu Ratnaningrum, Bendara Raden Ayu Antawirya, dan Raden Ayu Ratnaningsih.

    Kehidupannya lebih banyak dihabiskan untuk mendalami agama. Ia juga dikenal sangat merakyat dan banyak tinggal di Tegalrejo. Ada satu momen dimana ia melakukan pemberontakan terhadap keraton dan ini bermula saat keraton berada di bawah pemerintahan Hamengkubuwana V (1822). Ia saat itu bertindak sebagai anggota perwalian. Ia tidak menyukai prosedur perwalian tersebut. Diponegoro adalah sosok pejuang luar biasa. Ia tidak suka dengan Belanda sejak mereka berani memasang patok di tanah miliknya yang berlokasi di Tegalrejo. Itu tidak lain adalah karena Belanda dinilai semena-mena terhadap masyarakat.

    Mereka juga suka membebani pajak kepada rakyat. Ia pun menunjukkan ketidaksukaannya secara terbuka dan sikap ini ternyata banyak mendapat dukungan dari masyarakat. Sang paman Pangeran Mangkubumi kemudian memintanya pindah dari Tegalrejo untuk memikirkan strategi melawan kaum kafir. Ia menamai perjuangan tersebut sebagai Perang Sabil. Semangat tersebut tidak hanya menyulut semangat orang-orang terdekatnya saja, namun mleluas hingga ke Kedu dan Pacitan. Bahkan tokoh agama penting seperti Kyai Maja juga turut serta di dalam perjuangan tersebut.

    Perang tersebut menyebabkan kerugian di pihak kolonial. Mereka kehilangan banyak prajurit, bahkan mencapai 15.000 orang. Karena dinilai membahayakan, mereka pun membuat sayembara dengan hadiah 50.000 Gulden supaya orang tertarik ikut serta dalam perburuan tersebut. Diponegoro baru berhasil ditangkap di tahun 1830.

    Beberapa minggu setelah ditangkap, 28 Maret 1830, ia bertemu dengan Jenderal de Kock di Magelang. Sang jenderal meminta supaya Diponegoro tidak melakukan aksi serangan lagi. Ia pun menolaknya, sehingga berdampak pada pengasingan dirinya ke Ungaran, kemudian Semarang, dan terakhir Batavia. Tidak berhenti disini, ia kembali dipindahkan beberapa kali dari satu tempat ke tempat lainnya, bahkan sampai ke Manado.

        Kutipan Pangeran Diponegoro    

    "Gusti Allah menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan,"
    Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan.
    Den Siro Poro Satrio Nagari Mataram
    Nagarining Jawi Dodot Iro
    Sumimpin Watak Wantune Sayyidina Nagli
    Sumimpin Kawicaksanane Sayidina Kasan
    Sumimpin Kekendelane Sayidina Kusen
    Den seksenono..Hing Wanci Suro
    Londo bakal den siro sirnake soko tanah Jowo
    Krana sinurung Pangribawaning poro Satrianing Muhammad yoiku
    Ngali, Kasan, Kusen
    Siro podho lumaksanane yudho kairing Takbir lan Sholawat
    Yen Siro gugur ing bantala..Cinondro guguring sakabate Sayidina Kusen
    Ing Nainawa...
    Terjemahannya :
    Wahai ksatria negeri Mataram,
    negeri di Jawa tempat aku pegang teguh,
    bersama sifat kepemimpinan Sayidina Ali yg tegas,
    bersama sifat sayidina Hasan yang bijak,
    bersama sifat kepemimpinan sayidina Husein yang gagah berani,
    Wahai saksikanlah.
    Tunggulah nnti di bulan Muharam,
    Belanda akan kita lenyapkan di tanah jawa,
    Dengan kewibawaan ksatria Muhammad yaitu Ali Hasan dan Husein,
    Kita semua akan berperang dengan Takbir dan Sholawat,
    jika kita gugur di medan perang,
    itu adalah tanda laksana gugurnya sahabat Husein di Nainawa